"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Tuesday, March 06, 2007

Pacaran Butuh Karakter


Setiap orang yang pacaran pasti berharap kalau hubungannya bisa langgeng. Makanya, pacaran itu jangan yang asal-asalan, yang cuma tahu rayu-belai tapi masih lirik kanan-kiri. Mesti ada tekad dong baru bisa kokoh, atau istilah lainnya bangunlah konsep pacaran yang benar-benar punya karakter!

So, jangan pernah menganggap bahwa pacaran itu sesuatu yang mudah. Kalau yang mudah sih “nembak”-nya doang, tapi mempertahankannya itulah yang sulit. Meminjam bahasa orang gombal, pacaran itu bisa-bisa segenap jiwa dan raga pun dipertaruhkan.

Di zaman yang serba mudah ini, pacaran secara tidak langsung juga terpengaruh dan tumbuh menjadi lebih variatif. Ada pacaran yang tumbuh di atas dompet, ada pacaran yang tumbuh di atas seks, ada pacaran ala teman, ada pula yang pacaran tanpa dasar apa-apa. Kalau yang terakhir ini sih paling-paling cuma mau ngambil prestisenya doang, soalnya menurut parameter modern yang lazim di kalangan remaja saat ini, “kapabilitas” seorang remaja baru diakui dan dihormati kalau remaja tersebut sudah punya pacar. Pertanyaannya: kalau pacarannya kagak ada arti, buat apa segala hormat, prestise dan tepuk-sorak lainnya? William Jones mengatakan: hidup yang berharga adalah hidup yang digunakan untuk sesuatu yang bermakna abadi. Maka pertimbangkan saja, apa pacaran yang dijalani sudah membikin hidup jadi lebih hidup atau belum.

Konsep pacaran yang paling baik sesungguhnya adalah pacaran yang tumbuh atas dasar natural, maksudnya apa adanya. Pacaran itu ibaratnya adalah penyatuan kutub positif dan negatif, yang artinya kekurangan dan kelebihan yang ada saling melengkapi. Untuk itu, antara sesama pasangan seharusnya tidaklah menuntut satu sama lain. Bukan karena disarankan cinta itu untuk menjadi terlalu sederhana, tetapi bukankah lebih berkesan jika segalanya dilakuan atas dasar inisiatif?

Ya, inisiatif! Karakter yang satu ini sangat penting buat ditanamkan dalam pacaran. Fungsi pacar sejatinya bukan hanya tok sebagai pendamping (komplemen), tetapi sekaligus juga sebagai penghibur dan penenang batin. Seorang pacar juga sering dikatakan sebagai belahan jiwa (soulmate) dari pasangannya. Ini bukan cuma sekadar bahasa puitis, tetapi ungkapan ini mempunyai arti bahwa seorang pacar sudah seyogianya memahami sifat, karakter dan keinginan dari pasangannya. Di sinilah peran krusial seorang pacar dalam memenuhi semuanya secara inisiatif, bukan dengan cara diminta atau dirayu-rayu terlebih dahulu. Ini baru namanya pacaran yang aktif dan punya komunikasi batin yang kuat.

Hanya saja, untuk berlaku inisiatif ini sendiri, agak susah buat seorang cewek. Entah kenapa, cewek selalu berpikiran kalau ia lebih tinggi derajatnya dari seorang cowok. Akhirnya karena pemikiran inilah cewek menjadi enggan untuk memulai duluan dan hilanglah karakter inisiatif tadi. Katanya, kalau cewek yang mulai duluan itu artinya murahan.

Seharusnya bila sudah pacaran, jangan ada lagi gap di antara keduanya. Masing-masing sudah harus mengerti bahwa keduanya adalah sama kedudukan dan derajatnya sehingga tidak ada lagi yang menjadi “budak” pasangannya. Ingatlah selalu bahwa cintalah yang harus menguasai keadaan, bukan keadaan yang menguasai cinta.

Selain inisatif, dalam pacaran juga butuh saling percaya yang kuat antarpasangan. Percaya atau tidak, semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan menjawab satu kata: percaya. Artinya harus selalu yakin dengan pasangan sendiri dan dengan usaha bersama dalam menjalani pacaran itu sendiri. Ini akan menciptakan satu jalinan jiwa yang tegar manakala sesekali badai datang mencobai. Malah, kepercayaan itu lebih jauh akan melahirkan semangat yang lebih besar untuk menempuh dan menghadapi badai itu sendiri.

Bagaimanapun, pacaran itu pasti punya resiko. Resiko yang paling besar ya putus, alias kehilangan pasangannya. Makanya demi menjaga “kepemilikan” ini, ada orang yang sampai manjain banget pasangannya sampai-sampai bulan-bintang pun dipersembahkan. Tujuannya sih baik, buat menjaga perasaan pasangan supaya tetap cinta, tetapi caranya itu yang salah. Melindungi perasaan pasangan sih boleh-boleh saja. Tapi jangan dong sampai nggak betulan atau berbohong segala. Nggak mulia lagi, apalagi buat seorang cowok. Tegas saja pada faktanya supaya perkataan kamu itu nggak dicap “mencla-mencle” sama pasangan. Ini memang nampak sepele. Tapi gaya pacaran yang tidak tegas itulah yang akhirnya malah sering menjatuhkan hubungan itu sendiri.

Contoh sederhananya saja, kalau pada kasus seorang cewek yang menanyakan kepada cowoknya apakah masakannya enak atau tidak, jawab apa yang paling bagus buat si cewek? Di sinilah bentuk ketegasan itu harus ditampakkan. Kalau faktanya memang tidak enak, ya jujur saja pada kenyataaanya, daripada berbohong tapi hati berontak. Itu malah sama saja dengan mengkhianati pacar sendiri.

Setidaknya kalau jujur, itu pasti akan memberikan efek positif buat perkembangan ke depannya kelak. Dan pada kejujuran seperti ini, tidak perlu sampai melecutkan emosi segala. Justru dalam pacaran itu, kekurangan yang ada adalah untuk dipahami dan kelebihan yang ada untuk dibagi. Lagipula, tegas bukan berarti tak sayang, bukan? Bahkan, ketegasan itu adalah sebuah sikap bijak yang secara implisit menyimpan maksud yang baik, yaitu mendidik.

Maka, mulai sekarang pahamilah bahwa pacaran itu bukan hanya asal jadi, asal jalan, tapi di luar itu masih ada tanggung jawab yang besar buat diemban. Dan pacaran itu bukan cuma sekadar tanggung jawab perasaan, namun juga mencakup tanggung jawab praktis.

Tanggung jawab perasaan sudah tentu berbicara tentang kebahagiaan berdua, sementara tanggung jawab praktis adalah berbicara tentang kelanggengan hubungan. Kedua tanggung jawab ini tidak bisa diterima dengan serta merta tanpa aturan. Ibarat manusia dengan budayanya, tanggung jawab pacaran juga harus berjalan di koridor pedoman yang dibina melalui karakter. Kalau pacaran tanpa karakter, bisakah dijelaskan apa yang sedang dijalani dalam pacaran? Konstan dan tidak berwarna.

Kunci sukses-dinamis dalam pacaran adalah bagaimana menyiasati keadaan dengan karakter dan ini bisa dilakukan dengan kontribusi dari kedua pihak untuk saling mendukung. Dengan demikian barulah ini bisa memberi warna dan konsep pacaran yang jelas. Dan bila semua ini telah dijalani, barulah dapat disadari, bahwa ternyata pacaran juga butuh manajemen, tepatnya manajemen karakter!***

Medan, 06 Maret 2007


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 09 Desember 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com