"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Sunday, July 19, 2009

Fotografi: Seni tentang Memotret Sebuah Kefanaan


“The two most engaging powers of a photographer are to make new things familiar and familiar things new” — William Makepeace Thackeray (1811—1863)


Fotografi sejatinya adalah suatu pekerjaan tentang lalu lintas mata yang benar. Seni ini selalu berusaha untuk mendefinisikan setiap perubahan yang terjadi, ketika orang lain sudah mengabaikan atau bahkan melupakan itu. Bagi seni fotografi sendiri, setiap perubahan adalah kesempatan yang baru, seni yang baru, bahkan makna yang baru. Ia tidak pernah sengaja dirancang (atau dipaksa) untuk menjadi sempurna, tetapi sesungguhnya ia sudah sempurna sejak kesempatan itu mengubah sudut pandang sang fotografer, bukan sudut pandang kamera!

Mungkin saya termasuk salah seorang dari sedikit yang mempunyai perhatian khusus terhadap fotografi. Seni yang mulai berkembang di Indonesia pada akhir abad ke-18 ini, bisa dibilang masih belum mendapat tempat yang istimewa di kalangan masyarakat, terutama para explorer seni. Kebetulan, seni fotografi merupakan bagian dari cabang seni rupa yang paling muda. Namun satu hal yang nyata, fotografi adalah salah satu cabang seni yang memiliki unsur intrinsik terdalam, karena ia punya parameter yang berhubungan dengan keabadian-dari-kefanaan. Konon, semakin perishable suatu fotografi, maka semakin bernilai dan berkualitaslah fotografi tersebut. Artinya, suatu fotografi tidak bisa dinilai dari visualisasinya belaka, bahkan jika pose dalam fotografi tersebut dilakukan lagi sampai berulang-ulang.

One moment for a lifetime! Konsep ini membuat saya memandang fotografi sebagai filateli potret kehidupan. Prinsipnya bertentangan dengan ambiguitas dalam sastra. Dalam fotografi, semakin banyak yang bisa diceritakan dari sebuah karya, maka fotografi itu dikatakan semakin mendekati “nyata”. Jadi, peralatan dan media yang terus berinovasi hanya merupakan perkembangan teknologi fotografi semata, tidak mewakili perkembangan seni fotografi itu sendiri. Secara fundamental, dinamis atau tidaknya sebuah seni ditentukan dari kemampuan seniman (dalam hal ini fotografer) untuk memaksimalkan seni itu sendiri, bukan memaksimalkan medianya.

Ada sekitar 10 cabang dan 10 aliran dalam seni fotografi yang dijadikan segmen khusus oleh fotografer tertentu. Saya sendiri tidak pernah berpikiran untuk menganut satu aliran tertentu dalam berkarya karena saya tidak pernah memandang diri sebagai seorang fotografer, tetapi lebih kepada pribadi-mutlak. Bagi saya, terlalu sederhana bila fotografi hanya disebut sebagai hobi karena saya melakukan ini tidak sebagai kesenangan. Fotografi mempunyai suatu tanggung jawab ekspresif yang butuh perhatian penuh, sehingga saya lebih suka jika menyebut fotografi sebagai insting seni saya. Insting ini bisa menghasilkan dorongan yang kuat, ketika saya berada pada kondisi dan posisi yang tepat.

Sejauh ini, saya belum banyak menghasilkan karya fotografi. Media yang saya gunakan juga masih sebatas kepada kamera ponsel, dengan fitur-fitur efek umum (seperti sepia dan black & white) yang memang sudah tersedia di dalamnya. Saya juga tidak pernah sampai melakukan olah digital atau sejenisnya, apalagi sampai pada publikasi dan aktivitas komersial lainnya. Dari aspek jumlah juga saya belum dapat dikatakan produktif. Banyak keterbatasan yang membuat saya harus menahan gejolak kreasi, meskipun sudah banyak ide yang menjalar minta “disenikan”. Terlepas dari semua itu, saya selalu mengingat apa yang dikatakan oleh Ansel Adams—fotografer kondang berkebangsaan Amerika: “There are no rules for good photographs, there are only good photographs”. Inilah fleksibilitas dalam fotografi yang membuat saya tidak harus takut untuk menjalaninya dalam kesederhanaan, bahkan untuk berani menyebut karya yang saya hasilkan sebagai fotografi!

Dari sekian fotografi yang sudah saya hasilkan, ada satu yang memiliki kesan paling kuat dan ekspresif. Karya ini saya hasilkan saat saya sedang berlibur di Pulau Sikuai, Padang, Sumatera Barat. Pulau Sikuai adalah objek wisata baru yang belum lama diekspos ke publik sehingga belum banyak yang pernah mendengar nama ini. Pulau ini dikelilingi oleh pantai biru dengan hamparan pasirnya yang putih bersih. Ditambah lagi tata kelola alamnya yang indah dan asri, membuat lokasi ini menyimpan aura fotografi yang begitu kuat.

Saat saya mengelilingi pulau, otak saya sudah langsung berputar untuk mencari spot yang cocok untuk pengambilan gambar. Sampai akhirnya saya menemukan daerah pantai yang agak sepi dan jarang ditumbuhi pohon. Sedikit memunculkan kesan purba memang. Namun saya sengaja mengambil titik itu untuk mempertajam kesan isolasi-emosional, sesuai dengan tema melankolis yang langsung sekejap hinggap di benak saya. Akhirnya, saya pun mulai menyusun posisi dan angle yang cocok untuk capture time.

Saya memutuskan untuk menjadi objek langsung dalam fotografi tersebut. Tentu saja ini bukan wujud narsisme seorang seniman fotografi, tetapi menurut filosofi fotografi yang saya pahami, sebuah fotografi akan semakin bernilai apabila Anda dapat merasakan secara langsung kisah dalam fotografi tersebut. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Thích Nhất Hạnh—seorang guru, penyair dan aktivis Vietnam—bahwa realitas selalu melampaui gagasan (No Death, No Fear; hal 15).

Sayang, saya tidak punya kemampuan untuk mengatur timing alam agar bisa mendapatkan efek gelombang dari pantai. Saya langsung mengambil posisi tidur menghadap pantai dengan tangan terkulai ke atas dan mata terpejam, seperti seorang yang sedang tergeletak. Sebelum proses capture dieksekusi, saya terlebih dahulu meminta rekan saya untuk menggunakan efek sepia. Tujuan saya adalah supaya fotografi ini nantinya akan bisa lebih memunculkan kesan emosional yang complicated.

Ketika saya melihat hasilnya untuk pertama kali, saya harus bersyukur karena seluruh tata letak dan ekspresi wajah serta nature-support yang terdapat dalam fotografi tersebut begitu proporsional dan sempurna. Dan yang paling memuaskan lagi adalah, saya berhasil mendapatkan efek gelombang yang semula sudah diabaikan, meski hanya sebaris kecil nun jauh di seberang pulau. Inilah karya fotografi yang masih saya anggap sebagai masterpiece sampai sekarang.

Ketika fotografi ini diperlihatkan kepada teman saya, banyak yang dengan nada bercanda mengatakan bahwa saya sedang terdampar di tengah pantai, seperti yang tampak dalam adegan film Cast Away. Saya hanya tersenyum dan membayangkan inilah demokrasi dalam fotografi, dengan berbagai romantikanya. Sesungguhnya fotografi ini hendak menunjukkan seseorang yang sudah menyerah terlalu dini, bahkan ketika sedikit lagi dia sudah akan mencapai pantai, yang (unsur airnya) saya simbolkan sebagai tujuan (hidup)! Ini adalah potret orang-orang yang gagal mendapatkan apa yang dia inginkan karena putus asa, padahal hal itu hanya berjarak tidak jauh lagi dari dirinya. Itulah sebabnya, saya menamai fotografi saya ini dengan judul “Premature”.

Banyak dinamika yang dapat dialami oleh seorang seniman fotografi. Saya lebih suka menyebutnya “seniman fotografi” karena terlalu sederhana jika bidang ini hanya dianggap sebagai pekerjaan oleh seorang fotografer. Fotografi mengajarkan arti yang lebih dari yang dapat dilihat secara kasat mata. Saya selalu berusaha untuk bisa menjadi objek langsung dalam setiap fotografi saya, karena ia adalah wujud dari suatu perangkap yang membelenggu saya selamanya. Sayangnya, saya merasa nyaman di dalamnya.

Sebuah foto memang selalu memberikan pengaruh bagi yang melihatnya, dan konsekuensi bagi yang menciptakannya. Konsekuensi itu adalah konsekuensi untuk dapat selalu mengubah dirinya sebagai pencipta, bukan objeknya. Seperti yang saya alami saat menghasilkan karya Premature. Akibat berebahan di pasir pantai, saya harus mengalami gatal-gatal di sekujur lengan saya sehingga membuat saya harus pulang dengan tangan yang terus ditegangkan tanpa boleh digaruk. Namun saya tidak menyesal, karena jika saya tidak menerima konsekuensi ini sejak awal, mungkin saya hanya akan menjadi seorang diktator seni. Fotografi butuh adaptasi antara kedua belah pihak, sehingga objek dapat memberikan bentuk terbaiknya, setelah terlebih dahulu sebagai pencipta mengorbankan ego terburuknya. Because the goal is not to change your subjects, but for the subject to change the photographer.***

Medan, 19 Juli 2009


* artikel ini memenangkan peringkat pertama (mahakarya emas) pada kompetisi penulisan artikel kategori feature yang diselenggarakan Tabloid Aplaus The Lifesytle dalam rangkaian acara AAM (Aplaus Abdi Mahakarya) 2009. Artikel ini dapat juga dibaca di Aplaus The Lifestyle. Untuk berita selengkapnya, dapat disimak di Aplaus The Lifestyle, Desain Grafis Indonesia (finalist news) dan Desain Grafis Indonesia (winner news).

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com