"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Wednesday, May 02, 2012

Problematik Plagiarisme, Konotasi Pleidoi dan Pengaruh Reputasi Penulis



Agaknya, ingatan para penyigi fiksi di teras sastra Indonesia belum keburu tanggal tajinya dari polemik sengit yang sempat mencuat tentang kredibilitas cerpen berjudul Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang memenangkan penghargaan cerpen terbaik Kompas tahun 2010. Sekadar tumpang lintas perkara, cerpen karya penulis yang didapuk sebagai Gadjah Mada-nya sastra Indonesia itu, diduga punya “keterkaitan” yang sangat intim dengan cerpen Three Hermits karya cerpenis kondang Rusia, Leo Tolstoy (1828–1910). Ya, saya sebut saja sebagai “keterkaitan”, karena hingga saat ini pun, belum jelas juntrungnya berkenaan dengan “keterkaitan” itu, apakah memang menjurus pada corong plagiarisme, atau malah sebaliknya, justru presumsi itulah yang terlalu prematur dan ambisius untuk ditodongkan ke kening publik dan penulisnya sendiri.

Bayangkan betapa mirisnya persoalan tadi, hingga melecut Akmal Nasery Basral—penulis novel Anak Sejuta Bintang—untuk langsung mengupas habis tunas temuannya ini pada dini hari, hanya berselang beberapa jam usai menghadiri malam anugerah cerpen pilihan Kompas 2010 tanggal 27 Juni 2011 lalu. Dalam catatan yang dia posting di akun facebook-nya, Akmal menilai ada gejala kemiripan yang akut pada tataran konsep dan plot, bahkan akhiran cerita antara cerpen SGA dan cerpen Tolstoy.

Dari segi faedah intrinsiknya, keduanya sama-sama membobol tabir isu sosial tentang konteks seni peribadatan umum yang kerap diukur dengan cara berdoa yang benar. Secara esensial, mereka hendak melangsir pesan moral bahwa tujuan religiositas tidaklah tepat jika dihayati hanya sebatas syariat, yang mana mentah-mentah dilihat dari cara berdoa yang benar, dan jika terwujud pada suatu tingkat yang sempurna, maka umat yang bersangkutan akan memperoleh kemampuan untuk berjalan di atas air.

Adapun pesan moral cerita ini bukanlah lagi sesuatu yang baru, malah telanjur klise karena sudah banyak termaktub dalam cerita-cerita maupun kisah sufi yang telah lebih dulu eksis, yang juga menyatakan jika kualitas tertinggi keberagamaan adalah sekadar membuat orang bisa berjalan di air, maka ikan pun mampu melakukannya. Mungkin, tersebab menyadari keklisean ini, kedua penulis baik SGA maupun Tolstoy, sama-sama sudah memacak tiang ancang dengan menyematkan sebait takrif pada cerpennya.

Pada cerpen SGA, takrif itu dilarung di akhir cerita, dengan isinya, “Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.” Sementara pada cerpen Tolstoy, letak takrifnya persis di haluan naskah sebelum cerita dimulai, namun takrifnya hanya berupa cangkokan dari salah satu nats Alkitab, yaitu Matius 6: 7-8.

Berhubung jejak hayat Tolstoy yang jauh lebih lampau dibanding SGA, maka cerpen Tolstoy sebagai karya pertama dapat kita bebaskan dari dugaan imitasi, kendati ide—sekali lagi ide, bukan plot—karyanya sendiri juga tidak sepenuhnya orisinal karena dibiakkan dari nats Alkitab, mungkin pula terinjeksi ilham dari kisah-kisah sufi yang telah klise tersebut. Yang murni merupakan tenunan mata pena Tolstoy hanyalah plot dan akhiran cerita, yang ternyata muncul lagi “replikanya” satu abad kemudian pada cerpen garapan SGA.

Dalam observasinya, Akmal Nasery Basral mencatat sedikitnya ada 8 kesamaan ciri cerita, mulai dari penokohan, setting, plot, konflik hingga penutupnya. Sebaliknya, Edi Sembiring justru menyanggah adanya dugaan plagiarisme dengan mengusung 6 perbedaan yang tersembul pada denah ceritanya, yang sebetulnya lebih bertumpu pada jumlah tokoh yang diragamkan, latar belakang profesi tokoh, kredo dasar tokoh serta setting awal tempat tokoh sentral itu memulai cerita.

Sementara itu, pada “meja sidang” yang lain, AS Laksana justru mengandalkan takrif yang disusupkan SGA di tapak cerita untuk memutihkan tuduhan plagiarisme ini. Takrif itu dianggapnya sudah menjadi afirmasi awal bahwa cerpen yang dirakit tersebut memang bukan karya orisinal penulis.

Secara konseptual, saya tidak mungkin memaparkan observasi tersebut dengan rinci di sini. Jadi, jika pembaca membutuhkan referensi untuk komparasi kritis, kedua cerpen tersebut dapat dengan mudah disuling di internet, maupun pada Djoernal Sastra “Boemipoetra” edisi Agustus–Oktober 2011 yang bahkan dengan cermat melampirkan edisi cerpen Three Hermits dalam bahasa pabriknya, yaitu bahasa Inggris.

Kasus SGA vs Tolstoy ini pun acap membuat orang jadi teringat pada kasus sebelumnya yang hampir sama—juga terjadi di Kompas—di mana pada tanggal 30 Januari 2011, Kompas “kebablasan” dengan memuat cerpen Perempuan Tua Dalam Rashomon karya Dadang Ari Murtono (DAM) yang konon memiliki kadar kekembaran yang sangat identik dengan cerpen Rashomon karya penulis Jepang, Akutagawa Ryunosuke. Celakanya, cerpen yang telah dimuat Kompas tersebut sudah termuat sebelumnya di Lampung Post, tanggal 5 Desember 2010.

Kontan saja, protes publik pun berhamburan dalam menanggapi kerutan kasus ini. Pro dan kontra saling sabung untuk mempertahankan teritori objektivitas masing-masing. Beberapa sastrawan tenar bahkan mengecam keras sikap tercela DAM yang malah berusaha menyelamatkan pamornya hanya dengan menyebut sebuah kata “adaptasi (karya)”. Ya, kendati Kompas mencabut pemuatan cerpen ini kelang seminggu kemudian (namun tidak disebutkan alasan pencabutannya apakah karena pemuatan ganda atau jeratan plagiat), publik kadung mempertanyakan fungsi filterisasi dapur redaksi Kompas dalam mengayak kualitas cerpen yang layak muat.

Problem tersendiri yang menurut saya simpulnya masih suwir sampai saat ini adalah: (1) apa sesungguhnya standardisasi baku untuk mengetuk palu plagiarisme sastra itu sendiri; (2) dosis kemiripan seperti apa yang tepat divonis sebagai plagiarisme; dan (3) apakah kemiripan tersebut dapat begitu saja dikabulkan publik berkat adanya sebait takrif singkat yang dipagar di beranda cerita? Sama halnya dalam menetapkan pagu hukum untuk pornografi, sulit ditemukan indikator yang tepat untuk proses justifikasi pelakunya.

Tentu saja, dalam sastra tidak dapat dilakukan uji genetik untuk membuktikan kemiripan sebagaimana dalam bidang medis. Sastra adalah model penciptaan yang bersifat tekstual dan merupakan produk linguistik dengan fleksibilitas bahasa dan makna yang sangat tinggi, kalau urung disebut tak terbatas. Pada genre sastra tertentu, puisi misalnya, pakem-pakem gramatika bahkan tidak berlaku sama sekali karena telah dinetralisir oleh keberadaan majas sebagai bunga bahasa (simak puisi Afrizal Malna dengan jukstaposisinya yang sureal). Tak ayal, karakter kelenturan sastra inilah yang dapat dengan mudah dipelintir menjadi sebuah karya baru oleh para plagiator, hanya dengan mengganti kemasan arinya, ataupun melakukan substitusi diksi jika genre sastra yang direplikasi adalah puisi.

Tidak ada karya sastra yang dipatenkan, ataupun diregistrasi dalam konteks hukum HKI, menjadi suatu kepasrahan fenomena yang patut disesali. Dalam sastra, hanya ada satu cara memperoleh paten secara swadaya, yaitu ketika tulisan tersebut telah dipublikasi. Itu pun sebaiknya disertai dengan penanggalan naskah, agar orisinalitasnya tidak tersalip oleh karya orang lain yang berpeluang saling berbagi kemiripan, berhubung dalam sastra faktor kebetulan dapat saja bersifat relatif. Selain tentu, karena karya yang dikirim ke media juga mesti menuruti markah antrian, lantas siapa yang berani menduga karya semirip apa yang dapat saja muncul sebelum karya kita sempat dimuat?

Syukur-syukur jika sebuah karya dapat melejit dan dikenal luas oleh umum, sehingga identitas karya tersebut tidak hanya “terdaftar” pada media yang bersangkutan, melainkan tampil menjadi jargon publik, bahkan mewakili personifikasi dari penulis itu sendiri. Lihat saja ketenaran klausa “aku ini binatang jalang” yang tanpa saya sebut pun berasal dari siapa, Anda pasti sudah tahu nama penulisnya. Jika secara kebetulan Anda menjumpai ada tulisan lain yang menyelipkan sepatah klausa itu saja, apalagi jika dijadikan penggalan utama, secara psikologis tentu akan terbit pertautan batin menuju merek “Chairil Anwar”, dan seketika itu juga pasti akan langsung timbul pikiran bahwa telah terjadi “pengalihan” mutu kreativitas orang lain untuk menyukseskan mutu kreativitas pribadi penulisnya.

Kondisi yang sama berlaku pula untuk nama “Sukab”, yang saking tenarnya, oleh sebagian orang justru diyakini sebagai personifikasi dari SGA sendiri. Padahal, “Sukab” itu hanyalah nama fiktif yang terinspirasi dari nama salah seorang aktivis bengkel teater pimpinan Rendra, pada masa pementasan Mastodon dan Burung Kondor (1974). Nama itu kemudian diimplementasikan SGA menjadi nama tokoh dalam berbagai ceritanya, karena menurut pengakuan SGA sendiri ia malas jika harus mengarang nama baru untuk setiap cerita yang ditulisnya. SGA juga tidak menjaga konsistensi karakter tokoh “Sukab” ini, karena “Sukab” pernah dimainkan sebagai remaja 17 tahun, pemuda parlente, penggiring bola absurd, atau bahkan hanya numpang papas. Pernah juga mengalami kematian.

Begitulah keampuhan reaksi publik yang ternyata mampu bermanfaat sebagai sarang labelisasi karya yang sejatinya fana. Namun persoalannya, apakah “berkah” labelisasi semacam ini juga dapat teraup oleh para penulis yang gaung popularitasnya masih tumpul di teras publik? Kembali plagiarisme menjadi momok yang sangat berpotensi untuk “dilegalisasi” di tengah kelengahan status, bukan? Bahkan mungkin, jika disadari pun adanya kemiripan penuh, dengan modal apa seorang penulis dapat mengklaim bagian karyanya yang direpetisi orang lain, tanpa reputasi memadai?

Kesenjangan laten inilah yang perlu didempul dengan aturan tentang plagiarisme yang lebih detail, sebab kita tahu, ganjaran terhadap plagiarisme masih terlalu lunak jika nama penulis yang bersangkutan sekadar disumpal pada keran pemuatan media penderita. Sementara terlalu keji pula adanya, jika “izin publikasi” penulis tersebut malah dimatikan total, sehingga puberisasi kreativitas sebagai hak asasi manusia yang paling innocent dalam hal ini juga turut soak.

Maka, bertolak dari “chaos” ini, banyak kalangan yang mempertanyakan, mengapa cerpen Dodolitdodolitdodolibret tetap dimuat, bahkan kembali dimenangkan sebagai cerpen terbaik tahunan, meskipun sudah terjangkit protes karena mengandung “keterkaitan” yang begitu kasat mata dengan cerpen Three Hermits. Dalam kapasitas sebagai kurator senior untuk rubrik cerpen Kompas yang diyakini sebagai barometer mutu sastra koran Indonesia, benarkah mereka sama sekali tidak menyadari hal ini yang bahkan sensitivitasnya begitu jelas di mata publik? Tidakkah mereka menyimak takrif yang sudah dipaparkan SGA, yang semestinya dapat dimaknai sebagai pengakuan bahwa cerpen yang bersangkutan bukan karya orisinal? Wajar jika akhirnya sampai muncul dugaan bahwa keputusan pemuatan/pemilihan cerpen ini lebih disebabkan reputasi dan popularitas penulisnya belaka, yaitu SGA. Sebab kalau tidak, akankah Kompas tetap tertarik dan memuat cerpen “salinan” yang sama, jika penulisnya adalah “pengunjung” baru?

Sebuah pleidoi konyol datang dari Edi Sembiring yang berdalih tentang praktik contek-cantol karya SGA vs Tolstoy ini. “Ini semua kisah yang memang perlu berkali-kali dituliskan dalam judul-judul cerpen atau khotbah yang berbeda-beda. Masih dibutuhkan puluhan atau malah ribuan kisah sama sepanjang zaman untuk mengingatkan kita pada kedahsyatan atau kekuatan doa oleh karena iman.”

Jika kita mengkaji kembali komentar Edi Sembiring, terkesan seakan-akan sastra adalah sebuah produk statis yang boleh diulang-alik hanya demi mensugesti masyarakat tentang nilai-nilai kearifan hidup, sehingga kasus kemiripan cerpen SGA yang dianggapnya sebagai revitalisasi dari cerpen Tolstoy adalah siklus pembinaan sastra yang sah. Lalu, apa jadinya jika kemiripan seperti ini justru dimanipulasi oleh oknum tertentu demi profit personal? Maka di sini, terjadi kerancuan fatal dalam menyikapi kemiripan ini. Dikatakan bijak, jika kemiripan itu dinavigasikan untuk proses pencerahan sosial. Namun, kalaulah sebaliknya, bijakkah ia jika diteropong dari segi eksklusivitas karya dan kodrat kreativitas?

Jika dalam penanggulangan plagiarisme selalu dibuntuti pleidoi-pleidoi yang dikonotasikan dengan begitu halus untuk memutus “silsilah” karya, mau jadi apa fetus sastra kita ke depannya? Sementara kemiripan itu sendiri juga sangat relatif untuk dapat terjerat oleh kode etik sastra yang juga hanya dianut secara turun-temurun tanpa adanya suatu klausul resmi dan suspensi tegas.

Saat-saat seperti ini, sesungguhnya publik sangat mengharapkan SGA untuk dapat membuka suara berkaitan dengan polemik karyanya ini. Namun sang patih sastra itu ternyata cuma kalem-kalem wae. Satu-satunya yang terekspos oleh Butet Kartaredjasa—itu pun karena kebetulan duduk bersebelahan saat malam anugerah tersebut—yaitu selepas SGA turun panggung menanggung piala, dia hanya berucap singkat, “Wueleeeh... piye ta iki, bukan cerita asli kok malah menang." Kalau memang begitu, lalu mengapa dia masih mengirimkannya ke media? Mengapa ketika urat ketus publik sudah jegang parah, seorang doktor sastra malah pangling dan tiba-tiba menjadi seorang flâneur yang murtad?

Aih!***

Medan, 02 Mei 2012


* esai ini pernah dimuat di Rubrik Rebana, Harian Analisa (Medan), tanggal 20 Mei 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com