"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Tuesday, December 27, 2011

Tips Menjawab Diplomatis Saat Wawancara Kerja



Bagi para pemula yang baru terjun ke dunia karier, pasti merasakan banyak keraguan dan kebutaan tentang seluk-beluk dan kualifikasi kerja yang ideal. Status awal yang hanya berlabel fresh graduate membuat mereka sulit untuk meraba tuntutan dan kompleksitas dunia kerja, sehingga mereka pun sulit mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang ada. Tidak ada petunjuk, tidak ada pengalaman dan tidak ada kepastian tujuan, tak pelak membuat dunia kerja terasa menjadi begitu menakutkan untuk dijajaki hanya dengan modal kepolosan sertifikat dan ijazah.

Ya, jujur saja memang, pada tahap yang signifikan, dunia kerja bisa jadi amat sangat menakutkan, bahkan terkesan ganas karena ternyata dunia karier juga mengandung politik. Namun tenang, kondisi ini adalah iklim yang hanya akan dirasakan oleh para pelaku karier yang sudah mencapai tahap profesional. Tentunya para pemula tidak akan secepat itu terlibat dalam medan persaingan seperti itu. Pada kesempatan ini penulis akan lebih memfokuskan pada persiapan awal yang wajib diperhatikan oleh para pemula, agar bisa sukses menyelami karier baru mereka.

Tantangan yang pertama sekali akan menjajal nyali para pemburu gaji adalah pada saat sesi wawancara kerja. Sesi ini bisa jadi cukup menakutkan bagi beberapa orang, bahkan untuk pekerja yang sudah beberapa kali berpindah perusahaan, tergantung perkembangan mental dari orang yang bersangkutan. Biasanya, ketangguhan yang dibawa pada saat wawancara selalu bergantung pada tingkat kepercayaan diri. Namun jangan terburu-buru untuk bangga terhadap prestasi akademik Anda pada saat sekolah/kuliah dulu, karena belum tentu kepiawaian akademik Anda akan terpakai pada saat terjun dalam dunia kerja.

Tingkat kesulitan wawancara yang dihadapi dapat bergantung pada tiga hal, yaitu skala perusahaan tempat Anda melamar kerja, bidang dan jabatan yang Anda pilih, serta yang terakhir adalah modal personal Anda sendiri. Pada tahap ini faktor yang bekerja paling dominan adalah batin, sementara fisik juga tidak kalah pentingnya untuk menyenangkan mata dari sang pewawancara. Jadi sebelum memulai interaksi pertama dengan calon pewawancara, siapkanlah batin Anda terlebih dahulu agar tidak mengalami “skakmat” saat ditanyai.

Meskipun Anda datang sebagai seorang pemula, tapi Anda bisa saja menutupi kepolosan Anda dengan cara menjawab yang diplomatis. Bedakanlah antara diplomatis dengan bermulut besar, karena diplomatis adalah tanda dari orang yang memiliki konsep dan rancangan kilat dalam memberikan respon, dan yang terpenting adalah dapat dipertanggungjawabkan. Di bawah ini, penulis menyertakan beberapa panduan mengenai cara menjawab diplomatis pada saat interview, baik bagi para pemula maupun untuk para perintis karier lanjutan yang masih gamang dalam menghadapi wawancara kerja. Pertanyaan-pertanyaan yang dipilih sudah diseleksi berdasarkan frekuensi yang paling sering muncul pada saat wawancara kerja dan biasanya berlaku pada hampir semua perusahaan.


1. Apa motivasi utama Anda dalam bekerja?

– Motivasi utama saya jelas adalah untuk pengembangan karier, sekaligus untuk mengembangkan diri dalam bidang pekerjaan yang saya geluti.

Pertanyaan ini adalah senjata ampuh dari para pewawancara untuk mengukur tingkat kedewasaan Anda dalam membuat suatu pola pikir. Apalagi jika Anda datang sebagai pemula, maka pola pikir Anda akan dinilai, apakah Anda masih terikat dengan keremajaan masa sekolah Anda, atau Anda sudah betul-betul cukup matang untuk siap terjun ke dunia kerja. Sering kali, pertanyaan ini mengelabui beberapa pemula hingga mereka selalu menjawab bahwa motivasi mereka bekerja adalah karena ingin mendapatkan penghasilan. Anda akan menjadi amat sangat konyol kalau sampai menjawab demikian, karena itu berarti pola pikir Anda masih terlalu fokus pada kepentingan materi pribadi, dan bukannya fokus pada pengalaman dan masa depan Anda. Pahamilah bahwa berpikir adalah soal jarak, dan Anda dapat memilih untuk menjadi seseorang yang berpikiran pendek atau berpikiran panjang.


2. Apa alasan Anda mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya?

– Saya ingin mencoba kesempatan untuk berkarier di level yang lebih tinggi sehingga hal itu akan memberikan pengaruh yang lebih signifikan untuk pengembangan diri dan karier saya sendiri

Jangan pernah meceritakan kasus Anda di perusahaan lama sebagai alasan mengundurkan diri karena hal itu hanya akan menjatuhkan kesan terhadap disiplin Anda. Begitu juga halnya, jangan pernah memberikan jawaban yang terlalu umum dan biasa seperti, “Karena saya ingin mencari pekerjaan yang lebih baik”, atau “Karena saya merasa tidak bisa berkembang di perusahaan lama.” Interviewer yang cermat akan menilai Anda sebagai seorang yang banyak mengeluh dan tidak dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan kerja. Hindari menjelek-jelekkan perusahaan lama Anda, karena Anda justru akan dipandang sebagai orang yang rawan bencana dan riskan untuk diterima. Pada prinsipnya, tidak ada orang yang lebih menyalahkan sebuah perusahaan daripada karyawannya sendiri.


3. Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan kami?

– (khusus untuk perusahaan yang melampirkan identitas pada iklan lowongan kerja, Anda bisa mendapatkan informasi tentang perusahaan melalui internet ataupun langsung dari situs resminya)

Pertanyaan ini adalah untuk menguji seberapa jauh persiapan yang Anda lakukan dalam melamar kerja dan juga untuk melihat seberapa jauh Anda mengenal calon perusahaan baru Anda. Jika Anda memahami calon perusahaan Anda dengan baik, itu akan menimbulkan kesan bahwa Anda adalah seorang yang perhitungan dan teliti sebelum memulai suatu hal, sehingga lamaran Anda tidak akan dinilai sebagai sebuah percobaan asal-asalan, tetapi sudah melalui pertimbangan yang matang. Selain itu, pertanyaan ini juga untuk melihat seberapa jauh Anda ingin tahu tentang calon perusahaan baru Anda, karena keingintahuan Anda akan menjadi simbol dari antusiasme Anda. Pada kenyataannya, Anda tidak akan mungkin bisa menjelaskan semua detil tentang suatu perusahaan. Jadi Anda bisa memulai dengan sedikit menyinggung pengetahuan Anda mengenai visi dan misi perusahaan (menunjukkan seberapa jauh Anda tahu tentang komitmen perusahaan), company profile dan pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih perusahaan.


4. Lalu apa yang akan Anda lakukan apabila pekerjaan/kondisi Anda di perusahaan baru ini tidak sesuai dengan keinginan/harapan Anda?

– Beradaptasi!!!

Jangan pernah mengeluh atau menunjukkan tanda-tanda kekerasan hati Anda, tetapi perhatikanlah bahwa pertanyaan di atas sesungguhnya untuk menguji apakah Anda adalah seorang man power yang bisa bekerja dalam waktu yang lama, dan juga bisa bekerja dalam tim atau tidak.


5. Ceritakan mengenai pengalaman Anda pada perusahaan sebelumnya!

– (Fleksibel, tergantung bidang dan pekerjaan Anda)

Deskripsikan pengalaman Anda secara singkat dan jelas. Jangan membicarakan mengenai tugas Anda, tetapi tekankan pada tanggung jawab Anda. Perusahaan tidak perlu tahu Anda pernah mencetak berapa lembar dokumen dalam sehari, tetapi yang penting adalah seberapa besar pengaruh dokumen tersebut bagi pekerjaan Anda. Tambahkan juga beberapa statistik yang berhasil Anda capai pada perusahaan lama (jika ada), misalnya seberapa jauh Anda dapat melampaui target penjualan. Inti dari pertanyaan ini adalah untuk mengetahui seberapa penting keberadaan Anda di perusahaan lama. Jadi jawablah dengan kata-kata yang betul-betul menunjukkan pengalaman Anda, karena pertanyaan ini jugalah yang akan menentukan seberapa jauh perusahaan baru mesti menghargai Anda dalam hal gaji (remunerasi).


6. Apa yang bisa Anda berikan untuk perusahaan kami? Atau apa kelebihan dari Anda yang membuat perusahaan kami harus merekrut Anda?

– Tentu saja, sesi ini baru merupakan kesempatan pertama kita bertemu, jadi belum ada performa kinerja yang sempat untuk saya tunjukkan/berikan sekarang ini. Untuk itu saya tidak akan memformat janji, karena masih terlalu dini. Tetapi jika saya ditanya hal apa yang dapat saya berikan untuk perusahaan, saya akan menjawab: KOMITMEN! Saya datang dengan sebuah tanda tangan pada paket lamaran saya, jadi keputusan untuk melamar kerja di sini adalah sekaligus keputusan untuk berkembang bersama perusahaan.

Jangan pernah menyebutkan prestasi masa remaja Anda ataupun prestasi lainnya yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan Anda di suatu perusahaan. Misalnya juara kompetisi olahraga ataupun seni. Jangan pula menyebutkan kelebihan yang berkaitan dengan karakter karena Anda bisa dinilai sebagai seorang yang subjektif dan membanggakan diri. Misalnya, “Saya adalah orang yang mau bekerja keras, jujur dan bisa bekerja dalam tim”. Jika Anda sampai menjawab demikian, siap-siaplah dihajar kembali dengan pernyataan, “Apa yang Anda jawab tadi memanglah sebuah keharusan, bukan sebuah keistimewaan.


7. Ceritakan mengenai kelebihan dan kelemahan Anda!

– (fleksibel, lihat penjelasan di bawah)

Banyak teman yang bertanya kepada penulis bagaimana cara yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Pertanyaan ini memang agak sulit untuk dijawab dengan jujur, apalagi jika seorang calon karyawan ditanya mengenai kelemahannya. Cara menjawab yang benar sebetulnya adalah dengan memfokuskan pada bidang kerja yang akan Anda masuki, bukan pada hal-hal umum seperti karakter dan nilai akademik yang tidak memiliki kesan apa-apa. Khusus untuk pertanyaan tentang kelebihan, jangan menjawab dengan hal yang umum dan biasa, tetapi jawab sesuai dengan penguasaan Anda terhadap bidang kerja Anda. Bisa juga Anda sampaikan mengenai cara Anda dalam menyelesaikan masalah. Khusus untuk kelemahan, jangan terlalu merendahkan diri sendiri dan jangan menyalahkan pihak lain/lingkungan. Jawaban yang paling diplomatis adalah, “Kelemahan saya adalah sama seperti orang pada umumnya, yaitu keterbatasan saya sebagai manusia untuk bekerja sendiri, sehingga saya tetap butuh dukungan untuk bekerja sebagai sebuah teamwork.”


8. Selain karier apa saja aktivitas Anda yang lainnya?

– (fleksibel, tergantung pada aktivitas Anda)

Pertanyaan ini untuk mengukur seberapa aktif Anda dalam mengisi waktu Anda. Man power yang aktif akan memberi kesan bahwa yang bersangkutan adalah orang yang dapat memberikan kontribusi lebih dari apa yang ditetapkan atau dirumuskan secara inisiatif. Namun berhati-hatilah, usahakan aktivitas yang Anda sampaikan adalah benar-benar sebuah aktivitas yang menuntut kerja nalar dan pengalaman sehingga Anda akan tampak kritis dan berpotensi, misalnya saja menulis. Perusahaan tidak akan pernah menghargai Anda apabila Anda justru menjawab bahwa Anda sedang aktif menjalani aktivitas fitness.


9. Berapakah gaji yang Anda inginkan di perusahaan baru ini?

– (bertanyalah balik) Berapakah standar gaji awal dari perusahaan untuk posisi yang saya lamar?

Jangan pernah menyebutkan sebuah nominal secara langsung sebelum Anda tahu sistem remunerasi dari perusahaan yang bersangkutan. Sesuaikan dengan standar yang ada dan pengalaman Anda sehingga Anda tidak dirugikan dalam negosiasi gaji. Jangan terlalu pasrah dalam menerima nominal yang ditawarkan. Tetapi usahakan untuk bernegosiasi minimal satu kali dengan margin yang realistis. Jangan segan untuk bertanya mengenai fasilitas ataupun tunjangan lain yang mungkin tersedia, karena perusahaan bukanlah yayasan yang dapat menawarkan diri secara inisiatif kepada Anda, kecuali kalau hal tersebut dikompromikan.


Satu hal yang penting untuk penulis sampaikan adalah penulis tidak pernah merekomendasikan kepada anda untuk menghapal mati seluruh jawaban di atas, untuk kemudian dirapalkan seperti mantra jika kebetulan berjumpa dengan pertanyaan yang sama. Pahamilah bahwa Anda bukan lagi berinteraksi dengan guru, tetapi dengan calon atasan ataupun staf personalia yang akan menentukan nasib perekrutan Anda. Seluruh panduan di atas hanyalah sebagai sebuah gambaran untuk memudahkan Anda dalam menyesuaikan dengan gaya komunikasi Anda.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih lancar dan meyakinkan, Anda dapat berlatih sendiri di depan cermin, karena bagaimanapun, wawancara kerja tetap melibatkan faktor psikologis dan oleh karena itu Anda perlu membiasakan diri. Meski konteks wawancara kerja bersifat formal, namun Anda tidak perlu terlalu canggung dalam berinteraksi. Tidak ada salahnya Anda bercanda dalam tahap yang wajar, ataupun sesekali mengobrol tentang topik di luar wawancara karena trik ini akan membuat suasana wawancara Anda menjadi lebih santai, asal jangan sampai mengabaikan etika.

Konsep wawancara yang penulis sampaikan di atas hanyalah sebuah konsep yang berlaku umum. Masih banyak sistem wawancara lain yang lebih sulit tingkatannya dan membutuhkan trik tertentu, seperti wawancara seleksi (bersamaan dengan kandidat lain), wawancara panel (oleh beberapa pejabat sekaligus), wawancara melalui telepon, wawancara kasus dan wawancara presentasi yaitu dengan cara pelamar mempresentasikan career pitch (rancangan karier) pribadinya di depan panelis.

Apa pun itu, sebagai pemula Anda perlu banyak belajar dan jangan pernah mengukur kemampuan Anda dari masa kerja karena karier adalah sebuah proses yang tidak akan bisa dipelajari dalam waktu singkat. Wawancara merupakan tahap awal yang harus dikuasai dengan memadai, sebelum dapat melangkah pada porsi karier yang lebih jauh. Dengan begitu, Anda baru akan paham seberapa penting keseriusan yang membedakan antara wawancara dengan sebuah sandiwara. Semoga bermanfaat!***

Medan, 27 Desember 2011

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com