"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Monday, October 22, 2007

Sastra sebagai Citra, Cita dan Cinta


Dari dulu sampai sekarang, sastra tetaplah sebuah hiburan semiotik dengan berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya, hasil dari kreativitas para sastrawan. Hanya saja, karya sastra yang dihasilkan para sastrawan sekarang kelihatannya sudah mulai beralih fungsi, terutama dalam beberapa tahun belakangan ini. Fungsi sastra dalam memberikan kontribusi sosial mulai luntur. Tidak bisa lagi kita rasakan pengaruh sastra sebagai penyemangat jiwa (untuk para pejuang kemerdekaan), nasihat dan perenungan seperti yang diciptakan sastrawan zaman dulu. Sastra kontemporer lebih didominasi sastra koran, yang sesungguhnya justru bertendensi mengarah ke proyek bisnis mutualisme antara media massa dan sastrawan. Peluang sastra koran ini menjadikan semakin banyak sastrawan baru muncul, dengan kualitas karya sastra yang tidak bisa lagi memberikan kontribusi sosial apa pun. Akibatnya, posisi sastrawan sekarang tidak lagi sekukuh sastrawan zaman dulu.

Sastra koran yang muncul setiap minggu ini mulai berkembang menjadi sebuah tren penulisan Indonesia. Tren inilah yang memancing kemunculan sastrawan-sastrawan pendatang baru. Memang, kemunculan ini tidak bisa kita salahkan karena ada baiknya juga untuk mewarnai khazanah sastra Indonesia, sekaligus sebagai bahan komparasi perkembangan sastra hasil karya sastrawan tua dan sastrawan muda. Namun, secara tidak langsung sastra koran sudah menjadikan peluang ini mengarah ke ajang persaingan, tepatnya persaingan sastra! Jangankan mengharapkan kontribusi sosial dari karya-karya sastra tersebut, justru indikasi ini sudah menyebabkan terjadinya komersialisasi sastra!

Hal ini seharusnya menjadi perhatian para sastrawan agar jangan sampai menjauhi hakikat penciptaan sastra. Gelar sastrawan adalah gelar yang berat untuk diemban karena tanggung jawab dan pengaruh sosialnya tinggi. Itulah sebabnya, tujuan penciptaan sastra jangan sampai melupakan kontribusi sosialnya. Sastra yang diciptakan harus bisa menjadi citra, cita dan cinta, baik secara personal maupun massal.

Sastrawan dihormati adalah karena pandangannya. Citra ini harus terus dijaga bahkan dalam penciptaan sastranya sekalipun. Artinya, seseorang tidak hanya sekadar bisa berpuisi atau cerpen lantas sudah disebut sastrawan. Sastrawan yang terhormat adalah sastrawan yang mampu mempertahankan kehormatan/citranya lewat pandangan dan karyanya, juga harus memahami tujuan penciptaan karya sastranya untuk apa. Apakah untuk sekadar “dijual” atau memang untuk memberikan kontribusi sosial. Kalau sastrawan tersebut tidak bisa mempertanggungjawabkan karya sastranya kepada masyarakat, berarti ia telah gagal.

Pandangan seorang sastrawan sekaligus adalah citanya sendiri. Sastrawan hendaknya juga berpendirian dalam mengolah pandangannya. Tidak ikut-ikutan karena memang sastra adalah murni karakter sendiri. Ini amat dibutuhkan mengingat dalam sastra tragedi pro dan kontra selalu saja ada. Lebih baik jika sastrawan dalam memberikan apresiasi adalah berpedoman pada cita karakter sastranya, bukan pada kepribadian orang lain. Dengan demikian, barulah dalam apresiasinya (bahkan dalam karya sastranya juga) terjadi pemihakan kepada sastra, bukan sastrawannya.

Sebenarnya bila ada pro dan kontra, ada baiknya penilaian terhadap sastra diserahkan saja kepada masyarakat karena memang masyarakatlah objeknya. Maka dari itu, seorang sastrawan harus menghadirkan karya yang benar-benar dapat mengantarkan suatu kontribusi, sehingga karya tersebut baru bisa dicintai masyarakat, bukan sekadar dicintai redaktur. Tujuan koran menyediakan ruang untuk sastra koran ini adalah untuk membantu para sastrawan mewujudkan ketiga misi ini, bukan malah bersaing memperebutkan oplah besar dengan mengandalkan nama sastrawan.

Untung saja, popularitas sastrawan tidak sampai membuat mereka ikut-ikutan terkena sindrom pencalonan presiden atau pejabat pemerintahan. Politik bagaimanapun adalah konspirasi, sementara sastra justru berdiri sendiri dengan karakter sendiri dalam membangkitkan daya tarik. Untuk itulah, sastra harus tetap menjadi pemikat yang murni, bukan malah menjadi ajang metafora terselip untuk keperluan “kampanye” dan sebagainya. Jika tidak, maka suatu saat sastra Indonesia akan berubah menjadi sastra sekuler yang bisa diecerkan/digrosirkan, diekspor-impor dan diiklankan.***

Medan, 22 Oktober 2007


* esai ini pernah dimuat di Rubrik Kalam, Harian Global (Medan), tanggal 28 Oktober 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com