"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Saturday, March 24, 2007

Ketika Harkat Manusia Terletak pada Tubuhnya


(Dari Pameran Lukisan “Harkat Tubuh” One Arifin)

Fungsi dari seorang seniman adalah memberi harkat pada karya seni yang dihasilkannya. Harkat itulah yang pada akhirnya memberi fungsi pada sebuah karya seni untuk menjadi media refleksi yang patut dipahami keberadaannya. Proses ini akan melahirkan apresiasi sekaligus pengakuan terhadap harkat yang pada hakikatnya adalah dialog batin yang dituangkan dalam berbagai media ekspresi.

Salah satu media ekspresi itu adalah kanvas yang menjelma menjadi lukisan. Jika dibandingkan dengan karya seni lainnya semisal teater/drama, lukisan amat sangatlah sederhana sebab lukisan bisa dikatakan hanya sebagai fragmen lain dari suatu teater/drama. Akan tetapi, kesederhanaan itu bisa saja menjelma menjadi kerumitan yang sangat sulit untuk dipahami apabila harkat tadi lahir dari kompleksitas batin pelukisnya. Kita tentu masih ingat bahwa untuk menerjemahkan senyum Monalisa saja, komputer bahkan bisa menghasilkan 4 hingga 5 jawaban ekspresi.

Persoalan harkat juga melekat pada tubuh manusia yang dewasa ini hanya dikagumi sebatas melalui birahi. Padahal, tubuh sebagai karya seni Sang Pencipta juga memiliki hasrat yang luar biasa mulianya. Begitulah kesan penulis terhadap pameran lukisan One Arifin dengan tema “Harkat Tubuh” yang diselenggarakan Galeri Medan Seni Payung Teduh tanggal 18—31 Maret 2007 bertempat di Jalan Belat Nomor 101 Medan.

Pada pameran ini, yang menjadi harkat dari lukisan adalah harkat dari tubuh itu sendiri. Sanggam Situmorang dalam pengantarnya menyebutkan: menghargai tubuh lebih mulia merupakan tujuan dari karya-karya yang dipamerkan. Intinya, pameran ini memang telah berperan dalam memunculkan harkat tubuh yang selama ini tidak disadari manusia, sekaligus memutuskan bahwa tubuh adalah ruang komplekitas yang memiliki nilai refleksi tinggi.



• Tentang One Arifin

Pelukis kelahiran Tebing Tinggi, 01 Februari 1981 ini mengaku dirinya beraliran impresionis. Tidak ada alasan khusus yang membuatnya memilih terjun ke dunia melukis kecuali hanya mengikuti pendiriannya semata. Karena terlanjur suka dengan “dunia kanvas” ini, maka ia pun belajar di Sanggar Rowo Tanjung Morawa setelah mendapat informasi dari temannya.

Hingga kini, Arifin telah 10 tahun berkiprah sebagai pelukis. Pameran ini juga sekaligus merupakan pameran ke-10 dan semuanya diselenggarakan masih terbatas di Medan. Saat ditanya berapa lama waktu biasanya dibutuhkan untuk menyelesaikan satu lukisan, ia dengan terbuka menjawabnya 3 hari.

Satu hal yang paling membanggakan darinya adalah ia merupakan seorang keturunan Tionghoa. Di Indonesia, berapalah orang Tionghoa yang mau untuk bergelut di dunia seni. Jangankan untuk memilih berkarier di jalur itu, jumlah yang tertarik dengan seni saja pun masih dapat dihitung. Maka, kemunculan One Arifin sebagai seorang pelukis Tionghoa perlu terus didukung. Apalagi keadaan fisiknya yang tidak sempurna (cacat tangan sebelah kiri) tidak membuatnya putus asa dan menyerah. Keberaniannya untuk mengekspesikan diri patut dikagumi sebagai keluarbiasaan, sebab realita di mana orang Tionghoa yang cenderung selalu dihina, tidak membuatnya merasa rendah diri. Ini mungkin adalah hasil pemahamannya yang matang tentang harkat tubuh yang bukan diukur dari bentuk, tetapi pada apa yang dapat disampaikan lewat sebuah kesederhanaan.



• 17 Lukisan

Pameran ini menampilkan sebanyak 17 lukisan tertanggal dari tahun 2006 sampai 2007. Meski tema pameran ini adalah “Harkat Tubuh”, tetapi tentu saja tidak semua lukisan mengangkat soal tubuh. Ada sebagian yang mengangkat soal kebudayaan, tepatnya kebudayaan Cina.

Ke-17 lukisan itu antara lain: Pemain Kecapi (2006), Sin Siu (2006) yang adalah gambar keponakannya, Joget Yuk (2006), Jelita (2006), Torso I (2006), Torso III (2006), NA Hadian (2006), Rita (kekasihku) (2006), Cap Go Meh (2006), Mama (2007), Pertunjukan Barong (2007), Wayang (2007), Hasrat (2007), Guan Kong (2007), Si Merah (2007), Figure (2007) dan Urban (2007).

Lukisan yang terakhir disebut ini cukup menampakkan sisi lain dari kehidupan perkotaan yang identik dengan penderitaan. Lukisan dengan latar biru gelap ini menggambarkan uang yang beterbangan dengan dua kelompok manusia di dalamnya, di mana kelompok manusia yang satu tampak sedang mengalami pergulatan antarsesama, sementara kelompok yang lain menggambarkan seorang ibu dengan setengah badan terendam air sambil menggendong anaknya. Ini merupakan gambaran tentang penderitaan urban yang di satu sisi memerlukan uang (penderitaan oleh sebab uang) dan penderitaan non-uang di mana konsep penderitaan itu adalah bagaimana bertahan nyawa di tengah guncangan bala bencana.

Dukungan terhadap seorang sastrawan yang tengah mengalami masa kritis juga disampaikan Arifin lewat lukisan NA Hadian. Lukisan ini tampak begitu menyedihkan dengan latar warna kuning (yang menggambarkan suasana kritis) dan NA Hadian sendiri terlukis dengan wajah dan rambut yang begitu tidak terurus. Meski Arifin mengaku dalam melukis tidak berpatokan pada warna, namun “indikator” warna yang dihasilkannya selalu dapat menunjukkan keadaan sebenarnya, seperti warna biru gelap pada Urban dan kuning pada NA Hadian. Maka yang bisa dirasakan di sini adalah lukisan-lukisan Arifin yang begitu murni.

Ide untuk melukis NA Hadian ini bukannya timbul spontan tanpa latar belakang. Menurut cerita pelukis berkacamata ini, semua berawal ketika NA Hadian menawarkan buku antologi puisinya secara langsung kepadanya. Dari sinilah perkenalan akhirnya semakin berkembang. Hingga akhinya saat NA Hadian akan dilukis oleh Arifin, ia malah jatuh sakit sehingga untuk memberikan sebuah dukungan padanya, Arifin pun terpaksa melukis NA Hadian dalam keadaan kritis. Lukisan ini sengaja dibuat untuk menghindari kealpaan terhadap NA Hadian sehingga dalam pameran ini profilnya turut diangkat supaya menjadi suatu apresiasi terhadapnya.

Apa yang dilakukan Arifin tentunya sangat menggugah kita sebagai sesama insan seni. Sebab katanya, “Seorang sastrawan janganlah sampai meninggal dulu baru dihargai”. Kini, sang “presiden puisi” benar-benar telah menghadap Sang Khalik. Semoga saja dedikasinya yang begitu luar biasa terutama dalam bidang puisi tidak ikut pergi dari benak kita. Masih perlu sebuah penghargaan untuk beliau!

Dalam melukis, kehidupan pribadi Arifin turut pula dikritisinya. Ini tampak dari lukisan Si Merah, sebuah penampakan wajahnya yang dibalut dengan warna merah gelap; Figure yang menggambarkan keadaan yang sejujur-jujurnya atas fiisik dirinya; dan yang paling menarik adalah Rita (kekasihku) yang menggambarkan seorang wanita telanjang tanpa kepala yang “disalibkan”. Lukisan ini benar-benar begitu kental akan rasa putus cinta.

Sebagai seorang Tionghoa, Arifin juga tidak lupa melestarikan budayanya. Kekagumannya terhadap dewa ia lukiskan dalam Guan Kong. Ada juga Wayang dan Pertunjukan Barong sebagai budaya Cina yang pernah dibelenggu cukup lama, ia tampilkan sebagai wujud kelestarian budaya Cina yang kuat. Terakhir adalah Jelita dan Joget Yuk yang menggambarkan tarian dari wanita-wanita Cina klasik.

Dari semua lukisan Arifin, ada satu keunikan yang menjadi ciri khas dari Arifin. Ia jarang mengikutsertakan gambar kepala dalam lukisannya, seperti pada lukisan Torso I, Torso III, Figure dan Rita (kekasihku). Menurutnya ini sudah menjadi prinsipnya karena ia berpandangan bahwa tidak ada yang membedakan manusia. Untuk itulah ia lebih fokus kepada tubuh sebagai harkat tertinggi.

Ketika ditanya lukisan mana yang paling disukai, Arifin menjawab Mama. Alasannya orang tua merupakan objek yang paling bisa diangkat karena dekat sehingga dengan melukis demikian, ia bisa merasa lebih dekat dengan orang tuanya. Di dunia ini cukup banyak pelukis yang mengangkat orang tuanya sebagai objek lukisan. Salah satunya adalah Whistler’s Mother (1871) karya James McNeill Whistler yang melukis ibu kandungnya sendiri, Anna McNeill Whistler. Contoh lain adalah Mother’s Love dalam sudut pose yang hampir sama, dilukis oleh Rachelle Siegrist yang didedikasikan untuk ibunya dan semua ibu yang secara terus menerus menumpahkan kasih kepada anak-anaknya. Ini dapat diartikan bahwa seni juga dapat menjadi media penghargaan yang konkrit.

“Seni memang mempunyai tujuan,” itulah yang dikatakan Jhonson Pasaribu. Untuk itu, seni tidak hanya sekadar berkutat pada masalah estetika semata tetapi mesti mengarah kepada suatu bentuk pembelajaran dan kajian kepada tujuan tersebut. Hasil dari kajian itulah yang menunjukkan refleksi dari seniman itu. Katakanlah Arifin yang rela membawa semua lukisannya jauh-jauh dari Tebing Tinggi demi pameran ini. Usahanya ini telah membuktikan bahwa tema yang ia pilih pada pameran ini benar-benar bukan cuma estetika semata, melainkan ada sebuah aplikasi yang dapat ditunjukkan. Itulah harkat tubuh yang perlu kita hargai dari seorang One Arifin!***

TII-Burjamhal, 24 Maret 2007


TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com