"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Tuesday, April 25, 2006

Kejatuhan Makna Eksistensi Wanita


Demoralisasi bangsa Indonesia ternyata sedikit-banyak juga berimplikasi pada jatuhnya nilai eksistensi wanita masa kini. Nilai wanita dewasa ini cenderung hanya dianggap sebagai komplemen oleh pria sehingga kegunaan mereka hanya berlaku sesaat. Itulah sebabnya di kehidupan saat ini banyak sekali diwarnai dengan eksploitasi terhadap kamu wanita, sebuah perusakan terhadap martabat wanita yang sudah susah payah dibangun pada masa kolonialisme.

Jika menilik kenyataan sekarang ini, maka orang yang pertama sekali akan sakit hati adalah RA Kartini. Fenomena yang terlihat sekarang jelas membuat jerih payah Kartini sia-sia. Hasil pendobrakan yang dilakukan beliau yang seharusnya dijunjung tinggi dan dilestarikan malah dirusak oleh wanita itu sendiri, tak terkecuali kaum pria.

Lihat saja betapa kaum wanita dilindungi oleh negara dengan adanya RUU Anti-pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) dan UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sementara untuk kaum pria sama sekali tak ada. Ini berarti wanita sudah dipandang semakin rendah oleh pria dan hanya dijadikan sebagai ajang kreasi negatif, semisal fotografi pornografis. Namun apabila semua ini dilakukan atas dasar suka-sama-suka, maka siapakan yang patut disalahkan? Suatu paradoks yang mencemarkan mandat mulia dari Kartini.

Kedua langkah protektif yang ditempuh pemerintah—yang sesungguhnya khusus untuk RUU APP sangat sulit (bahkan tak mungkin) untuk diimplementasikan—juga menjadi sebuah refleksi dari ketidakberdayaan wanita. Di samping itu, kedua konsensus ini hanya akan semakin memperjelas ke permukaan borok bangsa ini yang sebetulnya hanya dapat ditanggulangi dengan inisiatif pribadi, bukan dengan hukum yang entah kenapa tidak mempan lagi sekarang ini.

Memang, penderitaan yang dialami telah membuat sebagian perempuan merasa kecewa hidup dengan gender tersebut. Jika kita bertanya kepada kaum wanita, maka akan sering kita jumpai pernyataan-pernyataan: “memang susah hidup jadi perempuan” atau” lebih enak jadi laki-laki daripada perempuan”.

Wajar saja jika ada wanita yang berkata demikian sebab merosotnya nilai wanita zaman sekarang sudah membuat wanita merasa malu menjadi dirinya sendiri. Pada galibnya, selalu saja wanita yang dicemooh. Misalnya saja, kenapa selalu keperawanan wanita yang dipertanyakan? Lantas pria sendiri bagaimana?

Penulis sangat terkesan dengan puisi Hasan Aspahani yang berjudul “Puisi Pertama: Tangis Hawa” (Harian Kompas, 26 Februari 2006).

tangis Hawa adalah puisi pertama
sebab Adam yang sendiri
tak pernah dapat tuntas menafsirkan maknanya


Dengan hanya 3 baris, puisi ini sungguh amat sangat indah dan menyentuh. Secara implisit, penyair ingin menunjukkan betapa menderitanya perempuan hanya karena pria yang tidak mampu memahami makna eksistensi wanita di dunia. Lewat puisi ini, penyair juga menunjukkan penentangannnya terhadap kekerasan pada perempuan. Dengan menggunakan metafora yang begitu “keras” yaitu Adam dan Hawa—menyatakan bahwa penderitaan yang terjadi sudah berlangsung begitu lama, puisi ini juga ikut menjadi sebuah tamparan keras buat pria yang sesungguhnya dianggap penyair tidak tahu diri. Hal ini dibuktikan dengan larik sebab Adam yang sendiri, di mana wanita yang pada hakikatnya diciptakan untuk hidup dempang dengan pria—yang jika tanpa wanita tidak akan berarti apa-apa—malah tak dihargai dan disakiti (secara fisik maupun psikis).

Lalu mari kita simak lagi permainan matematis berikut:

girl = time x money; sebab demi wanita harus dikorbankan waktu dan uang. Lantas karena time is money (time = money), maka persamaan tadi dapat kita tuliskan menjadi:

girl = money x money sehingga girl = (money)2

Uang adalah akar dari kejahatan, maka money = √evil. Dengan demikian:

girl = (√evil)2
girl = evil


Sebuah turunan matematis yang cukup menggelitik, yang hanya disusun dari realitas-realitas yang ada dalam kehidupan nyata. Tapi apakah betul bahwa wanita sama dengan setan—yang bersifat menyesatkan dan menjerumuskan? Tentu tidaklah mengerikan seperti itu. Namun yang jelas, rangkaian persamaan ini telah menjadi gambaran wanita modern yang telah ambruk, yaitu pemuja hedonisme yang kini telah menjadi paradigma umum bagi para pria. Hal ini jugalah yang menyebabkan para pria mudah melancarkan eksploitasi terhadap wanita dengan hanya bermodalkan “kas” tebal. Dalam kasus seperti ini, wanita hanya dimanfaatkan sebagai “mainan” dan setelah itu pun ditelantarkan.

Eksistensi wanita yang sudah terkontaminasi oleh segudang pelecehan ini tentu tak dapat dibersihkan dengan sekadar sosialisasi. Jika ini berlangsung terus, bukan tak mungkin kaum perempuan akan kehilangan martabat dan harkat kewanitaannya. Dan pada saat itu, terbuktilah apa yang dinyatakan rumus tadi, bahwa girl = evil!

Namun setidaknya, ada 2 nilai yang masih bisa dilekatkan pada wanita yaitu wanita adalah cinta dan wanita adalah derita. Dua nilai yang kontras sekali kontradiksinya!

Wanita dikatakan cinta karena wanita memang makhluk paling boto di dunia. Itu sebabnya pria selalu menyukai yang namanya wanita (entah luar entah dalam). “Cinta” ini jugalah yang merupakan pangkal dari pernyataan wanita adalah sumber kebahagiaan. Untuk itulah seyogianya “cinta” ini harus dipelihara. Itulah tujuan yang paling mendasar dari eksistensi seorang wanita.

Lalu pasangan seberangnya, derita, predikat inilah yang bermuara pada tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Di samping itu, kehidupan glamour bercorak seks yang sudah mengakar di malam hari semakin memperburuk imej wanita. Makanya masyarakat cenderung rongseng bila berbicara soal PSK. Tapi apakah semua ini atas dasar sengaja?

Penulis masih mengingat puisi M Yunus Rangkuti yang berjudul “Malam” (Harian Analisa, 19 Maret 2006):

seribu kelelawar liar lapar menyambar
kupu-kupu jelang terbang merangsang
ada reranting dan buah jatuh merapuh
ada sosok-sosok terperosok
terkubur kubang berlumpur
luka dosa berbaur


Puisi potret kehidupan malam yang dikemas dengan permainan kakofoni ini menceritakan tentang dua hal, atau lebih cocok kita katakan sebagai penyebab mengapa wanita sampai mau terjun dalam dunia gelap. Ada reranting dan buah jatuh merapuh/ada sosok-sosok terperosok menggambarkan di satu sisi wanita mau melakukan karena terpaksa sebab tak mampu melawan kerasnya zaman dan di sisi lain wanita terpaksa menjalani karena dijerumuskan.

Puisi ini hendaknya bisa mendinginkan amarah masyarakat tentang PSK. Tak ada wanita yang suka menjadi PSK. Namun masalahnya, manusia yang utuh-tangan-kaki mengapa sampai harus memilih pekerjaan seperti ini. Bukankah ini sama dengan merobek citra dari wanita itu sendiri, dengan kata lain “senjata makan tuan”?

Betapa sedihnya bila Kartini sampai melihat realitas ini. Perjuangan beliau serasa menguap begitu saja, namun di zaman modern ini tak ada satu Kartini pun yang melanjutkannya. Habis terang datang, maka gelap pun kembali mengkilap, jauh dari cita-cita humanisme yang telah berhasil direngkuh beliau.

Sebagai wanita muda, deklinasi nilai wanita mungkin menjadi beban dan/atau pukulan tersendiri. Maka dari itulah, perlu ada pendobrakan sekali lagi, bukan lagi bertema pada kesetaraan hak dalam gender, tapi lebih kepada mengangkat nilai eksistensi wanita yang sudah jatuh jauh ke dalam sumur kehidupan.

Jangan lagi menjadi sepah yang habis dikeruk manisnya lantas dibuang, tetapi jadilah terang yang benar-benar mampu membuat silau kaum pria, artinya segan dan hormat sehingga tak lagi menganggap wanita sebagai pembawa mudarat

Zaman modern bukan lagi ajang untuk berlemah-lemah tetapi adalah ajang untuk menunjukkan diri sebagai wanita yang tidak dapat digilas oleh apa dan siapa pun. Ketegasan hidup perlu dimunculkan lagi demi memanggil kembali nilai eksistensi wanita yang lebih mulia dan kaya makna. Kini para wanita sedang menunggu inkarnasi Kartini baru, seorang figur langka yang akan menjadi papan tolak pendobrakan modern. Para wanita, kamulah yang akan mewujudkannya!***

Medan, 25 April 2006


* artikel ini pernah dimuat di Harian Analisa (Medan), tanggal 30 Oktober 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com