"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Sunday, January 21, 2007

Refleksi Kualitas Remaja Kita


Di abad modern ini, manusia dituntut kualitasnya untuk dapat terjun dalam persaingan global. Kualitas sumber daya manusia (SDM) sudah merupakan faktor yang wajib dimiliki oleh setiap pribadi untuk dapat menjelma menjadi sosok yang berdaya saing tinggi. Indonesia sebagai bangsa yang tengah dilanda krisis kualitas sebenarnya malah menyimpan potensi yang unggul. Hal ini terutama terlihat pada kaum remaja.

Remaja sebagai generasi penerus bangsa tentulah harus memiliki SDM yang andal agar dapat membangun bangsa ini dari keterpurukan. Sebagai negara yang disebut negara sedang berkembang, Indonesia amat membutuhkan peran generasi muda dalam menyukseskan pembangunan bangsa. Dengan kata lain, remaja merupakan tonggak harapan bangsa untuk mencapai cita-cita nasional.

Bicara soal kualitas (SDM), maka remaja Indonesia patut kita acungi jempol. Sudah banyak bukti yang dapat mengantar ktia melihat kecemerlangan remaja kita yang populasinya mencakup hingga seperempat dari jumlah penduduk Indonesia.

Satu hal yang mengindikasikan hal itu ialah banyaknya universitas luar negeri yang menawarkan bangku dengan berbagai fasilitas dan keringanan kepada remaja pelajar Indonesia. Mereka bahkan rela datang ke beberapa sekolah—salah satunya sekolah penulis beberapa waktu lalu—untuk mempresentasikan program pendidikannya. Tentu, ini menjadi satu bukti bahwa potensi remaja (baca: pelajar) Indonesia memang diakui keunggulannya. Inilah yang membuat universitas-universitas negeri jiran (terutama Singapura) rame-rame merekrut remaja Indonesia untuk ditempatkan menjadi pelajar dan akhirnya menjadi pekerja di negara mereka.

Dari sisi akademis, kemampuan remaja Indonesia memang tidak lagi diragukan. Lihat saja TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang sejak 1993 sudah menyabet prestasi membanggakan. Andika Putra misalnya, siswa SMA Sutomo 1 Medan ini mampu menempati urutan ke-7 dari 10 peraih nilai tertinggi dalam Olimpiade Fisika antarnegara se-Asia ke-6 di Pekanbaru, Riau. Alhasil, medali emas pun direbutnya setelah bergelut dengan 340 pelajar dari 77 negara.

Prestasi yang lebih impresif datang dari Septianus George Saa yang akrab dipanggil Oge. Ironisnya, Oge malah berasal dari Papua, propinsi yang selama ini dikenal identik dengan keterbelakangan. Pelajar SMUN 3 Buper Jayapura ini merupakan juara pertama dalam Lomba First Step to Nobel Prize Physics (FSNPP) di Polandia 2004. Oge bahkan mampu membuat pakar-pakar fisika kelas wahid dunia tercengang dengan paper-nya yang berjudul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor”.

Dalam paper tersebut, Oge menyajikan penemuannya yaitu rumus untuk mengkalkulasi daya tahan antara titik-titik acak dalam kisi-kisi heksagonal. Penemuannya ini merupakan penemuan baru yang akan memperluas cakrawala dalam dunia fisikaelektro. Karena karyanya yang begitu orisinal, para juri pun langsung menentukan paper-nya menjadi yang terbaik dan berhak mendapat kehormatan tertinggi untuk ajang FSNPP, tanpa menunggu pemeriksaan paper lain dari 30 negara. Suatu prestasi yang amat fantastis!

Oge hanyalah satu dari sekian banyak remaja Indonesia yang sukses dalam penelitian. Setiap tahunnya, penemuan-penemuan baru selalu mengalir dari otak remaja Indonesia, baik itu dalam bidang iptek maupun bidang-bidang yang berkenaan langsung dengan kehidupan masyarakat. Inovasi yang dihasilkan bukan saja berguna untuk membantu kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat menyerap tenaga kerja dan melestarikan lingkungan.

Seperti halnya penelitian yang dilakukan Liestya Chandra Ayu Kusuma (Kaltim) dan Sigit Dwi Maryanto (Yogyakarta). Hasil penelitian mereka dinobatkan menjadi penelitian terbaik dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tya mengadakan penelitian mengenai pembuatan batako dari serbuk kayu ulin sebagai pengganti pasir. Sementara Sigit mengajukan penelitian mengenai tape singkong yang proses fermentasinya melalui suntik.

Karena penelitian inilah, mereka berdua berhak mendapatkan paten atas nama pribadi. Tapi beratnya, untuk memperoleh sebuah paten mereka harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah. Jumlah yang sangat besar untuk seukuran remaja. Akan sayang sekali jika kerja keras mereka harus tidak mencapai hasil maksimal hanya karena masalah biaya. Padahal, penelitian mereka juga ada manfaatnya untuk negara dan terutama masyarakatnya yang mayoritas masih menggantungkan hidupnya pada usaha industri kecil dan menengah (UKM).

Nah, kembali lagi kepada soal kualitas remaja Indonesia. Semua bukti yang penulis paparkan tentunya dapat menjadi suatu bahan penilaian terhadap kualitas remaja Indonesia.

Ternyata, remaja Indonesia memang berpotensi, inovatif dan kreatif. Bahkan, remaja kita mampu berbicara di tingkat internasional dan menunjukkan eksistensinya. Ini berarti remaja kita tidak kalah dari remaja negara lain.
Penilaian ini memang relatif bagi setiap orang. Apalagi pendidikan Indonesia yang cukup buruk bisa jadi mempengaruhi asumsi masyarakat terhadap kualitas masyarakat terhadap kualitas remaja Indonesia. Belum lagi krisis moral yang melanda bangsa Indonesia juga turut mendera remaja Indonesia. Hal inilah yang terutama mencoreng imej remaja Indonesia, bahkan mungkin di mata dunia.



• Pentingnya Moralitas

Mari kita menyimak contoh berikut. Dalam sebuah pertandingan, seorang atlet menunjukkan kelihaiannya dalam menguasai bidang olahraga tersebut. Semua teknik permainan yang dimainkannya benar-benar terlatih dan memukau semua penonton yang menyaksikannya. Tampaknya atlet tersebut memang sudah sangat berpengalaman. Namun, dalam pertandingan tersebut, dia kalah dari lawannya yang dikenal lebih lemah. Dia tidak mau menerima kekalahan tersebut dan mencak-mencak, mengomeli juri. Akibatnya, atlet itu pun disoraki penonton dan dilempari botol plastik dan barang lainnya. Dan sejak saat itu, dia tidak pernah lagi menjadi unggulan penonton.

Dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa moral juga merupakan faktor penunjang kualitas yang penting. Kendati atlet tersebut amat hebat, namun kehebatannya menjadi tidak diindahkan lagi karena sikapnya yang tidak sportif dan emosional. Sama seperti remaja Indonesia. Biarpun remaja Indonesia berkualitas dan amat potensial, namun semua itu menjadi tertutupi oleh moralitas yang bobrok. Tak heran jika masyarakat mempunyai perspektif yang jelek tentang remaja Indonesia.

Jika kita menilik gaya hidup remaja Indonesia masa kini, maka kita akan menemukan tindak-tanduk remaja Indonesia yang amat deviatif. Remaja Indonesia telah terbius oleh kenikmatan sesaat. Apa pun bisa dilakukan demi memperoleh kenikmatan itu, baik remaja putra maupun remaja putri.

Untuk kasus merokok, 73,1% terdapat pada remaja putra dan 12,5% pada remaja putri; minum-minuman keras 42,2% pada putra dan 3% pada putri; narkoba 22,4% pada putra dan 2,3% pada putri; seks pranikah 9,4% pada putra dan 3,2% pada putri. Tawuran, kriminalitas, kebut-kebutan dan premanisme juga sudah merupakan pemandangan yang lazim dijumpai di kalangan remaja.

Mereka tampaknya selalu apatis dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan moralitas, padahal moralitas merupakan sisi penting yang selalu menjadi penilaian seseorang. Dalam dunia kerja pun, biar seseorang amat ahli, tapi jika orang tersebut memiliki karakter malas, statis dan apatis, perusahaan tetap menolak mempekerjakan orang demikian. Biasanya orang seperti ini akan didepak dari perusahaan karena dianggap tidak akan memberikan kontribusi apa-apa, malah mungkiin dapat merugikan;

Laksamana Pertama Purn Eddy Tumengkol mengungkapkan, “Ilmu pengetahuan adalah kekuatan dan kekuasaan, tapi karakter dan moral lebih berarti, karena itu pendidikan hati sebenarnya lebih utama daripada pendidikan otak.” Jelas bahwa moralitas lebih penting dan berharga daripada pengetahuan. Sebab karakter dan moralitas yang baik dapat menghasilkan pengetahuan dan kualitas (rajin pangkal sukses), tetapi pengetahuan yang baik tidak akan mendatangkan moralitas yang baik. Malah sering kali sikap seseorang menjadi buruk akibat pengetahuan yang baik itu—karena merasa dirinya hebat lantas menjadi angkuh dan semena-mena.

Moralitas yang buruk boleh jadi adalah akibat sosialiasi primer yang gagal. Orang tua sebagai pelaku utama kurang mengontrol kehidupan anaknya sehingga anaknya yang masih dalam kondisi emosi labil mudah saja terbawa arus kehidupan dan akhirnya terjerumus dalam praktik pergaulan bebas yang mengandung dosa.

Sangatlah memprihatinkan apabila kualitas remaja yang sedemikian cemerlang harus ternodai oleh akhlak remaja yang buruk. Sebab kualitas tidak akan berguna jika tidak dibarengi dengan karakter dan akhlak yang mulia, seperti halnya remaja Indonesia. Butuh sinergisme keduanya sehingga seorang remaja baru bisa berinkarnasi menjadi sosok yang benar-benar berguna bagi nusa dan bangsa, dan terlebih lagi kepada orang tua.



• Penutup

Indonesia bisa sampai pada keadaan seperti hari ini adalah karena faktor moralitas yang bobrok (sebagai contoh kasus anggota DPR yang studi banding ke Mesir; 75 menit untuk “bekerja”, sisa waktunya untuk bersenang-senang). Jika keadaan terus-menerus begini, maka Indonesia tidak akan pernah bisa maju.

Untuk itulah, implikasi remaja Indonesia sebagai generasi muda sangat diperlukan untuk mengangkat Indonesia dari ketertinggalan, sekaligus memperbaiki citra Indonesia di mata dunia. Krisis moral yang melanda bangsa Indonesia janganlah sampai ikut mempengaruhi remaja Indonesia. Remaja Indonesia perlu menempa diri agar bisa menjadi orang yang betul-betul berkualitas dan bermoral.

Sebenarnya, dalam mencapai tujuan/cita-cita nasional, remaja Indonesia sudah sampai pada setengah tangga. Kualitas SDM remaja Indonesia sudah ada, tapi lagi-lagi masalah moral selalu menjadi batu sandungan bagi mereka untuk maju. Masalah morallah yang selalu menghitamkan imej dan remaja itu sendiri. Makanya, jika kita menyinggung soal kualitas remaja Indonesia, masyarakat selalu memberikan respons negatif. Ini karena masalah kualitas remaja Indonesia cenderung masih menjadi polemik di masyarakat.

Pemerintah sendiri masih kurang responsif dalam menyikapi prestasi-prestasi yang ditelurkan remaja Indonesia. Penghargaan pemerintah terhadap prestasi anak bangsa masih kurang. Seperti pernah dituturkan GM H Ardiansyah—satu dari 6 grandmaster catur Indonesia—pemerintah kurang memperhatikan prestasi-prestasi yang ada. Lain dengan di luar negeri, masa depan mereka (atlet) yang berprestasi dijamin oleh negara. Bahkan uang dan rumah pun bisa saja negara hadiahkan.

Adalah tak benar jika untuk mendapatkan hak paten masih harus penelitilah yang membayar. Sudah seyogianya ini menjadi tanggungan pemerintah karena toh mereka melakukan penelitian tersebut juga membawa nama negara. Di samping itu, penemuan-penemuan yang dihasilkan juga adalah aset negara yang harus diliindungi. Jadi, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin perolehan hak paten bagi para peneliti. Dengan adanya penghargaan seperti ini, niscaya yang lainnya akan termotivasi untuk terus berkarya dan berprestasi.

Menjadi sosok yang berprestasi bukanlah hal yang sulit. Yang penting akal, ikil dan okol dan juga jangan melupakan moralitas sebagai faktor utama yang menunjang kualitas seseorang. Kualitas seseorang barulah dikatakan sempurna jika memiliki kemampuan (skill) dan juga moralitas yang sehat.

Kondisi remaja Indonesia dewasa ini memang menjadi keprihatinan nasional. Namun, kita jangan hanya menggelengkan kepala, tetapi harus lebih proaktif untuk membalikkan keadaan. Memang, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi ya… biar alon-alon asal kelakon-lah.

Kualitas remaja Indonesia merupakan tanggung jawab semua pihak, mulai dari orang tua hingga pemerintah. Semua komponen harus lebih giat membina kualitas remajanya, terutama moralitasnya yang kian luntur dari waktu ke waktu.

Masa depan bangsa Indonesia bersandar pada remajanya. Remajalah yang kelak akan membangkitkan nasib bangsa yang sudah amat terpuruk ini. Untuk itu, sejak dini remaja Indonesia perlu mewujudkan dirinya menjadi remaja yang berkualitas secara skill maupun moral, sehingga bangsa Indonesia kelak tidak terseret oleh arus kehidupan global menjadi bangsa yang pecundang.***

Medan, 2007


* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 21 January 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com