"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Saturday, December 11, 2004

Buku, Keluarga dan Anak


Buku merupakan kebutuhan yang amat penting bagi kehidupan manusia, terutama untuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal ini dikarenakan buku merupakan sumber dari segala pengetahuan. Sebutan buku adalah jendela dunia benar adanya. Sebutan itu bermakna bahwa dengan membaca buku maka kita akan dapat mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia. Dengan kata lain, kita akan lebih mengenal dunia.

Dengan membaca buku kita akan lebih banyak memperoleh pengetahuan tambahan dibandingkan pengetahuan yang kita peroleh di sekolah. Itulah sebabnya, ada orang yang latar belakang pendidikannya rendah tetapi pengetahuannya luas, yang diperolehnya secara otodidak. Dari contoh tersebut kita dapat melihat bahwa buku dapat menjadi penambah pengetahuan kita layaknya bumbu penyedap masakan. Masakan yang telah ada diberi bumbu sehingga membuat rasanya menjadi semakin enak. Demikian halnya juga dengan buku. Dengan membaca buku, pengetahuan kita yang tadinya sudah ada, akan semakin banyak dan sempurna berkat tambahan pengetahuan yang kita peroleh dari buku.

Di era globalisasi ini mau tidak mau sumber daya manusia (SDM) harus ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan SDM adalah melalui buku. Sayangnya minat baca dan belajar masyarakat Indonesia masih rendah, apalagi ditambah dengan masuknya teknologi baru seperti televisi yang juga dapat membuat budaya baca (reading culture) masyarakat kita semakin berkurang. Di sisi lain, budaya menonton (watching culture) justru semakin meningkat. Hal ini disebabkan menonton lebih menyenangkan karena dapat memberikan hiburan, sedangkan membaca terkesan membosankan.

Di samping itu, rendahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia juga karena kemampuan atau daya beli masyarakat yang rendah. Tetapi, pada kenyataannya ada orang yang mampu membeli tetapi tidak suka membaca. Perlu kita sadari bahwa Indonesia menjadi tertinggal akibat tidak gemar membaca. Indonesia jauh ketinggalan dibandingkan dengan Thailand dan Jepang yang saat ini melahirkan manusia-manusia hebat karena masyarakatnya gemar membaca. Oleh karena itu, kalan bangsa Indonesia ingin mengejar ketertinggalannya, maka upaya yang harus dilakukan adalah memperbanyak buku dan membuat masyarakat gemar membaca. Kebiasaan ini harus ditanamkan sejak usia dini pada anak-anak sehingga kebiasaan tersebut dapat membudaya. Dalam hal ini, tentunya peranan keluarga sangat dibutuhkan.



• Manfaat Membaca Bagi Anak

Seperti kita ketahui, pada umumnya anak-anak tidak suka membaca buku. Bagi mereka hal tersebut adalah suatu pekerjaan yang amat membosankan. Mereka lebih memilih bermain sebab lebih mengasyikkan. Mereka masih tidak dapat mengetahui apa manfaat yang diperoleh dari hal yang mereka lakukan. Tentu saja, siapa pun yang menilai, membaca pastilah lebih bermanfaat daripada bermain.

Membaca dapat memperluas wawasan anak tentang dunia dan memenuhi mereka dengan pengetahuan di berbagai bidang. Bahkan, nilai matematika anak dapat meningkat jika mereka menambah waktu untuk membaca.

Menurut Mary Leonhardt, penulis buku Parents Who Love Reading, Kids Who Don’t (Majalah Senior No. 247/9-15 April 2004), ada perbedaan antara anak yang memang gemar membaca dengan yang hanya sekadar mengerjakan tugas membaca. Anak yang gemar membaca cenderung lebih sukses. Leonhardt menyetarakan mereka yang gemar membaca dengan yang suka bermain basket atau memasak. Studi menunjukkan, mereka yang dinilai paling kompeten membaca 144 kali lebih banyak.

Tidak dapat dipungkiri, masih ada sebagian anak (walaupun jumlahnya sangat sedikit) yang masih sangat kecil sudah memiliki segudang pengetahuan umum. Hal itu jelas tak lepas dari banyaknya membaca buku. Contohnya saja ada seorang anak di Amerika yang dapat menghapal semua tokoh politik di negaranya, dari presiden bahkan sampai gubernur negara bagian yang jelas tidak sedikit. Contoh lain adalah anak yang dapat menghapal semua propinsi dan ibukota di Indonesia yang belum tentu semua orang dewasa di Indonesia tahu.

Dari contoh di atas, jelas terlihat bahwa pengetahuan anak yang gemar membaca lebih luas daripada orang dewasa. Hal ini disebabkan daya ingat anak-anak lebih tajam daripada orang dewasa. Itulah sebabnya apabila sejak dini kedua orang tua sudah “melemparkan” buku kepada anaknya, maka tidak perlu ragu lagi anaknya akan menjadi pintar.



• Pentingnya Peranan Keluarga

Keluarga memegang peranan yang penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Keluarga yang dimaksud di sini terutama adalah orang tua. Orang tua berperan dalam mengajar dan membimbing anaknya membaca. Tentu saja buku-buku yang dibaca haruslah dipilih orang tua sebab jenis buku dapat memberikan pengaruh terhadap tingkah laku dan pikiran anak yang masih labil. Saat membaca, orang tua sebaiknya menemani anaknya sambil dapat menjawab pertanyaan yang diajukan si kecil karena rasa ingin tahunya yang besar. Orang tua dapat memberitahu dan menjelaskan kepada si anak sehingga anak dapat mengerti. Di sinilah letak pentingnya peranan keluarga terhadap minat baca anak.

Melalui proses dan waktu tertentu, maka minat baca anak pun akan semakin besar. Nantinya si anak akan terus meminta dibelikan buku oleh orang tuanya. Untuk dapat menumbuhkan minat baca seorang anak, sebenarnya tergantung dari kiat masing-masing orang tua. Tentunya kedua orang tua harus berkorban waktu yang tentunya sangat sedikit dimiliki oleh mereka. Kedua orang tua juga tidak mungkin membiarkan anaknya membaca sendirian karena hanya sedikit manfaat yang akan diperoleh.
Itulah sebabnya mengapa keluarga dikatakan memiliki peranan yang penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Orang tualah yang mengajar, orang tualah yang mengatur, orang tua jugalah yang mendidik dan menemani anak di saat membaca. Intinya, orang tua berperan dalam membangun minat baca anak.



• Makin Pudar

Orang tua zaman sekarang sudah jarang yang mempunyai waktu untuk menemani anaknya membaca. Mereka lebih cenderung menghabiskan waktunya di kantor atau dengan kata lain hanya memusatkan perhatiannya pada karier, sedangkan anaknya hanya diserahkan kepada guru les untuk mengaturnya.

Anak menjadi kuper (kurang perhatian) sehingga minat baca anak tidak dapat berkembang. Sebagian orang tua tidak menyadarinya sebab mereka pikir waktu belajar di sekolah sudah cukup. Anggapan itu jelas salah. Waktu membaca yang disediakan di sekolah sangat terbatas sebab yang dipusatkan di sekolah hanyalah belajar-mengajar dan mengerjakan tugas.

Orang tua cenderung tidak mau tahu dengan keadaan anaknya. Mereka menganggap orang yang bertanggung jawab atas anaknya adalah guru baik di sekolah maupun les. Peranan orang tua terhadap minat baca anak mulai pudar. Itulah sebabnya sekarang kita sudah jarang melihat orang tua yang bersantai di rumah sambil menemani anaknya membaca. Budaya baca di tengah keluarga seakan menjadi hilang.

Hal-hal di atas dapat terjadi karena orang tua kurang menyadari betapa pentingnya membaca bagi anak sejak usia dini. Padahal membaca selain untuk menambah pengetahuan anak juga dapat melatih otak untuk lebih “lincah” dalam berpikir.



• Merangsang Minat Baca Anak

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, banyak cara yang dapat diupayakan oleh orang tua dalam rangka merangsang minat baca anak. Minat baca anak akan tumbuh secara perlahan, sampai akhirnya anak akan mulai menggemari membaca. Banyak kiat/cara yang dapat dilakukan orang tua sebagai “pemandu” antara lain sebagai berikut:

1. Biasakan untuk tidak memberi hadiah kepada anak berupa mainan atau sejenisnya, tetapi gantilah dengan buku-buku sehingga si kecil akan terbiasa untuk membaca buku. Dalam memilih buku, sebaiknya orang tua memperhatikan beberapa faktor seperti jenis buku tersebut (apakah bermanfaat bagi si kecil atau tidak), apakah buku tersebut akan disukainya, apakah ada bakat tertentu yang tampak dari anak (sehingga buku yang dipilih dapat disesuaikan), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan buku dan anak. Janganlah terlalu sering memanjakan anak dengan cerita komik sebab cerita komik selalu berseri (lebih dari 1 buku) sehingga anak tidak mungkin membaca setengah dan akan terus meminta dibelikan edisi selanjutnya. Bila yang dibacanya hanya cerita komik melulu, maka buku lain yang lebih bermanfaat menjadi terabaikan. Hal ini sudah menyimpangkan tujuan semula yaitu minat baca anak menjadi tertuju pada komik. Namun, untuk menumbuhkan minat baca anak, pada awalnya dapat diberikan komik, tetapi orang tua tetap harus mengatur agar frekuensi membaca komik dapat seimbang dengan frekuensi membaca buku pengetahuan. Dengan demikian, minat baca anak akan “terpancing” dan akan semakin tumbuh dan tumbuh.

2. Bila buku yang terkumpul sudah cukup banyak, ada baiknya orang tua membuat sebuah perpustakaan pribadi di rumah. Dengan demikian, suasananya akan lebih menyenangkan dan anak pun lebih tertarik untuk membaca buku, sebab suasananya persis seperti di perpustakaan sekolah.

3. Orang tua juga dapat membawa anak mengunjungi perpustakaan keliling yang dibangun oleh pemerintah. Selain itu, orang tua juga dapat membawa anak mengunjungi pameran-pameran buku seperti yang diselenggarakan PT Gramedia di Tiara Convention Centre baru-baru ini.

4. Orang tua dapat berlangganan majalah atau tabloid yang sesuai dengan usia dan minat anak. Dengan berlangganan majalah dan tabloid, dipastikan anak tidak akan melewatinya sebab anak-anak paling menggandrungi majalah dan tabloid.

5. Yang terpenting pula, orang tua juga perlu mendampingi anak ketika membaca sehingga mereka dapat bertanya apa saja yang tidak dipahami, apalagi ditambah dengan rasa keingintahuan yang besar. Selain itu, orang tua juga perlu mengawasi jenis bacaan apa yang digemarinya. Jika isi bacaan itu bisa membawa dampak negatif, orang tua dapat menjelaskan kepada si anak supaya mereka mengerti bacaan mana yang tidak baik dan mana yang bermanfaat.

Selain cara di atas, masih banyak cara lain yang dapat diupayakan untuk menarik minat baca anak. Tergantung kreativitas orang tua, misalnya untuk membuat anak lebih tertarik membaca buku, orang tua dapat memceritakan/mendeskripsikan tokoh-tokoh dunia yang berhasil karena minat bacanya misalnya Thomas Alva Edison, Albert Einstein dan lain-lain. Dengan demikian, si anak akan terpancing untuk mengikuti jejak tokoh dunia tersebut. Dengan kata lain, tokoh dunia tersebut dapat menjadi teladan bagi seorang anak.

Budaya membaca (reading culture) perlu diterapkan di setiap keluarga. Bahkan, kita harus menganggap buku sebagai “makanan” kita sehari-hari. Semua orang pintar di dunia tak lepas dari kegiatan membaca. Bahkan, kepintaran yang mereka miliki bukan semata-mata karena pengetahuan yang mereka peroleh dari membaca. Buktinya, ada orang yang latar belakang pendidikannya rendah atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Namun, otaknya tetap saja cemerlang. Semua itu bisa terjadi hanya karena satu hal. Membaca!

Betapa pentingnya buku bagi kita. Tanpa buku, takkan lahir orang-orang pintar di dunia ini. contohnya saja, Yohanes Surya, seorang fisikawan terkenal asal Indonesia yang sudah pernah meraih penghargaan nobel. Tak heran mengapa beliau dapat berhasil, tak lain karena satu hal. Banyak membaca! Beliau sendiri juga menulis sebuah buku yaitu “Fisika Itu Mudah”.

Kehidupan kita tidak pernah lari dari buku. Tidak pernah terdengar bahwa ada orang yang rugi karena membaca. Sebaliknya, banyak manfaat yang didatangkan dari membaca.
Budaya membaca (reading culture) harus ditanamkan sedini mungkin pada anak sebab merekalah bibit-bibit unggul yang kelak akan mengangkat bangsa kita dari ketertinggalan. Merekalah generasi penerus bangsa kita. Oleh karena itu, mulai sekarang para orang tua harus mengangkat minat baca anaknya semaksimal mungkin. Bukan saja anak-anak, kita pun harus terbiasa dengan yang namanya membaca. Dengan demikian, kita berharap agar bangsa kita dapat bangkit untuk mengejar ketertinggalan. Semoga!***

Medan, 2004


* artikel ini memenangkan peringkat kelima dalam Kompetisi Esai Nasional 2004 yang diselenggarakan oleh IKAPI Jakarta

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com