"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Sunday, September 30, 2007

Neutral Thinking


Prinsip positive thinking selalu dianut oleh orang-orang yang ingin membiasakan diri sabar dan hidup tenang. Lagipula, positive thinking mengajarkan orang untuk tidak mengambil suatu masalah sebagai beban yang oleh para ilmuwan disebutkan dapat mempertua hidup. Tapi yang namanya berpikir itu tidak selalu semudah kepada faktanya. Ketika berpikir memerlukan perasaan, fakta justru bisa memunculkan hasil yang tidak berperasaan!

Orang yang menilai hidup dengan pemikiran barulah bisa disebut sebagai orang yang dinamis. Orang yang dinamis tidak cuma memikirkan hasil positif untuk menambah kepercayaan diri. Di balik itu semua, sesungguhnya mereka juga menyadari kalau setiap kemungkinan terburuk bisa terjadi. Seorang dosen bernama Morrie Schwartz dalam buku kisah nyata Tuesdays with Morrie karangan muridnya, Mitch Albom, adalah contoh orang yang punya pikiran matang dalam menghadapi kematian. Ia diserang oleh penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis—atau penyakit Lou Gehrig), sebuah penyakit ganas tak kenal ampun yang menyerang sistem saraf. Dalam kesaksian muridnya, Morrie tahu betul bagaimana cara penyakit ganas itu akan membetot nyawanya. Tapi justru dari waktu-waktu menuju kematiannya itulah, ia memunculkan sabda terbaiknya: ketika seseorang tahu ia akan mati, maka ia akan belajar tentang hidup. Dengan menyadari kedua peluang yang berlawanan itu, ia pun melanjutkan “hari-hari penantiannya” lebih tenang daripada orang yang terkena penyakit pilek biasa.

Pikiran memiliki efek jiwa yang kuat. Kalau pikiran ini salah diarahkan, jiwalah yang harus menanggung akibatnya. Untuk itulah, positive thinking terlalu indah untuk dijalankan. Bila seseorang terus berpikiran positif terhadap suatu permasalahan, lama kelamaan sifat manja bisa terbentuk secara tidak sadar dalam hidup orang itu. Kalau kemanjaan itu tidak bisa lagi didapat, barulah ia jatuh dalam jurang depresi tanpa bisa dihibur. Lagipula, terus menerus berpikiran positif justru akan menimbulkan efek psikologis yang negatif. Orang yang demikian akan menjadi susah tabah ketika mendapat persoalan karena sudah terlalu sering dibuai dengan keindahan dan jiwa tidak pernah dilatih untuk menerima kepahitan.

Sebenarnya positive thinking bisa dikatakan identik dengan bermimpi karena orang tidak akan pernah mengimpikan hal-hal yang buruk, yang tidak diingini. Padahal mimpi tidak akan pernah habis, makanya tidak boleh diteruskan. Bukankah lebih baik kalau dalam berpikir kita juga tidak memihak salah satu hasil? Netral adalah posisi tengah yang tidak akan pernah bersalah, bagaimanapun sebuah pengaruh hendak mengacaukannya. Netral tidak akan pernah memiliki musuh. Itu sebabnya neutral thinking lebih damai daripada positive thinking, karena apa pun hasil yang diterima, pikiran tidak akan diajak untuk membenci salah satu faktor yang mungkin jadi variabel pengacau.

Sekilas neutral thinking memang tampak lebih pesimistis. Tapi kalau dibandingkan dengan positive thinking, neutral thinking lebih memiliki kecenderungan untuk melindungi batin sehingga lebih aman. Di sisi lain, positive thinking sebetulnya sama saja prinsipnya dengan negative thinking karena sama-sama bersifat terlalu cepat memvonis dan cenderung memaksakan pikiran. Kata orang, itu sudah merupakan dosa pertama, biarpun pikiran memvonis dengan pikiran positif. Setidaknya, janganlah dulu membebankan suatu hasil secara langsung karena cepat lambat itu akan menjadi beban bagi diri sendiri. Sebagai contoh, orang yang berjudi selalu memanfaatkan positive thinking dalam bertaruh. Atas sebab inilah makanya bisnis judi bisa jadi bisnis yang menguntungkan karena tidak akan kehabisan pelanggan. Prinsipnya: tidak ada yang berharap kalah dalam berjudi, bukan?

Pikiran sejatinya adalah suatu cara kesemena-menaan yang tersembunyi. Berpikir itu tidak ada hukumnya. Orang bisa menjelajah ke mana saja dan apa saja dalam pikiran tanpa mengorbankan barang sedikit pun. Bila pikiran tidak dididik dengan benar sejak masih berada dalam kemayaan, maka habislah martabat orang itu. Seterusnya, didikan yang baik adalah didikan yang tidak memihak. Jadi, bukankah neutral thinking adalah cara terbaik untuk mendidik sendiri, karena berpikir tentang mati, kita juga sekaligus akan berpikir tentang cara untuk hidup? Maka, nikmatilah hidup dalam ketengahan yang tidak ada rasa takut, tuntut dan surut. Sebaliknya, pikiran menjadi semakin matang, tenang dan cemerlang.***

Medan, 20 Agustus 2007


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 30 September 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com