"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Sunday, September 17, 2006

Bicara tentang Kegagalan


Rasanya tak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah gagal dan tak ada seorang pun yang suka akan kegagalan. Sering dalam kehidupan ini kita menemukan kegagalan yang akhirnya menghancurkan jerih payah dan harapan ktia. Memang menyakitkan rasanya. Namun, bicara tentang kegagalan, apakah kita sudah mengetahui makna kegagalan yang sesungguhnya?

Segala sesuatu yang kita kerjakan pastilah memiliki kemungkinan gagal. Tidak ada seseuatu pun yang jika dikerjakan akan 100% berhasil. Siapa yang berani menjamin seperti itu?

Untuk itulah, setiap orang pasti berusaha yang terbaik darinya untuk sedapat mungkin terhindar dari kegagalan. Namun, tak jarang ketakutan malah membuat orang mengurungkan niatnya untuk berusaha. Jika demikian halnya, maka orang tersebut pantas diberi predikat pengecut. Betapa tidak? Sebab sebelum mencoba sudah menyerah duluan. Sungguh suatu sikap pesimistis yang tak dapat ditolerir.

Dalam kehidupan remaja, banyak sekali fenomena kegagalan yang ditemukan. Dari sisi akademis misalnya, kita melihat bahwa cukup banyak yang gagal dalam ujian nasional
(UN) beberapa waktu lalu. Banyak yang tak lulus dan harus mengulang kembali untuk kedua kalinya. Tak pelak, banyak yang putus asa dan akhirnya mengambil jalan pintas dengan membuat ijazah palsu. Bisa jadi faktor ini jugalah yang membuat banyak pejabat kita membuat ijazah palsu demi tampak hebat dan mengejar jabatan.

Dalam bidang tulis-menulis (jurnalistik), kegagalan akibat tulisan yang tak dimuat di media cetak telah membuat sebagian remaja menempuh jalan curang, yaitu plagiat. Perasaan malu tak lagi dipedulikan, yang penting tulisannya dapat dimuat dan dapat melihat namanya tampil di media cetak. Ini jelas sama dengan mencuri.

Dalam kehidupan asmara di kalangan remaja, dikenal istilah “patah hati”, yaitu keadaan kecewa dan sedih seseorang akibat gagal mendapatkan cinta dari orang yang dicintainya. Memang berat rasanya patah hati. Itu sebabnya, tak sedikit remaja yang nekad bunuh diri karena tak mampu menahan rasa sakit hatinya itu.

Dari fenomena-fenomena di atas, kita dapat melihat seakan-akan kegagalan itu merupakan setan yang menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang negatif. Kegagalan seolah telah menjelma menjadi sesuatu yang menyesatkan manusia, padahal sebenarnya kegagalan tidaklah mengajarkan hal-hal yang demikian. Ini bisa terjadi akibat kesalahpahaman manusia terhadap makna dari kegagalan. Lalu apa makna kegagalan yang sesungguhnya? Bagaimana seharusnya kita menyikapi kegagalan itu?



• Introspeksi Diri

Nobody is perfect. Ungkapan ini dengan jelas menyatakan bahwa tak seorang pun di dunia ini yang sempurna, termasuk segala sesuatu yang dikerjakannya. Ini berarti bahwa manusia tak luput dari kesalahan. Tak peduli sehebat apa pun manusia itu.

Namun, pada umumnya yang namanya manusia selalu mengelak dari kesalahan. Kegagalan yang terjadi terkadang sengaja ditutup-tutupi supaya tidak diketahui orang lain. Mungkin karena faktor malulah yang membuat manusia bisa berbuat hal seperti itu. Bahkan tak jarang, seribu satu alasan sengaja dilontarkan sebagai penyebab kegagalan, padahal semua faktor itu berpulang kepada diri sendiri. Parahnya lagi, ada pula yang menyalahkan orang lain sebagai biang dari kegagalan yang dialami.
Tindakan ini bisa dikatakan sebagai tindakan yang bodoh sebab tindakan ini sama saja dengan membohongi diri sendiri. Kita tidak perlu malu dalam menerima semua kesalahan, kekurangan maupun kegagalan yang ada. Toh telah dijelaskan bahwa tidak seorang pun yang sempurna di dunia ini. Jadi, mendapat kegagalan adalah suatu hal yang wajar, tak perlu ditutup-tutupi. Justru orang yang tidak mau mengakui kekurangannya adalah orang yang tidak akan pernah maju.

Kegagalan yang dialami menunjukkan masih terdapat kesalahan maupun kekurangan pada apa yang kita kerjakan. Untuk itulah, perlu adanya introspeksi diri guna mencari dan memperbaiki kekurangan yang ada pada diri kita. Mungkin kita pernah mendengar, sekenal-kenalnya orang lain kepada kita, lebih kenal dan paham kita terhadap pribadi kita sendiri. Itu sebabnya ada ungkapan yang menyatakan bahwa guru terbaik adalah diri sendiri karena kita sendirilah yang mampu mengubah segala kekurangan yang ada pada kita, bukan orang lain.

Merefleksi diri bukan hanya dilakukan secara sendiri. Kritik dan saran dari orang lain dapat juga dijadikan sebagai “bumbu penyempurna” dalam membenahi semua kekurangan yang ada. Dalam hal ini, tentulah sikap terbuka sangat diperlukan.
Pada dasarnya, tujuan dari introspeksi diri adalah untuk menghindari terulangnya kesalahan yang sama sehingga sebisa mungkin terhindar dari kegagalan untuk yang kedua kalinya. Introspeksi diri akan dapat membuat seseorang menjadi semakin matang dan maju. Namun, perlu diperhatikan, janganlah karena terlalu banyak kekurangan yang didapati dari diri sendiri, lantas rasa pesimistis timbul karena menganggap diri tak akan mampu berhasil dengan begitu banyak kekurangan yang ada. Ini jelas salah. Bagaimana kita taku kita tak mampu sebelum mencoba?

Kekurangan janganlah dianggap sebagai batu sandungan, melainkan harus dipandang sebagai batu tolakan untuk mencapai keberhasilan. Namun sebelumnya, tentulah kita harus terlebih dahulu melakukan satu hal, yaitu introspeksi diri, bukan dengan cara-cara negatif seperti yang telah diuraikan sebelumnya.



• Kegagalan = Pengalaman

Mendapatkan pengalaman adalah hal yang paling menyenangkan, apalagi jika pengalaman yang didapat adalah pengalaman yang unik, lucu dan berkesan. Nah, bagaimana halnya kegagalan yang pahit seperti kegagalan?

Sering kenyataan pahit itu malah membuat orang kalap dan akhirnya menjurus pada tindakan-tindakan anarkis. Sering juga kegagalan membuat orang mengalami rasa putus asa yang mendalam sehingga down, bahkan mengalami trauma. Terang saja Arief Budiman dalam artikel Rudi Tan beberapa waktu lalu—yang juga bertemakan kegagalan—menyatakan bahwa kegagalan adalah tragedi.

Kita boleh merasa sedih, kecewa karena itu adalah respons yang wajar. Namun, janganlah sampai kita menyesal dengan semua kegagalan yang datang menimpa, sebab sadar atau tidak, sesungguhnya kegagalan adalah guru yang sangat berharga bagi kita.
Dari kegagalan itu, kita bisa belajar banyak hal yang sebetulnya tidak kita duga sehingga membuat kita gagal pada usaha yang pertama. Nah, seiring datangnya kegagalan, kita menjadi menyadarinya dan itulah yang membuat kita tidak akan mengulangi kegagalan yang sama. Itulah sebabnya, Rudi Tan menyatakan bahwa orang yang mengalami kegagalan yang sama untuk yang kedua kalinya adalah orang yang tak belajar dari pengalaman.

Secara tak sadar, pengalaman tersebut telah memperkaya wawasan kita untuk usaha berikutnya. Pengalaman telah menjadi modal, bahkan menjadi faktor utama yang akan semakin meningkatkan kualitas usaha kita yang berikutnya.



• Kegagalan = Tantangan

Kaum remaja umumnya suka tantangan. Begitu ditantang, remaja pasti akan langsung “panas” dan melakukan tantangan tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Mereka merasa dengan memenuhi tantangan tersebut, maka mereka akan tampak sangat jantan dan hebat (pada remaja pria khususnya), apalagi ada yang sengaja ingin memamerkan kemampuan mereka pada teman wanitanya, supaya mendapat simpati.
Lalu bagaimanakah dengan kegagalan? Pada umumnya, bila remaja mendapat kegagalan, mereka akan langsung putus asa dan berhenti berusaha. Bila diminta untuk terus maju, maka mereka akan menjawab dengan kata “malas”!

Sebenarnya, tidak disadari oleh sebagian orang, kegagalan yang terjadi secara tidak langsung telah menantang kita untuk berusaha lebih baik lagi, mengerahkan semua kemampuan guna menggenggam keberhasilan. Karena faktor tidak sadar itulah, kegagalan seakan menjadi bom yang menghancurkan mental, sekaligus menjadi suatu kejadian yang hendak mutlak menyatakan, “Kamu tidak mampu!”

Andaikan saja remaja dapat merespons kegagalan sama seperti merespons tantangan lain yang diajukan. Tentu akan bagus sekali mental para remaja di dalam bekerja/berusaha. Hanya saja janganlah motivasinya untuk pamer, melainkan untuk dapat mengecap keberhasilan.

Semakin sering gagal, berarti semakin berat tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, jangan pernah takut pada kegagalan—seperti judul buku yang ditulis Billy PS Lim, “Dare to Fail”. Takut pada kegagalan berarti takut pada tantangan.
Tantangan dari kegagalan bisa kita anggap sebagai permainan. Semangat kita akan terpacu untuk mengusahakan yang paling optimal. Bila ktia bisa berhasil, berarti ktia telah menang. Menang terhadap kegagalan dan menang terhadap semua tantangan!



• Penutup

Kegagalan tak ubahnya seperti penolakan cinta. Bagi remaja yang pernah ditolak cintanya, pasti bisa merasakan betapa sakit dan kecewanya hati ini. Ada yang bahkan trauma dan tak berani lagi mengejar cewek karena takut ditolak.
Kegagalan juga bisa menjadi jangkar besar yang menimpa diri kita sehingga kita tidak mampu lagi untuk bangkit. Sering kita menjadi takut untuk berusaha lagi, apalagi jika sudah begitu banyak yang kita korbankan. Usaha pun menjadi mentok, dan sama dengan nol.

Tentu kita tidak mau semua pengorbanan itu sia-sia bukan? Untuk itu, berusahalah terus sehingga kita tidak berhenti dengan tangan kosong, melainkan memperoleh segudang kepuasan dan keberhasilan. Jika kita memang mau berusaha, kita pasti bisa melakukannya. Pernyataan ini bahkan sudah penulis buktikan berkali-kali. Berbekal semangat yang tersisa dan kemauan yang keras, terus berusaha hingga akhrinya berhasil.

Mungkin terkadang kita sering menyalahkan Tuhan atas semua kekurangan ktia. Tuhan memang sengaja tidak membuat kita sempurna 100% karena Tuhan ingin kita memperoleh sesuatu dengan jerih payah sendiri. Dengan usaha dan tekad yang keras tentunya. Jika manusia diciptakan sempurna, penulis yakin, manusia pasti akan menjadi makhluk yang pasif.

Kita bisa melihat banyak tokoh dunia terkenal yang sukses berkat kerja keras, bukan secara instan, dan bahkan sering gagal. Bintang sebesar Andy Lau misalnya, pernah mengalami masa-masa suram dalam karier bisnisnya. Sebanyak 2 kali perusahaan yang dia dirikan bangkrut. Dia bahkan pernah putus asa untuk terus berkarier sebagai aktor karena merasa rendah diri. Namun, aktor yang terkenal dengan karakter pekerja keras itu, mampu bangkit dan mempertahankan popularitasnya.

Hans Christian Anderson, tokoh dongeng dunia, juga pernah gagal di dalam bidang tulis-menulis. Karyanya terus-menerus ditolak sehingga ia tidak mempunyai uang lagi untuk menghidupi diri sendiri. Bahkan bunuh diri sempat terlintas di benaknya. Namun, semangat tiba-tiba muncul dan ia terus berusaha hingga akhirnya ia sukses dan menjadi tokoh dongeng anak-anak yang mendunia.

Masih banyak kisah tokoh-tokoh yang bisa kita ambil hikmahnya. Intinya, jika mereka bisa, maka kita juga pasti bisa, sebab kita adalah sama-sama manusia. Yang terpenting adalah kemauan dan usaha.

Sebagai generasi muda, kita harus memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, bermental baja, dan mau terbuka menerima semua kritik dan dan komentar. Jangan pernah takut gagal, sebab gagal adalah akar menuju keberhasilan. Tanamkan pada dirimu, AKU PASTI BISA!

Maju terus, pantang mundur!***

Medan, 2006


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 17 September 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com