"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Friday, October 15, 2010

Filosofi Konduktivitas Remaja


”He who knows others is learned; he who knows himself is wise.” — Lao Zi


Kemudaan adalah simbol peluang jangka panjang yang mesti diapresiasi secara efektif oleh remaja. Namun, adanya kapasitas usia yang melimpah ini sama sekali tidak mewakili persepsi kesenggangan yang sering dinikmati tanpa perencanaan serius. Pengabaian ini jelas berpotensi menimbulkan ketergantungan (dependensi) yang tinggi pada remaja dan pada akhirnya akan dikonversikan menjadi sikap meniru (imitating), mengikuti (following) dan menjiplak (copying) sehingga remaja menjadi kehilangan nilai konduktivitasnya.

Makna konduktivitas di sini sebenarnya adalah hasil adaptasi dari konsep fisika yang menggambarkan tentang perpindahan energi dari suatu entitas ke entitas lain. Status remaja sebagai agent of change adalah alasan tunggal mengapa remaja perlu berperan sebagai sumber (origin) dari perpindahan tersebut. Tentu saja proses perpindahan ini dikatakan ideal apabila melibatkan produk-produk yang positif.

Selepas dari siklus pendidikan formal di sekolah, tanpa disadari kehidupan remaja telah beralih dari format dependensi (ketergantungan sepihak) menjadi interdependensi (ketergantungan resiprokal/dua pihak). Perubahan ini adalah hal yang wajar karena keremajaan bukan lagi sebuah proyek yang dikotak-kotakkan oleh kolom rapor, tetapi sudah mengarah pada peran kolektif dengan kebutuhan kontribusi yang lebih besar dari sebelumnya. Hal ini berlaku pada hampir semua bidang kehidupan terkini, dan sebaiknya jangan terbiasa menciptakan pengecualian untuk dihindari.

Tahap pertama yang akan secara otomatis menuntut implementasi format itu adalah tahap karier, di mana remaja mulai membangun kualitas nilai tawarnya. Jika mengacu pada kriteria kolektivitas, maka karier yang sukses adalah karier yang berjalan atas dasar penerimaan (acceptance), yaitu adanya pengakuan (acknowledgement), kepercayaan (trust) dan reliabilitas (reliability) dari rekan-rekan pada setiap garis kerja organisatoris. Di sinilah letak signifikansi konduktivitas sehingga remaja dapat menjadi media asal yang kredibel dalam menciptakan pengaruh bagi orang lain.

Sebagai contoh, pada kondisi tertentu, ada sebagian peristiwa yang penyelesaiannya tidak bisa sekadar mengandalkan komando (lisan) maupun korespondensi (tulisan). Konteks zaman yang terus berkembang tidak bisa lagi mengandalkan formalitas yang artifisial, karena konsep persuasi yang demikian hanya akan menciptakan kepatuhan mekanis, bahkan kadang-kadang cenderung terpaksa.

Sebaliknya, hasil yang diterima tidak akan sama apabila ada semacam pengaruh khusus yang dapat merambat pada setiap kesempatan sosialisasi maupun komunikasi. Kepatuhan yang tadinya diforsir akan berubah menjadi perasaan memiliki (sense of belonging). Itulah sebabnya, konduktivitas adalah aset dan investasi jangka panjang yang sangat bernilai karena pengaruh ini akan tetap utuh walaupun terjadi perubahan pada jabatan, status maupun golongan.

Sebagai pihak yang berpartisipasi dalam teamwork, remaja harus segera melupakan individualisme klasiknya dan membangun tiga unsur konduktivitas di atas dengan memadai. Ketiga unsur tersebut adalah master key yang akan menjadi kredit tersendiri bagi orang lain dalam memberikan penilaian terhadap seorang remaja.

Salah satu tantangan terberat yang harus diatasi oleh remaja adalah bagaimana menciptakan konduktivitas yang kuat di tengah kemudaannya. Tak dapat dipungkiri memang, budaya di Indonesia mempunyai sifat bawaan yang cenderung kurang mempercayai orang muda. Stigma ini memang cukup merugikan sebagian pelaku profesional muda. Angka-angka semacam usia, jam terbang (masa kerja) dan nilai akademis masih menjadi preferensi utama untuk menilai kelayakan seorang pelamar kerja. Sayangnya, remaja belum memiliki kapasitas dan kuasa untuk mengubah budaya klise itu.

Namun hal itu tidak sepenuhnya menjadi masalah. Remaja dapat beradaptasi dengan menciptakan benchmark pada dirinya sendiri. Dengan demikian, remaja akan bisa memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang seusianya. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri, karena orang akan memandang remaja tersebut tidak lagi menyikapi kemudaannya dengan percobaan, tetapi dengan pemberdayaan.

Jika remaja telah berhasil mencapai standardisasinya, maka remaja tersebut sudah memenuhi prasyarat utama untuk menjadi konduktif. Remaja seperti ini akan mulai dibutuhkan dan dicari, bahkan pada tahap lebih lanjut remaja yang demikian akan berpeluang untuk direkomendasikan.

Hal yang mungkin perlu diklarifikasi di sini adalah bahwa tujuan dari konduktivitas itu bukanlah sarana untuk pamer diri ataupun mencari pujian, melainkan untuk kelangsungan prospek dan respek. Tanpa adanya kesan konduktif, maka remaja bakal terus dianggap semata-mata sebagai eksekutor, bukan kreator.

Itulah sebabnya, sangat penting bagi remaja untuk menjadi orang yang bisa dipercaya (trustworthy) sejak masih muda, karena kepercayaan dari orang lain adalah modal dasar utama untuk merealisasikan rencana hidupnya kelak. Kepercayaan itu harus dipertahankan dalam bentuk komitmen kata, waktu, karakter, keterampilan dan sosialisasi.

Perlu diingat juga bahwa konsep konduktivitas ini tidak mengajarkan remaja untuk menjadi sosok dengan tipe karismatis dalam menciptakan pengaruh karena karisma hanya berfungsi membuat sesuatu menjadi mengesankan, tetapi tidak dapat mempertahankannya. Remaja tidak perlu merancang wibawa untuk menundukkan orang lain. Prinsipnya, seseorang akan dihormati berdasarkan kualitas keputusan yang dibuat, bukan dari atribut-atribut yang melekat pada dimensi visual dan fungsional jabatan.

Remaja selayaknya berbahagia atas prospeknya. Untuk itu, remaja perlu belajar untuk bisa loyal terhadap waktu karena konduktivitas tidak muncul secara insidental, tetapi melalui proses yang berkelanjutan. Albert Einstein mengatakan, “Wisdom is not a product of schooling, but a lifelong attempt to acquire it.” Jadi jangan berpikir bahwa konduktivitas bisa berhasil dengan mempublikasikan teori-teori yang elegan ataupun kata-kata motivasi yang puitis karena orang baru akan betul-betul percaya dengan pengaruh yang diberikan jika remaja tersebut pernah menjadi bagian dari fenomena itu sendiri.

Remaja juga mesti lebih menghargai risiko karena pada dasarnya orang baru akan menerima suatu pengaruh apabila mereka merasakan adanya keamanan dan kenyamanan untuk mengikuti pengaruh tersebut. Artinya, konduktivitas juga menuntut adanya jaminan (guarantee). Jika tidak, maka konduktivitas tidak lebih dari sekadar retorika belaka.

Semua ini jelas merupakan tantangan yang menuntut remaja untuk terus merevitalisasi kapasitasnya agar mampu mempertanggungjawabkan konduktivitas interpersonalnya dengan memadai, melewati semua label skeptis yang melekat pada remaja. Dengan demikian, remaja baru bisa menerobos sekat-sekat usianya dan tampil impresif, menjadi prototipe yang generalis dan katalis.

Konduktiflah, maka Anda akan tetap eksis!***

Medan, 15 Oktober 2010



* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 02 Oktober 2011; dapat juga dibaca di Analisa Online.

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com