"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Tuesday, August 22, 2006

Butuh Sentralisasi Amanat sebagai Darah Seni


(Di Tengah Seni yang Termarginalisasi)

Jumat malam (11/8) lalu, di rumah seni TBSU digelar sebuah pertunjukan “Teater Satu Merah Panggung” yang berjudul Jamila dan Sang Presiden. Dua hari kemudian, di lapangan Lanud AU Polonia Medan juga digelar sebuah pagelaran musik paling kolosal senusantara yang bertajuk “Soundrenaline-Rock United”.

Sekilas pandang kedua pagelaran di atas memang tidak sejalan. Namun bukankah musik dan teater sama-sama termasuk seni? Di sinilah letak ironinya!

Bila kita amati kedua pagelaran di atas, maka yang tampak suatu komparasi yang dalam—sebuah kontras yang sudah menjadi fenomena klasik, yaitu masalah penonton. Pertunjukan teater besutan Ratna Sarumpaet (mantan ketua DKJ) ini pun harus melorot satu jam dari jadwal semula karena kekurangan penonton. Bahkan, yang lebih mengecewakan lagi, hingga acara dimulai kursi penonton masih banyak yang kosong melompong dan penonton yang hadir pun kebanyakan adalah “penonton langganan”. Lebih ekstrem lagi, para pejabat yang bahkan sudah pakai diundang segala tidak satu pun yang menampakkan diri. Padahal, pementasan itu juga mengandung unsur kritik guna menentang UU Anti Pornografi dan Pornoaksi—pesan yang seyogianya harus menjadi perhatian pejabat karena biar teater (fiktif) namun itu juga adalah aspirasi masyarakat.

Keadaan ini jelas beda jauh dengan pagelaran musik “Soundrenaline-Rock United” tersebut. Kendati tiket yang dijual mencapai hingga Rp 25.000, lapangan Lanud AU itu bisa dijejali hingga sekitar 80 ribu pasang mata. Kondisi berdesak-desakan dan jam pertunjukan yang memakan waktu hampir setengah hari tersebut tidak membuat masyarakat malas menontonnya. Bandingkan dengan pementasan teater yang menawarkan kursi dan tiket gratis itu. Jika kita mengambil artis penyanyi sebagai alasan, sesungguhnya pada pementasan teater itu juga ada menampilkan aktris Peggy Melati Sukma. Kendati demikian, pementasan itu tetap tidak dapat menyedot arus penonton dalam jumlah yang signifikan.

Lalu apa yang salah padahal keduanya juga adalah seni? Ratna Sarumpaet menyalahkan publikasi panitia lokal yang tidak terlalu bergema. Bandingkan lagi dengan publikasi pagelaran musik rock yang dapat kita temukan di setiap media informasi, seperti televisi, media massa, spanduk dan papan reklame yang banyak bertebaran di banyak ruas jalan. Ini bisa kita katakan salah satu faktor teknis, tapi ada lagi satu faktor yang sudah menjadi alasan klasik yaitu masyarakat modern yang anti kepada seni tradisional.

Ini memang tidak dapat kita pungkiri. Revolusi zaman ternyata telah ikut menyebabkan revolusi adat masyarakat. Lihat saja apakah di zaman sekarang masih ada cowok yang mengajak ceweknya kencan dengan menonton pertunjukan teater/drama atau pertunjukan tari? Tidak lagi! Itu hanya ada di zaman kakek dan (mungkin) ayah kita. Tradisi itu sekarang sudah dianggap sebagai sesuatu yang kolot. Masyarakat (khususnya remaja) kini lebih menyenangi pergi ke bioskop ataupun menonton konser musik dan pertunjukan modern dance. Lebih keren katanya. Begitulah hasil dari revolusi adat yang ternyata juga telah berdampak kepada revolusi paradigma masyarakat terhadap seni!

Dengan demikian, perlahan-lahan seni pun mulai termaginalisasi. Tentu saja seni yang penulis katakan di sini adalah seni tradisional yang mencakup sendratari dan sastra. Marginalisasi inilah yang berujung kepada alienasi masyarakat terhadap seni dan akhirnya berdampak kepada butanya pengetahuan masyarakat tentang seni. Lalu kita simak kembali pepatah terkenal: tak kenal maka tak sayang bukan?

Coba kita lihat pada masa-masa perjuangan dulu, masa itu boleh dibilang masa emasnya seni (khususnya sastra). Siapa coba yang tidak kenal dengan Chairil Anwar dan puisi Aku-nya? Atau Pramoedya Ananta Toer dengan “Tetralogi Buru”-nya? Begitu dekatnya seni (sastra) dengan masyarakat di zaman dulu, tapi sekarang seni bahkan tak mampu memperlihatkan interes sedikit pun dari masyarakat.

Siapa yang patut kita salahkan? Sulit untuk menjawabnya! Tapi apakah para seniman dan para sastrawan sebagai pelaku seni pernah meretrospeksi seni (karya mereka) itu sendiri sehingga keakraban seni dan masyarakat bisa menjadi retrogesif seperti sekarang?

Penulis kembali teringat pada ucapan Nasib TS—sesama penggiat sastra—yang berkata bahwa sastra sekarang sudah tidak lagi berorientasi kepada pemahaman masyarakat sehingga sastra dibuat seperti hanya untuk dimengerti dan dinikmati sendiri. Bagaimana masyarakat dapat suka dengan sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami? Bukankah reading without understanding is doing nothing? Itulah sebabnya, kita melihat upaya pemasyarakatan sastra seperti menjadi sebuah mission impossible.

Penyampaian sastra tidak lagi memenuhi masyarakat sebagai sasaran. Pada akhirnya, entitas sastra justru menjadi gagal sehingga sastra sebagai pendidik tidak mampu menyampaikan “didikannya” (amanat) kepada masyarakat. Terjadilah miskomunikasi dan sastra menjadi tulisan yang iseng sendiri. Salah satu bukti eviden yang dapat kita rasakan adalah masyarakat ketika membaca koran dan bertemu dengan halaman budaya, akan langsung dibalikkan ke halaman lain.

Ini tidak terjadi hanya pada sastra, melainkan seni secara umum. Ketidakpahaman masyarakat terhadap seni sering kali memunculkan pernyataan: “Lho, yang ini juga karya seni?”. Kalimat-kalimat semacam itulah yang mungkin kerap terdengar saat berlangsungnya “The 5th Medan Experimental Arts Exposition” di TBSU 8—11 Juni 2006 lalu. Hal ini bahkan juga dialami sendiri oleh YS Rat—seorang seniman Medan—saat melihat sebuah sepeda yang digantungkan pada tempat khusus di pelataran depan ruang pameran TBSU (Medan Bisnis, 25 Juni 2006). Melihat penampakan yang sesungguhnya adalah buah karya dari seniman S Handono Hadi, ia lantas teringat dengan hal sama yang dilakukan istrinya yaitu menggantungkan sepeda putranya yang rusak di sisi atas tembok samping luar rumahnya. Persoalannya, tidak ada yang pernah menyebut apa yang dilakukan istrinya sebagai karya seni, juga tidak ada yang menyebut istrinya sebagai seniman. Tak pelak, dalam dirinya muncullah juga pertanyaan: “Lho, yang ini juga karya seni?”.

Entah kenapa memang, seni sekarang seperti sengaja dibuat njlimet, khususnya sastra. Malah dalam perkembangan dewasa ini, penulis melihat dalam dunia sastra Indonesia, seolah berkembang suatu paradigma yang menganggap bahwa semakin njlimet sebuah karya sastra, maka semakin bernilai pulalah karya sastra itu. Justru menurut penulis, bagus tidaknya sebuah karya sastra bukan dinilai dari njlimet-nya (metaforanya yang kadang bikin pikiran berlipat-lipat), bukan pula pada estetika/puitisnya. Sastrawan Idris Pasaribu juga menyatakan bahwa masalah estetika tidak dapat dibanding-bandingkan antara satu karya dengan yang lainnya sebab setiap karya memiliki konsep dan warna yang berbeda (Analisa, 18 Juni 2006). Oleh karena itu, tidak pernah ada kata “lebih...” dalam dunia seni, sebab semua karya pada dasarnya adalah bagus sejauh dapat menyampaikan amanatnya kepada masyarakat sebagai sasaran penciptaan karya sastra/seni. Itulah baru dinamakan karya sastra yang berhasil.

Lihat penyair-penyair seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail dan WS Rendra yang puisinya selalu terkesan sederhana, namun amanat yang disampaikan begitu dalam dan mudah dipahami. Penulis yakin bila puisi-puisi semacam itu disodorkan kepada masyarakat, mereka pasti akan dapat menikmatinya dengan baik. Contohnya saja teman penulis yang sama sekali buta soal sastra, tapi begitu membaca puisi Satu karya Soetardji Calzoem Bahcri dan Aku karya Chairil Anwar, ia langsung terpukau oleh maknanya dan berseru: “Bagus!”

Dalam genre cerpen, kita juga bisa melihat karya-karya seperti Dua Lelaki yang Tersenyum dari Herman KS, Langkah Kaki Azzura dari Aishah Basar dan Kado Istimewa dari Jujur Prananto. Tiga contoh cerpen yang hampir tidak menggunakan metafora sama sekali, namun di balik kesederhanaan ceritanya yang mengalir stabil, cerpen itu justru tampak begitu indah dengan amanatnya yang menyentuh.

Maka, kita dapat melihat bahwa biar tanpa metafora sekalipun (tidak njlimet), sebuah karya seni—terutama sastra dan teater—juga dapat dikatakan bagus, karena sesungguhnya tanpa kita sadari, sebuah karya seni juga memiliki inner beauty yaitu pesan dan makna yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana yang kita tahu, seseorang justru tampak cantik sejati oleh inner beauty-nya daripada kecantikan fisiknya semata. Begitulah juga dengan seni.

Untuk itu, dalam penciptaan karya seni jangan ada lagi yang berpatokan pada estetikanya dan njlimet-nya (bukan berarti harus diabaikan!), tetapi harus fokus kepada amanat sebagai darah seni. Penciptaan karya seni harus berorientasi pada pemeo a life with art is a life with smart, yang bermakna entitas seni adalah untuk mencerdaskan kehidupan, sehingga seni dapat menjadi satu alternatif dalam mendidik masyarakat di tengah kekacauan kondisi sosial politik Indonesia. Itulah hakikat eksistensi seni!***

Medan, 22 Agustus 2006


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 01 Oktober 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com