"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Friday, July 20, 2007

Irrelevansi antara Sekolah Formal dan Kesuksesan


(Sebuah Gebrakan terhadap Paradigma Umum tentang Sekolah Formal)

Rasanya riskan dan radikal memang bila ada yang berani menentang sekolah formal dan menganggapnya sebagai suatu sistem pembelajaran yang tidak menghasilkan apa-apa, mengingat sekolah formal sudah menjadi harga mati yang harus dijalani oleh setiap anak dengan dalih mendapat masa depan gemilang. Sayang pada kenyataannya, sekolah formal hanya melucui sistemnya sendiri dan mempermainkan orang hingga berpuluh-puluh tahun lamanya dengan hasil nihil yang bisa secara tegas dikatakan: hanya membuat orang terlalu banyak tahu, tetapi sedikit mengerti!

Masyarakat telah keliru menganggap sekolah formal pasti akan membuat setiap anak jadi pintar, berguna dan punya masa depan cerah. Jika memang benar, mengapa masih banyak sarjana-sarjana yang terkatung-katung menjadi “pengemis bertoga” di perusahaan-perusahaan? Juga ada kasus orang dengan profesi yang sama sekali menyimpang dari latar belakang pendidikannya? Ini karena sistem di sekolah formal cenderung hanya mengajak orang untuk mengenal, bukan untuk memahaminya secara keseluruhan. Ini tak ubahnya seperti orang yang baru kenalan dan setelah lewat beberapa tahun lamanya, raut wajahnya pun mulai dilupakan.

Bagaimana mungkin ilmu yang jumlahnya sampai belasan itu bisa secara total diajarkan kepada siswa, dan kemudian masing-masing topiknya pun hanya diujikan sekali lalu dilewatkan? Seolah-olah sekolah formal telah mendoktrin siswa bahwa tujuan belajar hanya sebatas kepada nilai bagus. Belum lagi ancaman batas nilai yang secara tidak langsung sudah menjadi dera paksaan bagi siswa yang akhirnya membuat mereka mengejar-ngejar ilmu hanya dalam rangka menuju ulangan umum. Ini jelas adalah suatu kesia-siaan pengajaran karena belasan ilmu yang capek-capek “direpeti” oleh guru selama belasan tahun hanya selesai oleh satu buku rapor/ijazah, yang tujuan sesungguhnya hanya menjadi “alat pamer” kepada tetangga dan kenalan, bahkan kepada bos-bos perusahaan. Pertanyaannya: apakah nilai 10 sudah pasti menjamin seorang anak pintar, berguna dan sukses dalam karier?

Masyarakat umum juga selalu menganggap kalau tipe sukses yang ingin dicapai dari sekolah formal yang menyita waktu itu melulu hanyalah kaya. Kalau begitu: apakah kaya itu ada hubungannya dengan biologi, kimia, fisika dan tetek bengek ilmu pokok dan turunan lainnya? Lagipula, apakah seorang pensiunan guru fisika bisa menjamin kalau di masa tuanya ia masih bisa mengingat rumus-rumus fisika yang dulu dirapalkannya lebih lancar daripada nama-nama propinsi dan ibukota negaranya sendiri?

Belum lagi pengajar-pengajar yang tidak tahu bersikap sebagaimana mestinya seorang pengajar—atau lebih cocok disebut sebagai pendidik—semisal menghina siswa ketika tidak tahu mengerjakan soal, memukuli siswa hanya karena salah peraturan, memaksa siswa berdiri satu kaki sambil menjewer telinga sendiri dan kasus-kasus lainnya yang terkadang sengaja dibuat “di luar pantauan”! Hal di atas sama dengan orientasi siswa/mahasiswa baru—atau yang lebih dikenal sebagai ospek—yang tidak jelas juntrungnya.

Di perguruan tinggi negeri khususnya, ada pula sistem ospek yang membentak-bentak dan memukuli mahasiwa atau menendang mahasiswa, menyuruh mahasiswa berjalan sambil jongkok seperti binatang, mewajibkan mahasiswa membotaki rambutnya, bahkan menyuruh seluruh mahasiswa untuk melewati tantangan air kolam dan paret yang untuk air cuci kaki saja pun tidak pantas, juga penghinaan berbau SARA kepada mahasiswa golongan non-pribumi. Ospek yang lebih lembut terjadi di PTS yang mewajibkan mahasiswa duduk setengah hari sambil menonton acara dan seminar yang sebenarnya lebih banyak basa-basinya. Semua itu dilakukan atas dua alasan klasik: pengenalan kampus dan terutama kedisiplinan. Sejatinya, kedisiplinan bukanlah sebuah karakter yang bisa diciptakan secara manual, melainkan secara otomatis (inisiatif) melalui kesadaran sendiri. Pula pengenalan kampus cukup dengan seminar selama 2 jam daripada ospek yang mewajibkan mahasiswa tiba pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore, lengkap dengan aksesoris tambahan di tubuh yang sebenarnya kekanak-kanakan, tidak logis dan menghabiskan uang!

Dengan sistem pengajaran dan pemerintahan pendidikan yang demikian bagaimana siswa bisa semangat untuk sekolah, apalagi sampai dijadikan sebagai modal sukses. Atas dasar itulah, seorang remaja asal Salatiga yang baru berusia 16 tahun, Muhammad Izza Ahsin Sidqi, berani untuk melakukan keputusan fenomenal dan kontroversial dengan menentang dan keluar dari pendidikan formal. Dengan pendidikan yang masih SMP, ia memilih untuk tidak meluluskan dirinya dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk menulis!

Sekilas pasti banyak orang yang mencaci dan menertawakan “kegilaannya”. Tetapi banyak yang tidak sadar bahwa menulis merupakan satu jenis pembelajaran yang paling universal karena mencakup read, write and imagine—sesuai dengan nama trilogi yang diselesaikannya pada usia di mana anak-anak lain sedang sibuk SKS (sistem kebut semalam) mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional.

Pada pangkalnya, menulis bukanlah alasan utamanya untuk meninggalkan sekolah formal. Remaja muda namun berpandangan dewasa, luas dan visionaris ini menilai sekolah formal sangat memenjarakan kreativitas dan perkembangan mental siswa dengan sistem pengajaran militerisnya. Siswa didikte dengan ilmu yang berjubel sehingga malah menyebabkan konsentrasi siswa terhadap potensinya menjadi terbagi-bagi. Sistem ini mau tidak mau telah menyeret perkembangan siswa menjadi bercabang dan pada akhirnya siswa menjadi lebih jago menghafal daripada untuk mengerti pelajaran itu sendiri. Sementara Izza percaya bila benar-benar ingin menguasai suatu bidang potensi secara menyeluruh, butuh totalitas yang hanya dapat dicapai melalui orientasi satu titik atau yang disebutnya sebagai focus power (kekuatan fokus). Prinsip ini jelas merupakan inversi dari prinsip sekolah formal yang ada karena akan membuat orang menjadi tahu sedikit tetapi mengerti banyak.

Dari simpulan di atas, terasa sekali perkembangan mental dan cara berpikir Izza yang begitu matang dan justru didapatkannya dari luar pendidikan formal. Hanya saja, agar selaras dengan kemampuan menulisnya, tentu saja ia tidak bisa sepenuhnya menganut prinsip di atas karena untuk menjadi seorang penulis dituntut untuk dapat mengerti banyak sekaligus juga tahu banyak. Kondisi inilah yang melahirkan ungkapan bahwa dengan menulis saja dapat menguasai dunia.

Sebagai contoh, dulu ia pernah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mempelajari matematika sebelum cara menghitung royalti adalah dengan trigonometri. Ia menganggap 3 kemampuan dasar yang dimilikinya (membaca, menulis dan berhitung) sudah cukup untuk mendukung aktivitasnya. Namun setelah pandangannya semakin terbuka, ia bertekad suatu saat akan kembali mempelajari matematika, fisika, biologi dan ilmu-ilmu lainnya—dalam arti belajar sebenar-benarnya, bukan karena ikatan nilai dan waktu—karena ia menyadari bisa saja dalam karyanya nanti muncul ide yang berkaitan dengan konsep-konsep materi di atas. Kita bisa melihat Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer (hasil dari riset sejarah yang luar biasa) dan Supernova karya Dewi Lestari yang memiliki pemahaman terhadap konsep fisika.

Meski apa yang dilakukan Izza bisa dikatakan riskan di zaman akademis ini, namun itu adalah usaha yang tepat untuk pengembangan karakternya. Setidaknya, dengan keluar dari sekolah formal ia merasa lebih punya spesifikasi dan orientasi yang jelas, daripada pelajar-pelajar lain yang baru sibuk mencari “jati diri” selepas SMA akibat terus diputar-putar belasan jenis pelajaran semasa sekolah.

Kisah Izza yang khusus dipaparkannya dalam buku karyanya Dunia Tanpa Sekolah (buku pertama dari trilogi read, write and imagine), juga bukan secara mutlak menuduh bahwa sistem pendidikan formal di Indonesia tidak layak lagi dijalani. Hanya saja, kisah ini bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi sistem pendidikan Indonesia untuk mulai melakukan revolusi dan perubahan paradigma. Gaya konvensional dalam pendidikan Indonesia sekarang ini tidak cocok lagi untuk diterapkan. Mengapa di Indonesia lebih banyak diselenggarakan seminar daripada pertunjukan langsung, bukan karena alasan pelaksanaannya yang lebih praktis, tetapi adalah sebuah indikasi bahwa tradisi Indonesia cenderung lebih mengaplikasikan praktek ke teori daripada teori ke praktek. Meski sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang memiliki penilaian terhadap aspek motorik siswa sudah diaktifkan, itu tidak akan cukup bila masih diikuti penilaian terhadap kompetensi siswa yang hanya berlaku pada satu kali rapor dengan belasan mata pelajaran sekaligus.

Sistematika pendidikan yang paling ideal sesungguhnya adalah dimulai dengan tahap pengenalan, pengarahan, pendalaman dan kemudian pengaplikasian. Sementara yang terjadi di Indonesia justru menghabiskan waktu yang terlalu lama hanya untuk sebuah tahap pengenalan di sekolah formal—disebut cuma sebagai “tahap pengenalan” karena sistem pelajaran yang tidak punya orientasi jelas dan terus berulang-ulang dari tahun ke tahun—sedangkan untuk tahap-tahap selanjutnya sudah terlanjur telat untuk dijalankan. Inilah yang menyebabkan Indonesia selalu lebih lambat selangkah dibandingkan negara-negara lain, bahkan lebih lambat daripada negara yang dulunya mengejar-ngejar kita. Perlu disadari, meski Indonesia sudah merdeka, sebetulnya sampai sekarang Indonesia masih terkungkung oleh imperialisme yang sudah berganti konsep menjadi modern dalam bentuk dominasi ekonomi dan politik. Indonesia sendiri akan semakin jatuh terseret arus persaingan bila pendidikan formal sebagai papan-ancang pembentukan SDM tidak memunculkan sistem terbaiknya.

Dunia kerja seharusnya juga mulai mengubah pendiriannya dengan selalu mengutamakan ijazah dalam syarat penerimaan karyawan sebab kapabilitas seseorang tidak dapat diukur lewat selembar ijazah yang terlalu luas cakupannya. Indonesia bukanlah sedang dilanda krisis ijazah tetapi krisis sumber daya manusia. Untuk itulah, seyogianya perusahaan dapat memilih tes yang lebih mengacu kepada proses eksplorasi kompetensi pelamar daripada sekedar meninjau-ninjau segala jenis surat pernyataan yang bisa dengan mudah “ditempa”.

Jangan sampai akhirnya pernyataan tidak sekolah juga bisa kaya benar-benar menjadi aksioma, atau sekolah formal akan kehilangan kehormatannya. Perlu perubahan konsep pendidikan yang bersifat “plagiat” (menghafal) kepada konsep pengelolaan yang mencakup proses analisis sebab-akibat dan hukum probabilitas (kemungkinan perubahan) sehingga bisa memicu proses belajar-mengajar menjadi lebih dinamis, kognitif dan yang terpenting permanen! Setidak-tidaknya ilmu-ilmu itu tidak hanya sekedar melewati terowongan telinga.

Dalam perjalanan hidupnya, Izza juga tidak pernah mengharapkan tindakannya ditiru oleh remaja-remaja lain. Ia bisa memutuskan demikian adalah karena telah memiliki kematangan berpikir yang tinggi di atas anak seusianya yang masih sibuk membicarakan handphone terbaru dan game playstation. Bagi orang yang betul-betul memahami hakikat belajar tentu tidak akan menganggap tindakan Izza sebagai kesombongan dan melawan arus, tetapi adalah kedewasaannya yang membuat ia tahu memilih jalan mana yang terbaik untuknya.

Self-learning atau populernya disebut homeschooling tidak serta-merta bisa dilakukan begitu saja. Bila ada yang memutuskan keluar dari pendidikan formal hanya karena alasan ingin belajar sendiri, itu hanyalah ingin melarikan diri dari kewajiban harian. Self-learning yang ditempuh Izza hanya dapat diikuti orang-orang yang sadar akan potensinya dan memiliki konsistensi, ambisi dan visi yang serius serta berkesinambungan. Kini Izza sedang gencar-gencarnya menyelesaikan proyek novel fantasinya yang akan ia buat setebal mungkin dan berjilid-jilid, bukti keseriusan dan tanggung jawab Izza terhadap keputusannya yang tidak sekedar NATO (No Action Talk Only), tidak sekedar sensasi dan tidak sekedar formalitas.***

Medan, 20 Juli 2007


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 07 Oktober 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com