"An author should start like he knows everything, proceed like he skips nothing, and finish like he hides something." — David Tandri

Wednesday, September 19, 2012

Bagai Berharap Pedas pada Sambal



Adalah sebuah refleks tekstual, bahwa sastra telah mengalami mutasi hebat sejak berkurun-kurun regenerasi waktu. Tentu, perubahan itu membuktikan bahwa sejatinya sastra juga merupakan watak seni yang terus berbenah, walau mengharap kesempurnaan pada sastra adalah mustahil adanya.

Saya menyebut sastra sebagai watak seni, karena sastra merupakan seni-kelola sebab dan akibat yang paling progresif dibandingkan dengan ragam seni lainnya, sebut saja seni rupa, seni tari maupun seni musik. Bahkan seni drama/teater sendiri juga merupakan titisan gerak dan mimik dari skenario yang adalah buah-benih sastra.

Tata kelola sebab-akibat tersebut kemudian memungkinkan sastra melahirkan pergumulan antara tradisi dan ambisi yang disebut konflik. Selanjutnya, pada konflik inilah terkandung adanya potensi kebijaksanaan (yang direkomendasikan), atau dalam konteks sosial-budaya disebut juga dengan local wisdom. Adanya tumbuh-kembang watak ini menunjukkan bahwa sastra tak serta-merta kepolosan mata pena belaka, tetapi juga melibatkan isu-isu reaktif di dalamnya. Atas dasar keunggulan inilah, sastra hadir dan terus meremajakan wataknya menjadi sebuah pasar yang sangat menarik untuk digarap, sekaligus disingkap. Nah!

Ada pasar, tentu ada profesi, sebab tak ada pasar yang berharap tuntas seketika. Salah satu profesi jangkar pada dunia “kang-ouw” sastra adalah kritikus, yang bertugas menjamin taji kreativitas tetap bernas. Kritikus merupakan gardu mutu bagi lalu lintas sastra yang dikemudikan seorang penulis.

Pertanyaannya: seperti apakah mutu menampakkan dirinya di hadapan sastra? Sementara sastra sebagai seni, kita tahu, juga termasuk produk modis yang jangkauan seleranya tak selalu sepadan dari mata ke mata. Pun belum ada teori resmi yang mengatur soal timbang-mutu sastra. Hak prerogatif selalu bermuara pada kajian pembaca pribadi (termasuk kritikus). Jika demikian adanya, bukankah sastra telah menjerumuskan makna hakiki “kritik” yang seharusnya menjadi sumber objektivitas sebuah karya sastra? Maka ketika objektivitas gagal, sastra pun berpotensi hanya menjadi rekreasi tekstual belaka.

Ini risiko! Kita dapat melihat kesenjangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, di mana seorang kritikus yang sesungguhnya adalah pemufakat kritik yang subjektif, mencoba mengurai urat-sendi karya sastra yang presisi mutunya justru bersifat relatif! Seperti apakah karya sastra yang bagus, dan mana pula yang tak bagus? Tak ada yang mampu menjawab, selain hanya dapat “pasrah” dengan selalu mengumbar-umbar bahwa keberadaan karya sastra memang penting, terutama bagi dinamika kehidupan sosial yang binal.

Ketiadaan pedoman mutu yang berujung pada ketiadaan prosedur kritik yang baku, sedikit banyak membuat kritikus gagal berkritik dengan tepat. Perbedaan sudut pandang kritikus bisa jadi melewatkan dan menyia-nyiakan bibit kritis sebuah karya, dikarenakan masing-masing kandungan utamanya tidak kebagian porsi kajian dan pendalaman yang seimbang.

Pada genre cerpen misalnya, sebagian kritikus bahkan cukup “nekat” untuk merilis sebuah kritik hanya berancangkan kajian terhadap plot mentah (plot bawaan dari cerpen), artinya kritikus hanya merintis kritiknya berdasarkan arus-arus plot yang kasat mata. Plot yang sudah ada hanya direkondisi dengan simpulan nalarnya sendiri, yaitu menceritakan ulang tokoh, konflik dan suasana yang tanpa dikritik pun sebenarnya pembaca sudah tahu jelas apa yang dimaksud.

Seorang kritikus dituntut kepekaan empirisnya dalam menggunakan sekaligus kacamata ekstrinsik dan kacamata intrinsik, bukan hanya melakukan visualisasi terhadap teks! Bukankah sebuah tulisan yang baik, tak perlu lagi menyebut kata “marah” untuk menggambarkan kondisi marah? Jadi untuk apa kemarahan itu dibahas jika sudah sedemikian gamblangnya dapat teridentifikasi mata telanjang orang awam sekalipun?

Idealnya, kritik sastra itu menggabungkan inteligensi sastra itu sendiri dan juga inteligensi sosial. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, sastra adalah sebuah watak seni yang di dalamnya terkandung mekanika konflik dan psikis. Jadi sesungguhnya sastra tak semata-mata mengajarkan pesan kearifan, tapi juga risiko! Risiko inilah yang perlu dianalisis rantai sebab-akibatnya dengan menggunakan inteligensi sosial berdasarkan logika konflik yang diciptakan oleh cerpenis. Jika ini berhasil, maka sastra dapat memaksimalkan peran edukatifnya sebagai tindak pencegahan (preventif), bukan lagi sekadar berupa “retorika” fiktif belaka!

Itu sebabnya saya sangat setuju dengan Yulhasni yang berpendapat bahwa kritik sastra perlu dipublikasikan dengan siklus yang lebih awet, kalau perlu dibukukan. Ya, kita memang perlu memperpanjang daur hidup sastra agar tidak sekadar dimuat, dikritik, lalu diloak. Itu pun haruslah kritik yang betul-betul menghasilkan kejelian sastrawi, karena itulah yang membedakan hakikat “profesi” dengan “konsumsi” (kritikus dengan pembaca/publik). Profesi bekerja dengan data (riset), sementara konsumen bekerja dengan naluri (insting). Jangan sampai kedua posisi ini bertukar hanya karena kritikus lebih menggunakan insting daripada data (riset), karena hanya itulah satu-satunya pendekatan terbaik untuk menyelamatkan kritikus dari kegamangan spesifikasi mutu sastra.

Memang, ketika mutu jadi kekangan, kritik bukan lagi suatu pekerjaan mudah. Ganjarannya adalah polemik. Namun bukan berarti pula kritik itu harus dimudahkan, bagai berharap pedas pada sambal. Bukan pekerjaan kritikus untuk meneliti sifat-sifat yang sudah ada/tersedia, melainkan apa yang dapat digali, diciduk, bahkan disaring dari muatan-muatan laten yang belum kelihatan.

Lihat cerpen “Cut Merampok Tuhan” karya S Satya Dharma (Rebana, 26 Agustus 2012). Sepintas sudut, pembaca tentu akan berpikir bahwa cerpen itu tak lebih dari kisah cinta picisan belaka, rewel, bahkan judulnya tidak relevan. Sekali lagi, itu kalau sepintas, jika dikilas secara kasat mata. Namun siapa sangka, S Satya Dharma justru menggunakan teknik yang begitu cerdas dalam mengimplementasikan visi cerpennya?

Kisah cinta itu hanya dimanfaatkan sebagai tameng untuk menggiring latar peristiwa yang sesungguhnya jauh lebih tragis ke hadapan pembaca, yaitu gejolak sosial (akibat kudeta GAM) yang bahkan tak mampu mengizinkan hak hidup paling sederhana untuk tumbuh sedikit pun, yaitu “cinta” (perdamaian). S Satya Dharma hendak mengkritik kegagalan peradaban modern yang makin jauh dari belas-simpati dan rasa tanggung jawab, dibuktikan dengan ungkapan, “Peradaban macam apa yang membiarkan orang-orang menderita atas nama cinta?”.

Mengenai judul, S Satya Dharma juga sangat piawai “mengelabui” pembaca, antara makna “menggugat” dengan “merampok”. Perampokan apa yang dilakukan oleh Cut, sementara di sepanjang cerita Cut hanya sibuk menggugat nasib dan Tuhan? Padahal morfem “Cut” lebih mengacu pada personifikasi dari Aceh (NAD) daripada sesosok wanita, yang kemelut perangnya telah merampok “Tuhan” yang ternyata adalah personifikasi dari keadilan (bukankah Tuhan Maha Pengadil?). Kehilangan keadilan dipersepsikan sebagai kehilangan “Tuhan”, alih-alih mengira “Tuhan” itu sebagai simbolisasi agama! Dan yang terpenting adalah S Satya Dharma telah mengingatkan kita akan risiko perang, bukan risiko asmara!

Cerpen di atas hanyalah satu contoh bias dari sekian banyak cerpen yang memerlukan interpretasi serius dan saksama, agar mata panah kritik tidak salah sasaran dan justru mencederai tujuan karya itu sendiri.

Tak dapat dipungkiri, kegagapan dalam apresiasi sastra tak lepas dari andil kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia dalam mengajarkan teknik apresiasi yang keliru. Saya teringat betul dengan tugas apresiasi sastra di sekolah, ketika masih menyadap ilmu di bangku SMA. Betapa menyedihkan, ketika siswa hanya diajarkan untuk mengkaji unsur-unsur intrinsik karya sastra dengan mencari kata kunci yang langsung terpapar pada badan teks, semisal “Ayahnya sombong” (dianggap sebagai watak tokoh), “udaranya sejuk” (dianggap sebagai suasana), atau “berdiam di kaki gunung” (dianggap sebagai setting). Jika tujuan apresiasi karya sastra hanya untuk menyisir kulit ari paragraf dan sisik cerita, buat apa pula ada kritikus? Cukup sajalah editor!

Pencarian kata kunci seperti itu juga telah menyebabkan siswa menjadi pasif dan cenderung silap dalam mengenali watak tokoh, padahal watak tokoh yang paling akurat baru dapat ditentukan ketika tokoh mulai menghadapi intervensi konflik, karena itulah titik di mana tingkat kebijaksanaan tokoh dinilai. Jadi bukan “kesombongannya” yang perlu untuk dinotifikasi.

Tak ayal, dengan teknik pengajaran seperti itu, sejak dini siswa sudah berkesan jenuh pada sastra, dan akhirnya berkembang menjadi stigma bahwa sastra sudah dianggap selesai apabila “morfologi teks” sebuah karya sudah habis diidentifikasi. Tak ada peluh analisis yang menetes di situ. Sederhana dan (hampir) tidak berkhasiat apa-apa! Maka jangan heran bila mayoritas lulusan sekolah formal lebih mahir menulis surat lamaran kerja daripada menulis sebuah cerita.

Efeknya masih berlanjut, ketika daya selam kritik sastra yang dangkal membuat mutu penulis dalam berkarya ikut melorot. Ditambah lagi, orientasi pesan sastra yang ambigu telah menyebabkan persepsi bahwa sastra itu bersifat fleksibel, dapat dimaknai sesuka hati sesuai selera pembaca. Ini tercermin paling jelas pada genre puisi. Karena bentuknya yang paling singkat dibanding prosa, banyak penulis yang memanfaatkan celah “kemudahan” ini dan faktor “kebebasan” sastra untuk menulis puisi asal jadi dan asal galau, dengan ungkapan-ungkapan kontras yang akhirnya terjebak oksimoron konyol, lalu berlindung di balik fleksibilitas sastra itu sendiri.

Setidak-tidaknya, inilah peringatan bagi kita, betapa vitalnya peran kritikus sebagai cagar sastra dalam menjaga dan mengulas komposisi karya secara benar, sebab tanpa kita sadari, kritik mereka kerap dijadikan sebagai tolok ukur bagi penulis pemula dalam menaksir jenjang mutu karyanya. Kedangkalan kritik tentu akan menghasilkan didikan sastra yang tumpul pula. Kita jelas tak berharap, juga tak puas, jika di tengah pamor pasar yang terus berbenah, sastra hanya dikenang sebatas sengat pedas pada sambal, jauh meninggalkan alu-lesung dan rempah-bumbunya.***

Medan, 19 September 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com