"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Wednesday, March 11, 2009

Remaja dalam Dunia Karier (II)


Fragmen II: Paradigma perusahaan terhadap remaja dan kapabilitasnya


Pola pemikiran ekonomis yang merasuk pada setiap perusahaan seakan-akan telah menempatkan divisi marketing pada supremasi organisasi yang paling diagungkan dan diandalkan. Secara eksternal, prinsip di atas memang merupakan keharusan untuk mencapai profit setinggi-tingginya dengan biaya sekecil-kecilnya. Namun secara internal, perusahaan telah (sedikit) mengabaikan perhatiannya kepada manajemen SDM sehingga aktivitas-ke-luar perusahaan menjadi lebih dominan daripada aktivitas-ke-dalam perusahaan.

Ketimpangan ini paling jelas dirasakan oleh remaja. Ditinjau dari aspek usia, remaja adalah komponen hierarki paling dasar dari suatu organisasi yang kebanyakan hanya dipandang sebagai komplemen operasional, tidak lebih sama sekali. Akhirnya pekerjaan yang dilakoni menjadi semacam “pelarian yang mandul” alias tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada suatu interes yang memancar dari pekerjaan tersebut, sehingga pekerjaan seperti ini lebih cocok disebut sebagai rutinitas daripada karier.

Perusahaan harus mulai meluruskan paradigmanya terhadap remaja dengan tidak lagi menganggap mereka sebagai mesin yang cukup diberi oli (gaji), sebab usia remaja sebagai katalis perubahan terlalu sederhana dan sayang untuk dilewatkan dengan cara demikian. Perusahaan tentu mendambakan regenerasi yang berkelanjutan—yang tidak hanya ditumpukan pada para manager ataupun asistant manager. Proses kaderisasi sepihak seperti ini hanya akan membuat perusahaan berputar-putar pada lingkaran kerja yang sama dengan setahun lalu, atau bahkan sepuluh tahun yang lalu.

Salah satu tren yang berkembang dan menjadi stereotip para pimpinan perusahaan adalah kapabilitas seorang pekerja (man power) yang selalu diukur dari usia dan masa kerja. Keduanya tetap bermuara pada satu titik temu yaitu pengalaman, di mana usia menunjukkan pengalamaan individual dan masa kerja menunjukkan pengalaman kolektif/organisasi. Jika ada seseorang yang sudah mencapai taraf optimal untuk kedua syarat di atas, apalagi didukung CV (curriculum vitae) yang berbaris-baris, maka orang tersebut akan langsung dicap memiliki man power yang berkualitas, padahal belum tentu!

Jika diperhatikan lebih lanjut, faktor usia dan masa kerja hanyalah soal waktu yang seolah-olah menjelaskan masa eksplorasi yang telah dijalani lebih panjang dari orang lain. Tren ini pun berkembang dengan sebutan “jam terbang”. Artinya semakin lama terbang, semakin matang. Tapi yang selalu luput dari mata perusahaan adalah mungkin pada saat ini banyak di antara penerbang lama yang hanya terbiasa menerbangkan pesawat kecil, sementara penerbang baru lainnya sudah terbiasa menerbangkan pesawat komersial. Lalu apakah faktor usia dan masa kerja masih berpengaruh pada kasus seperti ini?

Sesuatu yang visual tidak selamanya mewakili substansinya. Begitulah yang dimaksud dengan ungkapan don’t judge a book by its cover. Namun seiring perkembangan karakter manusia yang begitu pesat, ungkapan itu tidak lagi cukup sehingga perlu ditambahkan: don’t judge a book by its cover, thickness dan the first page. “Ketebalan” melambangkan usia dan “halaman pertama” menunjukkan kesan pertama dalam hubungan kerja ataupun komunikasi. Maka para atasan tidak bisa lagi menilai para bawahannya hanya dari segi penampilan dan kedua ekstensi lainnya. CV, ijazah, surat referensi dan surat keterangan jabatan—yang terkadang suka ditahan oleh perusahaan tertentu—tidak lagi menjadi jaminan. Butuh presentasi lebih lanjut daripada sekadar kata pengantar seperti itu.

Menguasai suatu SDM tidak dapat dilakukan secara instan. Bila perusahaan sangat intens dalam memahami customer-nya, tentu perusahaan juga perlu meluangkan agendanya untuk memahami jajaran organisasinya, terutama sekali adalah remaja. Perusahaan jangan terlalu arogan dengan menilai bahwa karyawanlah yang membutuhkan perusahaan, bukan sebaliknya, sehingga setiap aktivitas keluar-masuk karyawan tidak mempengaruhi keberadaan perusahaan. Karyawan juga adalah aset perusahaan, demikian pula dengan para remaja yang memiliki peluang pengembangan yang lebih optimal dari segi waktu.

Dalam buku The Art of Business, Stan Davis dan David McIntosh mengajarkan untuk mengkombinasikan unsur artistik yang meliputi input-input emosional ke dalam unsur ekonomi (bisnis) suatu perusahaan. Ini adalah proyeksi terhadap gejala manajemen modern yang intinya perusahaan harus lebih menghargai seluruh komponen bisnisnya secara emosional, tidak hanya kepada customer, tetapi juga karyawannya.

Konsep seperti ini tidak akan sukses jika perusahaan terus mempertahankan arogansi paradigmanya terhadap kapabilitas remaja. Usia muda bukan mewakili batas jangkauan kerjanya, juga karakter dan kemauan. Perusahaan tidak akan pernah tahu perkembangan apa yang telah terjadi pada remaja di luar jam kerja jika perusahaan tidak segera melakukan pendekatan. Perlu ada pemerataan kesempatan yang memungkinkan potensi remaja dapat terbaca. Pemberdayaan yang berkelanjutan dari perusahaan akan membuat para remaja, bahkan seluruh pelaku manajemen, dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perusahaan.

Salah satu hal yang mungkin perlu disadari oleh perusahaan, jika para salesman adalah berperan sebagai product marketing, maka para karyawan juga memiliki peran sebagai management marketing. Berdasarkan konsep pemasaran word of mouth (mulut-ke-mulut) dari Yuswohady, maka manajemen yang seimbang akan menciptakan suatu image yang akan dipertaruhkan pada karyawannya dalam setiap aktivitas-ke-luar perusahaan. Management marketing yang baik tentu akan berimbas pada kredibilitas product marketing.

Dengan distribusi populasi remaja Indonesia di perkotaan yang mencapai hingga 22,1% dengan rentang usia 10—19 tahun, jelas merupakan satu keuntungan bagi perusahaan Indonesia untuk menggarap potensi-potensi ini. Usia hanyalah sebuah identitas lahiriah. Setiap remaja adalah prospek perusahaan, karena pada dasarnya, tidak pernah ada penghakiman yang berbeda antara usia tua dan muda.***

Medan, 11 Maret 2009

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com