"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Friday, December 05, 2008

Ketika Hakikat Perpustakaan Bukan Sekadar Ruang Baca


"Reading makes a full man, conference makes a ready man, and writing makes an exact man" — Francis Bacon (1561-1626)

Publish or perish! Semboyan ini menunjukkan bahwa dunia telah memasuki satu era intelektual yang berbasis pada proses interaksi (pertukaran informasi) yang aktif. Tradisi komunikasi ilmiah yang sejatinya sudah dimulai sejak abad ke 12—13 di Eropa ternyata kurang mendapat perkembangan yang positif di Indonesia. Malah, yang terjadi adalah pembangkangan opini yang pada muaranya justru menimbulkan kontroversi akibat interaksi yang terjadi tidak didasari pada sikap win-win solution.

Kondisi ini jelas tidak akan mampu menghasilkan perubahan signifikan terhadap kecerdasan Indonesia, konon lagi mentalitas yang semuanya hanya bisa dimulai jika intelektualisasi diikuti dengan interaksi ilmiah yang sopan (kekeluargaan), kontribusi positif (partisipasi), kreativitas (kemampuan rasa dan karsa) serta sarana-prasarana yang melek zaman.

Jadi, konteks perpustakaan sebagai salah satu museum informasi dan organisasi turunan dari sekolah ini tidak lagi sesederhana zaman “hitam-putih” dulu, yang hanya bersifat membaca supaya pintar. Jika perpustakaan terus menempatkan peranannya (social role) sekadar sebagai ruang baca, maka intelektualisasi hanya akan menjadi satu proses yang pasif karena perpustakaan bertindak sebagai objek dalam misi tersebut. Satu analogi yang cukup sederhana: apa bedanya perpustakaan dengan guru jika guru juga hanya berfungsi sebagai pengajar yang menunggu didatangi di sekolah?

Paradigma klasik yang bertahan menjadi stereotip dalam masyarakat telah sedikit-banyak mempengaruhi kemajuan perpustakaan secara khusus dan minat baca nasional secara umum. Membaca memang telah menjelma menjadi salah satu syarat bagi keberlangsungan SDM (sumber daya manusia) yang handal. Membaca lebih dianggap sebagai kebutuhan yang seakan-akan merupakan aktivitas yang mesti dipenuhi untuk mencapai suatu tujuan. Secara singkat pandang, pernyataan itu memang terkesan sebagai aksioma (harga mati), tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa memaksakan suatu kebutuhan akan menjadikan kebutuhan itu kehilangan nilai esensialnya.

Di zaman yang terus berfluktuasi ini, banyak aktivitas manusia yang bersaing menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Namun dari sekian banyak aktivitas itu, tidak semuanya ditujukan untuk kelangsungan hidup, melainkan untuk memenuhi dua hal yaitu hasrat hidup (self-esteem) dan aktualisasi diri (self-development). Membaca termasuk pada proses pengembangan diri menuju kedewasaan intelektual dan batin. Maka, lebih cocok rasanya jika menyebut membaca sebagai suatu proses pematangan!

Berangkat dari dasar inilah, sudah waktunya bagi perpustakaan untuk meninggalkan konsep lama dan beralih ke konsep yang mengutamakan kemandirian dan pelayanan berbasis tanggung jawab sosial (social responsibility). Status perpustakaan sebagai public service menunjukkan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang ditujukan untuk mengakomodasi seluruh potensi masyarakat ke dalam proses pengembangan yang bergerak secara sinergis antara pihak perpustakaan sendiri sebagai subjek dan masyarakat sebagai objek pemberdayaan. Alasannya sederhana, karena perpustakaan adalah suatu wadah kerjasama lintas-sosial yang bermuara pada satu titik: hasil/karya!

Menurut Nunberg, perpustakaan terbagi dalam 3 (tiga) kategori: (1) data yaitu bahan-bahan pustaka; (2) metadata yaitu informasi tentang perpustakaan dan bahan-bahan pustaka; dan (3) proses yaitu kegiatan aktif yang dilakukan seluruh elemen perpustakaan. Tanpa proses, perpustakaan hanyalah suatu wacana kosong. Hal inilah yang disadari oleh Coca Cola Foundation Indonesia (CCFI) yang sejak tiga tahun lalu telah serius dalam mengagendakan pemberdayaan perpustakaan sebagai langkah primer.

CCFI memprakarsai pembinaan rumah belajar (semacam cabang perpustakaan) yang dikembangkan melalui tiga tahap, yaitu (1) memfokuskan kepada pembenahan internal termasuk peningkatan kemampuan dan ketrampilan para staf dan perbaikan fasilitas; (2) merancang berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya berdasarkan need assessment (pengkajian atas kebutuhan masyarakat)—kebutuhan di sini mengambil basis produktivitas masyarakat; dan (3) merancang strategi keberlanjutan (sustainability) agar rumah belajar dapat secara konsisten mempertahankan kualitas layanannya.

CCFI telah mengubah konsep Perpustakaan Umum Jakarta Selatan dan Perpustakaan Mangkal Yayasan Pustaka Kelana Rawamangun Jakarta menjadi tidak sekadar tempat simpan-pinjam buku, tetapi juga bisa bertukar informasi dan mengembangkan jaringan sesama anggota serta menjadi tempat mengembangkan bakat kerajinan tangan yang bisa menghidupi perpustakaan itu sendiri. Tindakan CCFI jelas tepat karena telah memenuhi tiga hakikat perpustakaan yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini.

Konsep yang dibangun CCFI perlu dicontoh oleh perpustakaan lain di Indonesia, termasuk di Medan khususnya dan Sumut umumnya, agar tidak mengabaikan kekayaan potensi daerah dan SDM yang dimiliki. Mengapa perpustakaan tidak pernah berpikir (atau bermimpi?) untuk menjadi suatu sistem ekonomi sendiri, dengan menggandeng masyarakat sekitar agar turut terlibat sebagai pelaku usaha? Kegiatan ini dapat menjadi implementasi lanjutan dari teori yang telah diperoleh di perpustakaan berupa praktik langsung dan dilengkapi dengan evaluasi berkala.

Dengan kemandirian seperti ini, perpustakaan tidak perlu lagi menggantungkan perkembangannya dari pemerintah, meskipun anggaran pendidikan di APBN telah “digemukkan” menjadi 20% (untuk perpustakaan sekolah/perguruan tinggi mendapat alokasi sebesar 5% dari anggaran operasional). Sejalan dengan ini, tentu perpustakaan juga harus mengikuti pergerakan zaman yang ada sehingga kedua komponen (perpustakaan dan masyarakat) dapat mengaktualisasi diri bersama.



• Era Baru Perpustakaan dan Kepustakaan

Akselerasi zaman telah menuntut perpustakaan untuk masuk ke sistem digital. Sistem ini ditandai dengan munculnya fasilitas berbasis ICT (Information Communication Technology), blog dan e-book. Kehadiran fasilitas ICT sangat positif dalam mendukung interaksi ilmiah yang masih suram, bahkan antara pengunjung dan pustakawan itu sendiri. Demikian juga blog yang telah berperan besar dalam mengatasi kendala dimensi ruang dan jarak. Sementara e-book adalah revolusi modern dari buku yang bersifat fisik ke digital.

Jika menilik sejarah publikasi yang ada, sejak penemuan formulasi pembuatan kertas oleh Cai Lun—seorang kasim yang hidup di Cina pada era Dinasti Han Timur, berlanjut kepada penemuan teknik percetakan modern oleh Johannes Gutenberg, dan berakhir pada penemuan e-book oleh Michael Hart pada tahun 1971, menunjukkan betapa pentingnya dunia bibliografi demi melestarikan informasi secara lintas generasi.

Penemuan e-book menghadirkan alternatif positif di tengah kekhawatiran akan ketahanan buku cetak. Kemunculan sistem digitalisasi seperti ini telah membawa kemudahan bagi logistik perpustakaan, baik dari sisi dana pemeliharaan maupun sisi penataan ruang.

Namun, kemunculan era digital bagi perpustakaan bukan berarti membuat aktivitas perpustakaan menjadi swa-layan. Begitu juga pandangan klise bahwa kualitas perpustakaan dinilai dari kemewahan tata bangunan baik eksterior maupun interior (case sample: Perpustakaan Riau) dan jumlah buku. Semua itu hanyalah mewakili fisik dari perpustakaan dan sangat bertolak belakang dengan prinsip publish yang menempatkan karakter dan wawasan sebagai visi utama.



Kemewahan arsitektur yang dipampangkan oleh Perpustakaan Riau tidak akan ada artinya bila tidak diikuti kontribusi langsung terhadap pemberdayaan masyarakat


Perpustakaan yang berkualitas adalah perpustakaan yang enggan sekadar berdiri sebagai motivator dan penyedia jasa. Justru perpustakaan harus bertindak sebagai pelaku utama karena jati diri perpustakaan terletak pada sejauh mana perpustakaan itu dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan masyarakat.

Hanya perpustakaan yang aktif dan bergerak sinergis dalam upaya pemberdayaan yang akan menjadi perpustakaan masa depan terbaik, karena keberlangsungan perpustakaan tidak dipengaruhi oleh jumlah buku apalagi arsitektur, tetapi lebih kepada pemberdayaan yang berlangsung secara serentak dan terus-menerus. Inilah ukuran perpustakaan yang sebenarnya, berdiri pada inisiatif sendiri dan tidak hanya menunggu “pelanggan”.

Jika perpustakaan mampu menyelaraskan sistem digital dan sistem sosial seperti itu, maka perpustakaan akan terhindar dari ketakutan akan minimnya kunjungan. Cita-cita modern ini telah disadari pemerintah dengan menerbitkan UU No 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan yang disahkan pada tanggal 01 November 2007. 15 bab yang mencakup 54 pasal sudah cukup untuk membuktikan bahwa perpustakaan mempunyai tugas yang sangat penting dalam mencapai kecerdasan nasional.

Di Sumut, cita-cita ini mulai terwujud dengan diselenggarakannya Pesta Buku oleh Baperasdasu yang dimeriahkan dengan berbagai lomba, dari tanggal 28 November—07 Desember 2008. Ajang unjuk potensi ini patut menjadi contoh untuk agenda tahunan bagi seluruh perpustakaan di Indonesia.

Harapan baru juga ditumpukan kepada hadirnya Taman Digital Ahmad Yani Jalan Imam Bonjol, Medan yang baru diresmikan Jumat, 21 November 2008. Bahkan dalam waktu dekat, pembangunan yang diprakarsai oleh Telkom ini juga akan dilakukan di Taman Sri Deli dan di kawasan Jalan Dr Mansyur.

Semangat ini hendaknya jangan hanya bertumpu pada kesempurnaan fasilitas, tetapi juga pada kesempurnaan partisipasi perpustakaan sebagai motor kemajuan dan kedewasaan masyarakat. Ingat digital, maka ingat juga sosial.

Masihkah perpustakaan terus menjadi sekadar ruang baca?***

Medan, 2008


* esai ini pernah dimuat di Rubrik Opini, Harian Analisa (Medan), tanggal 05 Desember 2008

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com