"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Thursday, September 29, 2011

Motivasi = Inspirasi atau Basa-basi?



Motivasi! Sebuah kata yang sarat akan makna karena visi fundamentalis yang disampaikannya. Namun sayang, ia bukan hoki yang bisa mengangkat batin atau mengubah keadaan, karena sesungguhnya ia hanyalah kalimat yang “dipuisikan” dari ketidaktahuan awam dan mengandung kekuatan temporer. Kenyataan ini berubah ketika motivasi itu sampai ke hadapan orang-orang yang sentimental. Motivasi malah menjadi hiburan dan dijadikan koleksi, sesekali bahkan berisiko menyebabkan “sakaw”. Potensi inilah yang melatarbelakangi terjadinya komersialisasi motivasi. Ia yang sebetulnya memang sudah tersembunyi dalam potensi setiap orang akhirnya dijual dengan sistem pemesanan early bird seharga Rp menyakitkan! Satu pertanyaan: pantaskah?

Di Indonesia, ada satu kecenderungan di mana superioritas akan diberikan kepada orang-orang yang mampu memunculkan motivasi terbaik. Orang sentimental akan menganggap bahwa menguasai motivasi adalah suatu kelebihan yang istimewa. Padahal, ketidaktahuan akan sesuatu selalu dimanipulasi menjadi satu pangsa pasar yang menjanjikan, sebagaimana banyaknya seminar/talkshow motivasi yang beredar dan berbayar. Secara tidak langsung, para sentimental telah terperangkap dalam kehausannya sendiri yaitu kekaguman khusus terhadap seorang motivator handal dan kalimat-kalimat mutiaranya.

Kekaguman memang bukan suatu larangan, tetapi kekaguman tanpa evaluasi dapat berakibat fatal seperti kepercayaan yang berlebihan terhadap apa yang dikatakan sang motivator dan akhirnya berujung pada fanatisme dan hipnotisme. Banyak perusahaan besar yang rajin menggelar seminar motivasi bagi para karyawannya, dengan alasan pengembangan karyawan dan aktualisasi wawasan dari luar. Kebijakan demikian tidak tepat sasaran karena para karyawan justru akan lebih merasakan pengaruh positif dari luar daripada yang diberikan perusahaannya secara langsung. Akhirnya rasa kagum terhadap perusahaan beralih menjadi sikap membanding-bandingkan.

Pada episode lain yang lebih menggelikan lagi, seminar motivasi malah dijadikan sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa. Ini diadaptasi oleh sebagian perguruan tinggi swasta di kota Medan. Dari sudut pandang marketing, ini bisa jadi satu kesempatan untuk mengejar profit massal. Dari pandangan orang sentimental, ini adalah kesempatan untuk menambah koleksi. Tetapi jika ditinjau dari sudut profesionalisme, ini adalah ajang eksploitasi mahasiswa, baik dalam aspek ekonomis maupun aspek edukatif.

Pada dasarnya, motivasi adalah suatu panggilan naluri. Jadi adalah tidak beralasan jika motivasi sampai dipaksakan dan dibuat menjadi syarat kelulusan yang tidak punya dasar edukatif sama sekali. Ini adalah indikasi negatif yang menunjukkan arah pembinaan di Indonesia mulai menyimpang, termasuk dalam hal memandang motivasi itu sendiri.

Memang, tidak pernah ada motivasi yang salah, konon lagi bermaksud buruk. Hanya yang perlu dipahami adalah jangan sampai motivasi menimbulkan ketergantungan. Untuk betul-betul menjadi seorang yang matang bukan ditentukan dari banyaknya kita menguasai atau mendalami motivasi, tetapi bagaimana kita tegas akan komitmen yang berbasis pada jati diri kita. Segala kondisi, target dan prospek akan berpihak kepada kita apabila kita telah menemukan manifestasi yang tepat dan berasal dari diri kita sendiri, jadi tidaklah perlu manifestasi dari luar justru dijadikan sebagai pedoman dan kunci dalam semua keputusan.

Menukil kalimat salah satu motivator terkemuka di Indonesia, “bagi orang gagal selalu memiliki kelebihan satu alasan, tetapi bagi orang sukses selalu memiliki kelebihan satu cara”. Kalimat ini sesungguhnya sudah mencerminkan bahwa para motivator dan orang hebat di dunia juga adalah manusia biasa, tetapi karena mereka selalu memiliki kelebihan satu cara, maka akhirnya mereka bisa menemukan manifestasi yang tepat untuk kehidupan mereka. Jadi motivasi hanyalah berperan sebagai input, namun bukan berarti seluruh keputusan dan kondisi kita sepenuhnya ditentukan dari motivasi-motivasi itu. Kalimat motivasi hanyalah sebuah gambaran umum di tengah kemajemukan karakter, adat dan sistem lingkungan. Mengikuti gambaran umum tersebut berarti menyamakan pendirian diri sendiri dengan orang lain, apalagi jika motivasi-motivasi yang sifatnya berorientasi pada produk/jasa tertentu.

Sebagai manusia kreatif, sudah sepatutnya tidak menggantungkan kondisi pada faktor luar, tetapi dapat mengalahkan ketidaktahuan sendiri dengan eksplorasi jati diri yang tepat. Karena kelebihan para motivator adalah hanya karena mereka lebih cepat tahu dibanding orang lain. Intinya, kesuksesan (dalam segala aspek) adalah berbicara tentang inisiatif, bukan dependensi. Dan lagi inisiatif tersebut juga jangan diproses berdasarkan pandangan para motivator (meskipun mungkin berlaku untuk semua manusia secara global) karena kita memiliki pengalaman dan konsep kehidupan yang tersendiri. Untuk itu, filosofi ataupun prinsip yang kita anut juga harus berasal dari pembelajaran kita sendiri, tentu saja bukan dengan mengabaikan prinsip (motivasi) lain yang ada, tetapi paham bahwa motivasi lain juga berasal dari pembelajaran orang tersebut dengan pikiran dan pandangannya sebagai dominasi. Kesuksesan Anda berkutub pada pandangan Anda, bukan pandangan orang lain.

Sebagai pembelajaran masalah, kita dapat melihat aksi Tung Desem Waringin pada 01 Juni 2008 yang dengan nyata menyebarkan pecahan uang dan tiket seminar senilai total 100 juta rupiah kepada penduduk di desa Dranggong Kecamatan Taktakan Serang, Banten. Aksi ini sempat dikecam karena dianggap mempermainkan perasaan sosial masyarakat. Namun, kecaman ini dibantahnya dengan dalih untuk mengkritik strategi pemasaran modern, sekaligus sebagai upaya promosi untuk seminar dan bukunya yang berjudul Marketing Revolution. Dengan kapasitas sebagai seorang motivator handal, apakah pantas melakukan sebuah strategi yang meremehkan nilai uang dan kemanusiaan seperti itu—bahkan bertolak belakang dengan judul bukunya sendiri? Lagipula aksi itu sangatlah tidak mendidik masyarakat karena seolah-olah menjadikan masyarakat sebagai pion materialisme yang tidak berdaya.

Seorang motivator saja dapat menggagas ide kontroversial yang bahkan ditujukan sebagai motivasi untuk karyanya sendiri. Jadi apakah kalimat-kalimat artifisial semacam motivasi itu masih pantas untuk diadaptasi secara langsung tanpa melalui filtrasi yang selektif? Jangan mencari motivasi karena butuh, termasuk juga untuk sekadar mencari hiburan, ataupun karena kekaguman subjektif terhadap figur-figur tertentu. Sistem pembelajaran motivasi yang demikian hanya akan menimbulkan konflik pada pikiran, karena sudah pasti Anda tidak akan mampu mencerna seluruh motivasi secara massal dan dalam waktu instan.

Motivasi bukan sebuah wacana, sehingga ia tidak cocok dinikmati dengan hanya dibaca atau didengar. Namun motivasi adalah sebuah wahana, sebuah pertengahan yang menghubungkan kepolosan dan kematangan. Siapa pun itu juga tidak akan kalah untuk memunculkan motivasi terbaiknya, kalau saja yang bersangkutan dapat menyadari bahwa motivasi bukan sebuah tutur tradisional yang tepat untuk disikapi dengan oral maupun verbal, tetapi harus dengan kemandirian yang berorientasi kepada inisiatif.

Selanjutnya, Anda akan paham, apakah setiap materi yang datang kepada Anda adalah sebuah inspirasi betulan, atau sekadar basa-basi, promosi atau malah hanya sebuah sensasi.***

Medan, 29 September 2011



* artikel ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 18 Desember 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com