"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Monday, March 09, 2009

Remaja Dalam Dunia Karier (I)


Fragmen I: Paradigma remaja terhadap karier dan kompleksitasnya


Masa remaja merupakan suatu babak transisi yang menuntut banyak perubahan signifikan, baik dari aspek sosial maupun intrapersonal. Kesuksesan perubahan itu kemudian disebut dengan jati diri. Dalam prosesnya, banyak peluang yang mungkin terjadi tergantung stigma dari lingkungan dan kesadaran (self-awareness) dari remaja itu sendiri. Saking krusialnya, masa remaja bisa dikatakan sebagai babak semifinal yang paling menentukan sebelum sampai kepada babak final yaitu (keputusan) pernikahan.

Seiring perkembangan zaman, muncul sebuah ironi yang menggelikan yaitu pada dunia remaja dewasa ini, sering babak final itu malah datang lebih cepat dari semestinya, bahkan ketika remaja tersebut belum menyadari tujuan eksistensinya sendiri. Banyak remaja yang meremehkan fase ini sehingga ketika sampai saatnya remaja tersebut “disidang” di masyarakat, remaja tersebut pun tidak lagi memiliki nilai dan hanya menjadi “produk” gagal.

Paradigma “masa remaja adalah masa terindah dalam hidup” telah membuat banyak remaja yang terlalu berleha-leha pada masa pendidikan formalnya. Walaupun kualitas dan efektivitas pendidikan formal bersifat relatif, tetap saja tidak baik bagi remaja bila meremehkan pendidikan formal yang merupakan salah satu syarat-klasik untuk melamar pekerjaan. Tendensi selera remaja modern yang salah berorientasi ke dunia hiburan (hedonisme) adalah deviasi yang jamak dan kritis dewasa ini. Selera seperti ini hanya akan menjadi bumerang bagi remaja itu sendiri ketika terjun ke dunia kerja nanti, sebab karier tidak dapat dibeli dengan kekuatan materi. Malah terkadang—meskipun terkesan ironis—karier yang hebat hanya akan dicapai dengan mengesampingkan materi (kesenangan pribadi). Konsep inilah yang dikenal sebagai manajemen resiko (risk management).

Satu lagi paradoks yang aneh tapi nyata, yaitu adanya kenyataan di mana remaja yang prestasi pendidikan formalnya kurang baik justru lebih berhasil dalam perencanaan karier daripada remaja yang prestasi pendidikan formalnya terpuji. Paradoks lain, remaja yang berasal dari keluarga biasa atau keluarga miskin memiliki daya kritis dan kreativitas yang lebih peka daripada remaja yang berasal dari keluarga berpunya. Kita dapat menganalogikan remaja sebagai penjahit dan pranata sosial seperti sekolah dan keluarga sebagai mesin jahit. Ketika mesin jahit tersebut tidak dapat lagi menafsirkan dan mengakomodasi orientasi minat dan bakat remaja tersebut, maka remaja tersebut akan menjadi terdidik untuk menjahit dengan tangan kanan sendiri.

Kondisi di atas adalah berbicara tentang keterbatasan, sementara karakter radikal yang ada pada remaja adalah tidak menyukai adanya keterbatasan sehingga berusaha menerobos sekat-sekat yang ada demi keperluan aktualisasi diri. Namun banyak dari terobosan remaja modern yang lebih bersifat egosentris, bahkan ada yang sampai mengabaikan etika profesional dan pergaulan. Terobosan seperti ini tidak akan mampu bertahan lama karena terlalu memaksakan keinginan terhadap lingkungan. Perlu ada suatu pemahaman bahwa sistem tidak pernah menyesuaikan diri dengan manusia, tetapi sebaliknya, manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan sistem. Fleksibilitas adalah cabang kreativitas yang tetap dapat bertahan di atas semua kondisi.

Menjelang dunia karier, sudah waktunya bagi remaja untuk mencampakkan pola pikir kekanak-kanakan yang masih dipengaruhi emosional kepada pola pikir dewasa. Pola pikir dewasa adalah pola pikir yang tahu menempatkan sikap dan keputusan pada waktu dan tempat yang tepat. Dr Stephen R Covey—penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People—mengatakan: “Jika anda menginginkan perubahan kecil, garaplah perilaku anda. Jika anda menginginkan perubahan besar dan mendasar, garaplah paradigma anda". Sekilas baca, pernyataan ini seakan-akan menunjukkan bahwa perilaku dan paradigma adalah dikotomi yang berbeda.

Salah satu karakter yang sering menghancurkan kesan tentang seorang remaja adalah kebiasaan berperilaku yang lebih menuruti nafsu pikiran yang bersifat subjektif daripada paradigma yang bersifat objektif, padahal pikiran itu sendiri lebih bersifat egosentris daripada mempertimbangkan efek dominonya. Jangan pernah mengambil sikap dan perilaku hanya untuk kebutuhan sesaat. Karakter yang demikian lama kelamaan akan membuat remaja menjadi seorang hipokrit yang amat tidak disukai di dunia kerja. Sebelum menentukan aksi, remaja harus terbiasa untuk mengevaluasi plus-minus secara matang karena setiap satu respon yang diberikan oleh remaja akan mencerminkan pendirian dan konsistensi dari remaja tersebut.

Pada proses lebih lanjut, remaja akan dihadapkan pada kondisi membuat keputusan (decision making), terutama pada titik kulminasi kariernya nanti. Kemampuan membuat suatu keputusan adalah pembelajaran yang tidak akan ada hentinya. Itulah sebabnya, remaja perlu mulai melakukan perubahan sebelum kondisi yang akan memaksa perubahan itu dan akhirnya terjadi konflik.

Setiap keputusan adalah pilihan dan untuk itu keputusan selalu memiliki biaya yang disebut dengan opportunity cost, artinya setiap memilih satu keputusan pasti ada benefit lain yang dikorbankan. Keputusan yang baik adalah keputusan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama karena akan semakin sedikit biaya yang dikeluarkan. Makanya setiap keputusan yang dibuat sebetulnya menunjukkan level dari seorang pemimpin. Inilah yang menjadi ukuran (benchmark) dari seorang pemimpin karena pemimpin dihormati bukan karena prestasi atau wibawanya, tetapi karena keputusannya.

Sudah saatnya bagi remaja untuk berorientasi menjadi seorang pemimpin, dimulai dari diri sendiri (self-control). Remaja baru akan sukses apabila mampu mengatur dirinya sendiri ketika masyarakat dan lingkungan menawarkan begitu banyak pilihan. Keputusan tidak semata-mata mengatakan “ya” dan “tidak”, tetapi terkadang jalan yang terbaik adalah bagaimana meniadakan yang ada dan mengadakan yang tidak ada. Sampai saatnya nanti, kematangan yang akan menjelaskan perbedaan antara berbicara dengan teman dan berbicara dalam lingkungan pekerjaan.

Selepas dari pendidikan formal, remaja akan menghadapi lika-liku yang lebih banyak dan kompleks dari sekadar perdebatan nilai ujian. Karier adalah perjalanan terpanjang dalam hidup manusia, bahkan telah ditegaskan oleh sebuah ungkapan bahwa karier adalah proses dari lahir sampai kuburan (from the womb to tomb). Kesulitan dan ketidakadilan adalah hal yang biasa. Mereka adalah bagian dari sistem yang harus dijalani, bukan dihindari. Sistem tidak pernah berbicara tentang perasaan pada manusia, terutama dalam dunia karier. Sistem hanya berbicara tentang komitmen dan tanggung jawab.

Kerasnya dunia karier jangan sampai menjadi momok bagi remaja yang baru akan terjun mencari pekerjaan. Jika remaja terus-menerus memelihara sifat ketergantungan dan kelunakan mentalnya, ia tidak akan mampu bertahan dalam persaingan dengan orang lain, bahkan dengan waktu yang terus membelakanginya. Ketegaran (ketabahan) adalah salah satu kecerdasan yang mulai diperhitungkan pada masa sekarang, yaitu adversity quotient (AQ) di samping cabang-cabang kecerdasan lainnya. Sebuah peribahasa telah mengajarkan, “semakin tinggi pohon, semakin kencang pula anginnya”. Jika takut tinggi, maka selamanya remaja tidak akan pernah melihat lebih dari yang dapat dilihat ketinggiannya saat ini.

Remaja juga jangan terlalu berharap pada nilai tinggi pada masa pendidikan formal kerena hal itu tidak akan menjadi jaminan dalam dunia karier, seperti yang sudah ditunjukkan pada paradoks di awal tulisan ini dan pada gelar Andrie Wongso yaitu SDTT, TBS (Sekolah Dasar Tidak Tamat, Tapi Bisa Sukses). Remaja perlu mulai menciptakan standarnya sendiri yang akan membawa dirinya mempunyai nilai tawar dalam dunia karier. Untuk itu, ketabahan yang dimaksud tidak hanya sebatas terhadap kesulitan, tetapi juga ketabahan dalam mencapai standar tertinggi dalam karier. Tidak ada yang instan (mudah) di dunia ini selain berbicara. Namun kalau selama hidup tidak ada yang dapat dibicarakan dari seorang remaja, apakah lagi yang dapat direncanakan darinya?

Indonesia memiliki tingkat populasi remaja yang mencapai hingga 22,2% (sekitar 44,6 juta penduduk) atau hampir seperempat dari total populasi penduduk, dengan distribusi 50,9 % laki - laki dan 49,1 % perempuan. Ini menunjukkan bahwa remaja mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam konteks sosial maupun karier. Remaja sebagai agent of change harus dapat menghasilkan perubahan, bukan atas dasar gaji, bukan atas dasar fasilitas, tetapi atas dasar self-development (pengembangan diri) yang pada akhirnya akan menghasilkan self-esteem (penghargaan diri).

Tidak ada yang akan pernah memberi tuntutan untuk berubah selain inisiatif. Hukuman bagi tidak adanya perubahan adalah kepunahan dan penghargaan bagi adanya perubahan adalah eksistensi. Keputusan pertama yang akan dihadapi seorang remaja adalah keputusan untuk menentukan jati diri. Remaja harus dapat memiliki “merek” dan kepercayaan yang setara dengan orang dewasa, manager bahkan general manager karena antara remaja dan para profesional dewasa hanya dibedakan oleh waktu, bukan kesempatan. Oliver Wendell Holmes, Sr—seorang profesor sekaligus penulis Amerika—berkata: “to be seventy years young is sometimes far more cheerful and hopeful than to be forty years old”. Remaja akan bisa mencapai pada tingkat seperti ini, hanya jika remaja tersebut, selalu berusaha untuk melihat lebih dari yang dapat dilihat oleh usianya.***

Medan, 09 Maret 2009


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini, Harian Analisa (Medan), tanggal 23 Juli 2010

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com