"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Monday, February 06, 2006

Mengintip Sisi Lain Hari Valentine


Banyak sisi lain di Hari Valentine yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Terkadang sisi lain ini malah bias menjadi pelajaran buat kita dalam menghadapi hari kasih sayang ini. What’re they? Let’s check it out….

Kalau selama ini Valentine jadi hari yang paling disambut oleh para anak muda, di Arab perayaan Valentine ini malah diharamkan. Sebabnya? Karena mereka menilai perayaan Valentine merupakan tradisi yang berada di luar ajaran mereka. Menurut mereka, kasih sayang itu bisa dirayakan kapan saja, tak harus pada hari itu saja. Apalagi setelah melihat cara perayaan yang cenderung mengarah ke aksi seksual, mereka pun semakin mengharamkannya.

Larangan ini bukan cuma berlaku di Arab. Di negara-negara muslim seperti Iran, Pakistan, Malaysia, perayaan Hari Valentine juga tidak diperbolehkan. Di Arab misalnya, kedai-kedai dan toko-toko tidak diperkenankan menjual mawar merah, patung beruang dan kartu ucapan atau tetek-bengek lainnya untuk memperingati Valentine’s day ini.

Untuk menjaga pelaksanaan peraturan ini, Muttawa, sejenis polisi keagamaan, akan berpatroli setiap pagi dan petang. Larangan ini sendiri tidak hanya datang dari pihak kerajaan, tetapi para guru dan pihak sekolah juga berkoak-koak memberikan imbauan untuk tidak merayakannya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bukankah Indonesia juga termasuk negara muslim? Seperti biasa, Indonesia hanya bisa “mengekor” hal-hal yang dirasa keren dari luar, tanpa tahu asal-muasal hal itu sendiri. Remaja Indonesia mengira jika mereka sudah bisa mengikuti tradisi atau perkembangan dari luar, maka mereka sudah dapat dikatakan remaja yang tidak parno (ketinggalan zaman alias kampungan). Betulkah asumsi yang demikian?



• Heroisme di Hari Valentine

Kaum lelaki selalu dianggap pihak yang kuat. Bicara soal jiwa heroik pasti selalu dikaitkan dengan kaum Adam ini. Dalam dongeng-dongeng maupun kisah populer remaja hampir tak pernah lepas dari figur pria yang protektif. Yang dilindungi tak lain adalah kaum perempuan karena pada hakikatnya, perempuanlah yang butuh dilindungi, perempuanlah yang butuh disedekahi.

Kerapuhan dan ketakutan perempuan terkadang juga amat dinikmati lelaki. Contohnya saja, kamu pasti suka dong ngajak cewek kamu pasti nonton film horor?

Gambaran ini tak jauh dari perayaan Hari Valentine saat ini. Di sini dapat dilihat kemurahan hati pria yang selalu memberi, sedangkan perempuan adalah pihak yang menerima. Wanita dibuat tersanjung dengan gifts seperti coklat, boneka atau bunga. Sementara untuk pria akan merasa telah berhasil menaklukkan pasangannya jika pasangannya tersanjung.

Kesimpulannya, perempuan adalah kaum yang lemah. Kalau kedua hal di atas dihubungkan, maka akan ditemukan benang merah yang menimbulkan kesan negatif. Misalnya, apakah untuk mencintai/dilindungi perempuan harus diiming-imingi gifts seperti itu? Dan apakah kadar heroik dari laki-laki diukur dari gifts itu?

Hadiah Valentine juga semakin menguatkan paradigma seolah-olah perempuan adalah makhluk sederhana yang dapat dibahagiakan dengan barang-barang sepele dan imut-imut. Meski tidak mutlak, namun secara tidak langsung kaum lelaki sudah mendidik pasangannya menjadi sosok yang materialis. Jika demikian halnya, lantas apa lagi artinya cinta?

Parahnya lagi, kelemahan wanita justru malah dipermainkan lelaki, apalagi jika pasangannya masih naif maka si pria akan semakin leluasa melancarkan aksinya. Ini justru menjadi sebuah ironi. Fenomena yang penulis paparkan sangat ambivalen dengan heroisme kaum lelaki, di mana kaum lelaki yang seyogianya berada di pihak yang melindungi, malah berbalik menjadi menggerayangi. Makanya, heroisme kaum lelaki menjadi ternodai dan akhirnya menjadi bumerang bagi diri sendiri.



• Eksploitasi Seksual

Hal-hal berbau seksual kini makin digandrungi kaum remaja, terutama remaja pria. Di hari Valentine pun, eksploitasi seksual kerap terjadi. Makna kasih sayang yang mulanya memiliki kesan indah, menjadi tercemari oleh ulah subjeknya sendiri.

Tentunya, eksploitasi seksual itu bisa terjadi juga karena faktor tripel ‘s’ (suka sama suka). Kaum wanita yang menjadi sasaran pun manut saja dibuai rayuan-rayuan gombal pria. Sebagai contoh, kita dapat melihat tradisi perayaan Valentine di Filipina di mana 5.300 pasangan menyambut hari itu dengan berciuman selama 10 detik. Sebuah tradisi maksiat yang tidak patut ditiru.

Memang, kita perlu memahami dan memaklumi karakter wanita yang goyah. Kaum wanita terlalu sentimentil sehingga mudah saja termakan rayuan gombal dari pria. Tapi setidaknya, kaum wanita janganlah melupakan norma dan tetap harus menanamkan dasar iman yang kokoh dalam dirinya.

Citra Valentine kini sudah makin tercoreng oleh eksploitasi seksual yang dilakukan pasangan remaja sendiri, meskipun (mungkin) banyak yang tidak menyadarinya. Itulah sebabnya, penulis sengaja menguak sisi gelap ini supaya Hari Valentine tidak lagi menjadi hari yang “kotor”, tetapi benar-benar dapat menjadi hari yang indah oleh kasih sayang yang positif.



• Penutup

Benar kata pepatah, di mana ada kelebihan di situ ada kekurangan. Hari Valentine yang selama ini ktia kenal sebagai hari yang baik, ternyata malah menyimpan sisi-sisi negatif yang sering kali terabaikan oleh banyak orang.

Makanya, remaja-remaja perlu menyadari hal-hal ini sejak dini sehingga nantinya tidak akan menjadi korban, terutama pelaku karena korban tidak akan muncul kalau tidak ada pelaku. Untuk kaum perempuan khususnya, harus lebih ketat memagari diri dari tindakan-tindakan negatif yang merugikan.

Remaja hendaknya juga jangan terlalu permisif dalam mengadopsi budaya-budaya luar yang ada. Butuh seleksi/filtrasi yang benar-benar jeli sehingga budaya yang diangkat tidak sampai merusak budaya lokal. Janganlah menganggap diri parno jika tidak mengikuti perkembangan/budaya luar karena hal itu tidaklah menjadi barometer parno atau tidaknya kamu. Memang, mengglobal itu perlu di tengah era globalisasi sekarang ini, tapi apa gunanya jika perkembangan yang diikuti adalah perkembangan yang negatif? Tetap saja akan dinilai jelek oleh orang lain.

Sebagai manusia yang memiliki akal budi, berinisiatiflah dalam mengubah citra Valentine yang sudah rusak. Jangan sampai pemerintah melarang peringatan Hari Valentine ini, biarpun Indonesia termasuk negara muslim. Valentine boleh saja diperingati dan dirayakan, asalkan masih sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Sayang bukan kalau hari yang begitu indah sampai dilarang untuk dirayakan? Nah, kamulah yang harus mengubahnya.

Selamat Hari Valentine dan selamat menginterpretasi kasih sayangmu!***

Medan, 2006


* artikel ini pernah dimuat di Harian Analisa (Medan), tanggal 06 Februari 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com