"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Sunday, June 21, 2009

Hari Ayah untuk Para Lelaki Perkasa


Posting Image

Minggu lalu adalah minggu ketiga bulan Juni, minggu spesial bagi seluruh lelaki yang sudah menjelma menjadi seorang leader dalam sebuah rumah tangga. Ya! Hari ini adalah Hari Ayah, hari yang mengingatkan kita pada semua etos dan spirit yang luar biasa dalam rangka melestarikan kehidupan rumah tangga yang sehat. Sebutan “ayah” selalu koheren dengan nafkah, yang seolah-olah sudah menjadi satu prasyarat yang harus dipenuhi sesuai dengan family role yang disandangnya. Tanpa nafkah, maka lelaki mana pun di dunia ini, rasanya tidak lagi bisa disebut sebagai “ayah” meski prasyarat alamiah lainnya—yaitu adanya istri dan anak—sudah terpenuhi.

Menilik kepada selebrasi Hari Ayah yang datangnya tepat lima minggu setelah Hari Ibu yang lebih diagungkan, seakan-akan menjadi kesepakatan global untuk menyamakan—atau paling tidak menyeimbangkan—peran antara ayah dan ibu dalam sebuah rumah tangga. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab dalam mempertahankan rumah tangga dari seleksi alam yang semakin keras, termasuk tanggung jawab parental dengan visi dan misi dapat membentuk prospek yang lebih dari kondisi mereka yang sekarang kepada sang anak. Ironisnya, banyak yang terkesan membanding-bandingkan “jasa” yang sudah dikontribusikan antara ayah dan ibu. Lama-kelamaan, ini akan menjadi sebuah symptom adanya kompetisi dalam rumah tangga, yang notabene memiliki visi dan misi yang sama. Mungkin, inilah yang melatarbelakangi terjadinya pertengkaran yang berujung kepada KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Saya lebih memandang ini sebagai suatu sinergi, atau bisa juga disebut sebagai sistem dengan peran-peran yang saling terdiferensiasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. Maka dari itu, rasanya amatlah tidak cocok jika harus menjadikan sistem parental ini sebagai parameter dalam “suksesi” rumah tangga. Hari Ayah ataupun Hari Ibu sejatinya ditujukan sebagai refleksi bagi anak-anak untuk dapat betul-betul respek terhadap supremasi peran dalam pranata yang disebut keluarga. Kedua hari itu juga menjadi suatu pembelajaran dasar tentang transisi humanistis yang juga akan dirasakan anak di kemudian hari.

Memang, hubungan yang terjalin antara ayah dan anak sedikit banyak dipengaruhi oleh jam sibuk sang ayah. Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa potensi hubungan ayah dan anak hanya berada pada seperempat hari terakhir dalam 24 jam. Pada tahap yang mengerikan, karakter ayah bisa jadi sosok yang termarginalisasi akibat minimnya interaksi antar-anggota keluarga. Hari Ayah sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggantikan jam sibuk ayah yang tergerus habis, melainkan hari yang (berusaha) menggambarkan adanya multiperan dalam keseharian sang ayah, yang seharusnya dipahami sebagai variasi rutinitas dari karakter elan seorang ayah. Peringatan Hari Ayah dan Hari Ibu semata-mata hanya sebuah kemajemukan tipe tanggung jawab, di mana ayah memiliki tipe tanggung jawab ekonomis, sementara ibu memiliki tipe tanggung jawab filantropis.

Semua ini adalah berbicara tentang kodrat! Pada masa “serba-keren” seperti ini, kodrat bukan lagi sesuatu yang penting, jika dibandingkan dengan prestise, sehingga tidak jarang, pada pranata keluarga yang paling sederhana pun sudah terjadi deviasi. Hal ini terutama tampak pada pendekatan pembinaan keluarga yang salah. Nafkah sudah berubah menjadi materi komersial yang hedonis. Ayah tidak lagi menjadi leader, tetapi lebih tepat sebagai boss yang selalu identik dengan frase perintah-tanpa-petuah. Ibu sendiri berubah dari seorang altruis menjadi seorang egois. Peringatan-peringatan di atas (termasuk Hari Anak sekalipun), kehilangan kesan familiismenya. Saya punya suatu ketakutan: kalau-kalau suatu hari, ketika nilai sudah ditafsirkan melebihi kodratnya, keluarga akan berubah menjadi suatu industri!

Sebagai seorang lelaki yang akan menjadi seorang ayah, bukan berarti Hari Ayah lebih spesial dibanding Hari Ibu. Saya hanya mencoba merefleksikan kembali fungsi peran “ayah” di antara fungsi-fungsi lain yang ada dalam keluarga. Kata “ayah” memiliki makna lebih dari sekedar kepala keluarga, yang tidak dapat dipahami jika tanggung jawab itu belum menunjukkan proporsionalnya. Ya! Maksud saya adalah: tentang kodrat yang saling berhubungan satu sama lain dan seimbang.

Akhir kata, Selamat Hari Ayah untuk para lelaki perkasa. Semoga Anda menjadi ayah yang sempurna! Tapi tunggu, untuk para ayah yang muncul dari proses kohabitasi, ada banyak hal tentang kodrat yang tidak bisa dipahami tanpa komitmen untuk menghormati kodrat itu sendiri. Itu mungkin, karena mereka tidak (akan) pernah menjadi Ayah yang sesungguhnya.***

Medan, 21 Juni 2009


TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com